Saat pertama kali didiagnosis kanker, fokus utama biasanya tertuju pada pengobatan dan proses pemulihan. Namun, di balik itu, ada satu hal yang juga penting untuk dipertimbangkan, yaitu dampak terapi kanker terhadap kesuburan pria.
Terapi kanker dapat memengaruhi jumlah, kualitas, hingga proses pembentukan sperma. Dampaknya pun dapat bersifat sementara maupun permanen, tergantung pada jenis kanker dan terapi yang dijalani.
Karena itu, penting untuk memahami risikonya serta pilihan yang tersedia untuk menjaga kesuburan sebelum memulai pengobatan. Simak penjelasannya berikut ini.
Bagaimana Efek Samping terapi Kanker terhadap Kesuburan Pria?
Terapi kanker dapat memengaruhi kesuburan pria melalui berbagai mekanisme, tergantung pada jenis kanker, usia pasien, jenis terapi, dan dosis pengobatan yang diberikan. Gangguan kesuburan umumnya terjadi akibat penurunan jumlah maupun kualitas sperma.
Berdasarkan penelitian dari Fertility and Sterility (2021), berikut adalah efek samping terapi kanker pada kesuburan pria:
- Kemoterapi: Obat kemoterapi menargetkan sel-sel yang membelah dengan cepat, termasuk sel induk sperma (spermatogonia). Akibatnya, produksi sperma dapat terganggu sehingga jumlah dan kualitas sperma menurun.
- Terapi hormon: Umumnya digunakan untuk mengobati kanker prostat dengan cara menekan kadar testosteron yang sangat dibutuhkan untuk produksi sperma (spermatogenesis).
- Radioterapi: Efek radioterapi sangat bergantung pada dosis radiasi yang diterima. Semakin tinggi dosisnya, semakin besar risiko terjadinya kerusakan permanen pada sel-sel penghasil sperma yang terpapar radiasi.
- Tindakan bedah: Prosedur bedah, seperti orkidektomi (pengangkatan salah satu atau kedua testis), kerusakan saraf retroperitoneal yang mengontrol ejakulasi, atau terbentuknya jaringan parut pada saluran sperma dapat mengganggu proses produksi dan pengeluaran sperma.
Menariknya, pada beberapa kasus, kanker itu sendiri juga dapat menurunkan kualitas sperma bahkan sebelum pengobatan dimulai, terutama pada kanker testis dan limfoma Hodgkin.
Peluang Pemulihan Kesuburan setelah Terapi Kanker
Apakah gangguan kesuburan akibat terapi kanker bersifat permanen? Jawabannya tidak selalu. Pada sebagian pasien, fungsi reproduksi dapat kembali pulih setelah pengobatan selesai, terutama jika dosis yang digunakan relatif rendah dan kerusakan pada organ reproduksi tidak terlalu berat.
Selain itu, pemulihan kesuburan juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia pasien, jenis kanker, serta jenis terapi yang dijalani.
Contohnya, pada kemoterapi dosis rendah, sebagian sel induk sperma masih bisa bertahan sehingga produksi sperma dapat pulih seiring waktu setelah terapi selesai. Selain itu, pasien berusia muda umumnya memiliki peluang pemulihan yang lebih baik karena fungsi reproduksinya lebih optimal.
Meski demikian, pada beberapa kasus, terapi kanker juga dapat menyebabkan gangguan kesuburan jangka panjang hingga permanen, terutama pada terapi dengan dosis tinggi atau paparan radiasi pada area reproduksi.
Baca juga: Jenis Pengobatan Kanker Payudara dan Efek Sampingnya!
Cara Mempertahankan Fungsi Reproduksi Pria
Terapi kanker memang dapat mengganggu kesuburan dan fungsi reproduksi pria. Namun, tahukah kamu bahwa ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mempertahankan fungsi reproduksi pria dan meningkatkan peluang memiliki keturunan di masa depan?
Berikut adalah beberapa prosedur yang umumnya disarankan oleh dokter:
- Pembekuan sperma (sperm cryopreservation/sperm banking): Pembekuan sperma dilakukan dengan menyimpan sperma pada suhu sangat rendah agar tetap dapat digunakan di kemudian hari untuk program kehamilan. Metode ini menjadi gold standard dalam fertility preservation pria karena telah terbukti membantu mewujudkan kehamilan dan kelahiran hidup. Idealnya, prosedur ini dilakukan sebelum pasien menjalani kemoterapi atau radioterapi untuk mendapatkan kualitas sperma yang optimal.
