Jika kamu baru saja didiagnosis menderita kanker, apakah terapi yang pertama kali muncul di pikiranmu adalah kemoterapi?
Sebagian besar orang mungkin menganggap kemoterapi adalah satu-satunya pengobatan, padahal ada berbagai pengobatan kanker lain yang sering kali juga direkomendasikan oleh dokter, baik sebagai terapi tunggal maupun dikombinasikan dengan kemoterapi.
Setiap metode memiliki cara kerja, tujuan, serta efektivitas yang berbeda. Oleh karena itu, terapi dipilih berdasarkan jenis kanker, stadium, dan kondisi pasien secara keseluruhan. Lantas, apa saja metode penanganan kanker yang umum digunakan? Simak penjelasannya berikut ini.
Apa Itu Terapi Kanker?
Terapi kanker adalah rangkaian pengobatan untuk mengendalikan perkembangan penyakit, baik dengan memperlambat maupun menghentikan pertumbuhan sel kanker sepenuhnya.
Meski begitu, rangkaian terapi yang diberikan tidak bisa disamaratakan pada setiap pasien kanker. Pasalnya, masing-masing jenis kanker memiliki karakteristik tersendiri sehingga respons pengobatannya pun akan berbeda-beda.
Oleh karena itu, pemilihan prosedur terapi harus diputuskan dengan pertimbangan dari berbagai sudut pandang medis. Salah satunya adalah dengan menerapkan pendekatan Multidisciplinary Team (MDT), yaitu kolaborasi berbagai dokter spesialis untuk menyusun rencana pengobatan yang paling sesuai bagi pasien.
Jenis-Jenis Terapi Kanker: Menemukan Jalan Menuju Kesembuhan
Setiap terapi dirancang untuk menargetkan kanker dengan cara yang berbeda, tergantung pada kondisi pasien dan jenis kanker yang diderita. Berikut adalah beberapa jenis terapi kanker yang umum digunakan.
1. Operasi
Jika kanker ibarat benalu yang belum menyebar, operasi adalah cara tercepat untuk mengangkatnya. Namun, perlu diingat bahwa keberhasilan operasi sangat bergantung pada jenis, lokasi, serta stadium kanker itu sendiri.
Itulah kenapa sebelum mengambil keputusan untuk operasi, dokter perlu melihat gambaran besarnya terlebih dahulu, mulai dari kondisi fisik pasien, penyebaran kanker, hingga kesiapan tubuh untuk menjalani prosedur. Dari sanalah langkah pengobatan yang paling tepat bisa ditentukan.
Baca juga: Biopsi Serviks, Inilah Jenis dan Prosedurnya!
2. Kemoterapi
Kemoterapi bekerja dengan cara menggunakan obat-obatan khusus (sitotoksik) untuk menghancurkan atau menghambat pertumbuhan sel-sel kanker. Obat-obatan tersebut beredar melalui aliran darah sehingga bisa menjangkau sel kanker di berbagai bagian tubuh.
Namun, karena efek obatnya yang kuat, kemoterapi juga bisa memengaruhi sel sehat yang tumbuh dengan cepat, seperti di area rambut, darah, dan pencernaan. Inilah yang menyebabkan penderita kanker sering kali mengalami efek samping, seperti rambut rontok, mual, hingga penurunan sistem kekebalan tubuh.
Dokter bisa memberikan kemoterapi sebagai langkah pengobatan utama, pendamping sebelum operasi (neoadjuvan), atau pelengkap setelah operasi (adjuvan) untuk mengurangi risiko kekambuhan. Tim medis juga akan menentukan jenis dan dosis obat berdasarkan jenis kanker, stadium, serta kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh.
3. Radioterapi
Bayangkan sebuah teknologi yang mampu menghentikan kanker tepat di pusat komandonya. Inilah radioterapi, yakni metode terapi sinar untuk kanker yang memanfaatkan radiasi berenergi tinggi, seperti sinar-X, untuk menghancurkan sel kanker. Terapi ini bekerja dengan merusak materi genetik (DNA) sel kanker sehingga sel tersebut tidak dapat tumbuh dan akhirnya mati.
Adapun metode pemberiannya bisa berbeda, tergantung kebutuhan pasien. Dokter dapat memberikan paparan radiasi ini melalui mesin dari luar tubuh (radiasi eksternal) maupun dengan menempatkan sumber radiasi langsung di dalam tubuh (radiasi internal/brachytherapy).
Menariknya, efek samping radioterapi ini cenderung terlokalisasi di area yang disinari saja. Pasien mungkin akan merasa lebih cepat lelah atau mengalami iritasi kulit pada area tersebut, tergantung di mana lokasi terapinya.
Baca juga: Skrining Kanker, Jangan Tunggu Hingga Gejala Muncul!
4. Terapi Hormon
Beberapa jenis kanker, seperti kanker payudara dan kanker prostat, sangat bergantung pada hormon untuk tumbuh. Di sinilah terapi hormon berperan dengan cara menurunkan produksi hormon atau menghalangi kerja hormon pada sel kanker.
Biasanya, dokter menyarankan terapi ini sebagai pengobatan tambahan setelah operasi atau radioterapi guna mencegah risiko kekambuhan.
Namun, perlu diingat bahwa tidak semua kanker dipengaruhi oleh hormon. Oleh karena itu, dokter akan memastikan keberadaan reseptor hormon pada sel kanker untuk menentukan apakah terapi ini merupakan solusi yang tepat.