- Gonadal shielding: Merupakan metode perlindungan testis selama radioterapi menggunakan pelindung khusus untuk mengurangi paparan radiasi pada organ reproduksi pria.
- Bedah pengambilan sperma (surgical sperm retrieval): Prosedur ini dilakukan pada pasien yang kesulitan mengeluarkan sperma secara alami, memiliki jumlah sperma yang sangat rendah, atau tidak ditemukan sperma dalam air mani (azoospermia). Setelah itu, sperma yang diperoleh dapat dibekukan untuk digunakan di masa depan.
Meskipun metode-metode di atas terbukti efektif, penting untuk diingat bahwa setiap pasien memiliki kondisi kesehatan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, manfaat dan risiko dari setiap prosedur harus didiskusikan secara mendalam dengan dokter sebelum memulai terapi kanker.
Pertimbangan sebelum Merencanakan Kehamilan Pascaterapi Kanker
Setelah terapi kanker selesai, banyak pria mungkin ingin segera merencanakan kehamilan dengan pasangannya. Namun, kapan waktu yang tepat untuk memulai program kehamilan pascaterapi kanker?
Pada dasarnya, keputusan ini sangat bergantung pada tiga faktor utama, yakni status kanker, kondisi kesehatan secara keseluruhan, dan kualitas sperma pascaterapi. Ketiganya perlu dievaluasi secara menyeluruh sebelum pasangan memutuskan untuk memulai program kehamilan.
Oleh karena itu, pria yang baru menyelesaikan kemoterapi dan/atau radioterapi biasanya dianjurkan untuk menunda pembuahan alami dan wajib menggunakan kontrasepsi selama minimal 1 hingga 2 tahun setelah seluruh rangkaian terapi selesai.
Setelah melewati masa tersebut, risiko kelainan bawaan pada bayi umumnya tidak lebih tinggi dibandingkan populasi umum apabila kualitas sperma telah kembali baik dan kondisi kesehatan pasien stabil.
Oleh karena itu, perencanaan kehamilan setelah terapi kanker sebaiknya dilakukan melalui konsultasi dengan dokter spesialis onkologi dan dokter spesialis andrologi atau fertilitas agar keputusan yang diambil lebih aman dan sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.
Baca juga: Apakah Penderita Kanker Serviks Bisa Hamil? Ini Penjelasannya
Dampak Emosional yang Sering Diabaikan
Selain memengaruhi kondisi fisik, terapi kanker juga dapat memberikan dampak emosional yang tidak ringan, terutama ketika berkaitan dengan kesuburan dan fungsi reproduksi pria.
Kekhawatiran mengenai peluang memiliki keturunan, perubahan rasa percaya diri, hingga dinamika hubungan dengan pasangan sering kali menjadi beban psikologis yang tidak terlihat, namun nyata dirasakan oleh pasien.
Perasaan cemas, sedih, marah, atau kehilangan harapan merupakan hal yang wajar selama menjalani proses pengobatan. Namun, penting untuk diingat bahwa kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Jika kecemasan ini mulai terasa berat, kamu bisa mengonsultasikan kondisi emosionalmu
melalui layanan Psiko-onkologi.
Di Kaiser Cancer Center, layanan ini membantu pasien menghadapi tantangan emosional selama terapi kanker melalui pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu, seperti konseling, terapi CBT (Cognitive Behavioral Therapy), maupun teknik relaksasi.
Pendampingan yang tepat tidak hanya membantu menjaga kesehatan mental, tetapi juga dapat meningkatkan kualitas hidup selama menjalani pengobatan dan proses pemulihan.
Setiap langkah perjuanganmu layak didampingi dengan perhatian dan penanganan yang tepat bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.
Baca juga: Financial Toxicity: Tekanan Ekonomi pada Penderita Kanker
Referensi:
- ESMO Clinical Practice Guidelines. Fertility Preservation and Post-Treatment Pregnancies in Post-pubertal Cancer Patients: ESMO Clinical Practice Guidelines. Diakses pada 2026.
- Fertility and Sterility. Fertility Preservation in Men: A Contemporary Overview and a Look Toward Emerging Technologies. Diakses pada 2026.
- American Society for Reproductive Medicine (ASRM). Fertility Preservation in Patients with Medical Indications: A Committee Opinion. Diakses pada 2026.
- Journal of Clinical Oncology. Fertility Preservation in People With Cancer: ASCO Guideline Update. Diakses pada 2026.