5. Imunoterapi
Berbeda dengan terapi lain yang menyerang sel kanker secara langsung, imunoterapi justru bekerja dengan “melatih” sistem kekebalan tubuh kita sendiri untuk mengenali dan menyerang sel kanker secara lebih efektif.
Cara kerjanya pun beragam. Ada imunoterapi yang bekerja dengan “melepas rem” (checkpoint) pada sistem imun agar kembali aktif melawan kanker. Ada juga yang membantu memperkuat kemampuan sel imun sehingga dapat mengenali dan menargetkan sel kanker dengan lebih spesifik.
Beberapa jenis imunoterapi yang umum digunakan antara lain:
- Checkpoint inhibitor.
- Terapi sel (CAR-T).
- Antibodi monoklonal.
Dokter sering kali mengombinasikan metode ini dengan kemoterapi untuk memberikan hasil pengobatan yang lebih maksimal bagi pasien.
6. Terapi Target
Terapi target kanker bekerja dengan cara mengganggu mekanisme tertentu yang membuat sel kanker bisa tumbuh dan berkembang.
Pada dasarnya, pertumbuhan kanker sering dipicu oleh perubahan genetik yang menghasilkan protein abnormal. Nah, terapi ini dirancang untuk menargetkan protein tersebut agar tidak lagi mendorong perkembangan kanker.
Berbeda dengan kemoterapi yang cenderung bekerja secara sistemik terhadap semua sel aktif, terapi target bersifat lebih selektif sehingga dampak negatif pada sel sehat bisa jauh lebih kecil.
Pendekatan ini biasanya digunakan pada pasien dengan jenis kanker yang memiliki mutasi tertentu sehingga pengobatan bisa lebih tepat sasaran.
7. Transplantasi Sel Punca dan Sumsum Tulang
Transplantasi sel punca (stem cell transplant) dan sumsum tulang bertujuan menggantikan sel-sel pembentuk darah yang rusak dengan sel yang sehat. Biasanya, prosedur ini dilakukan setelah pasien menjalani kemoterapi atau radioterapi yang secara tidak sengaja ikut merusak sumsum tulang saat sedang membasmi sel kanker.
Sel punca dapat berasal dari pasien sendiri (autologous) atau donor (allogeneic), lalu dimasukkan ke dalam aliran darah untuk membantu memulihkan fungsi sumsum tulang dan membentuk sel darah baru. Terapi ini umumnya digunakan pada kanker yang berkaitan dengan darah, seperti leukemia, limfoma, dan mieloma.
Karena ini adalah prosedur yang besar, pemantauan ketat sangatlah krusial. Tim medis akan berjaga penuh untuk mencegah risiko infeksi atau reaksi penolakan tubuh terhadap sel donor, demi memastikan proses pemulihan berjalan seaman mungkin.
8. Terapi Radioisotop
Terapi radioisotop adalah terapi kanker menggunakan zat radioaktif untuk menghancurkan sel kanker di dalam tubuh. Zat ini dapat diberikan melalui minuman, kapsul, atau suntikan, lalu akan beredar dalam aliran darah dan menargetkan sel kanker.
Begitu zat ini diserap, sel kanker akan terpapar radiasi dosis tinggi yang merusak kemampuan mereka untuk tumbuh. Sementara itu, jaringan sehat di sekitarnya relatif menerima paparan yang lebih rendah.
Terapi ini sering digunakan pada kanker tertentu, seperti kanker tiroid serta beberapa jenis kanker yang menyebar ke tulang.
Baca juga: Jenis Pengobatan Kanker Payudara dan Efek Sampingnya!
9. Terapi Ablasi
Terapi ablasi menawarkan cara unik untuk menghancurkan sel kanker, yaitu dengan menggunakan suhu ekstrem, baik panas maupun dingin sehingga tidak memerlukan sayatan besar seperti operasi biasa.
Caranya pun beragam, tergantung kebutuhan pasien. Berikut adalah beberapa jenis terapi ablasi:
- Cryoablation untuk membekukan sel kanker dengan suhu sangat rendah.
- Terapi laser memanfaatkan cahaya berenergi tinggi untuk merusak jaringan kanker.
- Radiofrequency atau microwave ablation menggunakan energi listrik untuk menghasilkan panas dan menghancurkan sel kanker.
Terapi ini sering kali digunakan untuk mengecilkan ukuran tumor sehingga dapat membantu meredakan gejala dan mendukung kualitas hidup pasien.
Melawan Kanker dengan erapi yang Tepat
Menjalani terapi kanker memang bukanlah proses yang mudah, baik secara fisik maupun emosional. Namun, kemajuan teknologi medis saat ini memberikan harapan baru bagi setiap pasien untuk melawan penyakitnya.
Dengan kombinasi perawatan yang tepat serta dukungan dari keluarga dan tenaga medis, peluang untuk mengendalikan penyakit dan meningkatkan kualitas hidup pasien pun semakin besar.
Untuk mendapatkan pengobatan yang komprehensif, Terapi Kanker di Kaiser Cancer Center dapat menjadi pilihan yang tepat. Selain terapi utama ini, tersedia juga layanan Manajemen Nyeri untuk mengelola efek samping terapi kanker. Dengan begitu, pasien dapat menjalani proses pengobatan dengan lebih nyaman dan memiliki kualitas hidup yang lebih optimal.
Setiap rencana terapi disusun secara individual berdasarkan kondisi kesehatan pasien dan evaluasi menyeluruh oleh berbagai dokter spesialis. Jadi, mari wujudkan langkah perawatan yang tepat bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.









