Jika kamu baru saja didiagnosis menderita kanker, apakah kemoterapi adalah hal pertama yang muncul di pikiranmu? Terapi kanker sebenarnya terdiri dari 9 metode utama, mulai dari operasi, kemoterapi, radioterapi, hingga imunoterapi dan terapi target, yang dipilih dan sering dikombinasikan berdasarkan jenis kanker, stadium, serta kondisi pasien.
Setiap metode memiliki cara kerja, tujuan, serta efektivitas yang berbeda. Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini untuk mengetahui apa saja jenis terapi kanker yang umum digunakan dan bagaimana gambarannya.
Perbedaan Terapi Lokal vs. Terapi Sistemik
Terapi sistemik adalah pengobatan kanker yang bekerja ke seluruh tubuh lewat aliran darah, sementara terapi lokal hanya menargetkan area tertentu tempat kanker berada. Keduanya mencakup sembilan metode pengobatan kanker, yaitu:
- Terapi lokal: operasi kanker, radioterapi, dan terapi ablasi, yang umumnya dilakukan untuk kanker yang belum menyebar luas dari lokasi asalnya.
- Terapi sistemik: kemoterapi, terapi hormon, imunoterapi, terapi target, transplantasi sel punca, dan terapi radioisotop, yang dapat digunakan untuk kanker yang sudah menyebar atau berisiko kambuh di bagian tubuh lain.
Apa Itu Terapi Kanker?
Terapi kanker adalah rangkaian pengobatan untuk mengendalikan perkembangan penyakit, baik dengan memperlambat maupun menghentikan pertumbuhan sel kanker atau menghilangkannya.
Rangkaian terapi yang diberikan tidak bisa disamaratakan pada setiap pasien karena masing-masing jenis kanker memiliki karakteristik tersendiri sehingga respons pengobatannya pun berbeda-beda.
Pemilihan terapi kanker karenanya perlu dipertimbangkan dari berbagai sudut pandang medis, salah satunya lewat pendekatan Multidisciplinary Team (MDT), yaitu kolaborasi berbagai dokter spesialis untuk menyusun rencana pengobatan yang paling sesuai bagi pasien.
Jenis-Jenis Terapi Kanker
Setiap terapi dirancang untuk menargetkan kanker dengan cara yang berbeda, tergantung pada kondisi pasien dan jenis kanker yang diderita. Berikut adalah beberapa jenis terapi kanker yang umum digunakan.
1. Operasi Kanker
Jika kanker ibarat benalu yang belum menyebar, operasi kanker adalah salah satu cara untuk mengangkat tumor secara langsung. Keberhasilan operasi sangat bergantung pada jenis, lokasi, serta stadium kanker itu sendiri sehingga dokter perlu melihat gambaran besarnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.
Biaya operasi kanker bervariasi tergantung jenis kanker, kompleksitas prosedur, serta fasilitas yang digunakan sehingga sebaiknya didiskusikan langsung dengan dokter dan tim rumah sakit sejak konsultasi awal.
Baca juga: Operasi Kanker Payudara, Inilah Pilihan Tindakannya!
2. Kemoterapi
Kemoterapi kanker bekerja dengan menggunakan obat-obatan khusus (sitotoksik) untuk menghancurkan atau menghambat pertumbuhan sel-sel kanker. Obat-obatan tersebut beredar melalui aliran darah sehingga bisa menjangkau sel kanker di berbagai bagian tubuh, inilah sebabnya kemoterapi tergolong terapi sistemik.
Karena efek obatnya yang kuat, proses kemoterapi juga bisa memengaruhi sel sehat yang tumbuh cepat, seperti sel di folikel rambut, sumsum tulang, dan saluran pencernaan sehingga menimbulkan efek samping, seperti rambut rontok, mual, hingga penurunan jumlah sel darah.
Dokter bisa memberikan kemoterapi sebagai langkah pengobatan utama, pendamping sebelum operasi (neoadjuvan), atau pelengkap setelah operasi (adjuvan), dengan jenis dan dosis obat yang ditentukan berdasarkan jenis kanker, stadium, serta kondisi kesehatan pasien.
Baca juga: Apakah Kemoterapi Itu Sakit? Ini yang Perlu Kamu Pahami
3. Radioterapi
Radioterapi adalah metode terapi sinar untuk kanker yang memanfaatkan radiasi berenergi tinggi, seperti sinar-X, untuk menghancurkan sel kanker. Terapi ini bekerja dengan merusak materi genetik (DNA) sel kanker sehingga sel tersebut tidak dapat tumbuh dan akhirnya mati.
Metode pemberiannya bisa berbeda tergantung kebutuhan pasien. Dokter dapat memberikan paparan radiasi melalui mesin dari luar tubuh (radiasi eksternal) maupun dengan menempatkan sumber radiasi langsung di dalam tubuh (radiasi internal/brachytherapy). Efek samping radioterapi cenderung muncul pada area yang disinari, seperti rasa lelah atau iritasi kulit, tergantung lokasi terapinya.
Baca juga: Efek Samping Terapi Kanker: Bisakah Mengganggu Kesuburan Wanita?
4. Terapi Hormon
Beberapa jenis kanker, seperti kanker payudara dan kanker prostat, sangat bergantung pada hormon untuk tumbuh. Terapi hormon bekerja dengan menurunkan produksi hormon atau menghalangi kerja hormon pada sel kanker, dan biasanya dapat diberikan sebagai pengobatan tambahan setelah operasi atau radioterapi guna mencegah risiko kekambuhan.
Efek samping terapi hormon bervariasi tergantung jenis obat yang digunakan, mulai dari gejala mirip menopause hingga perubahan suasana hati.
Tidak semua kanker dipengaruhi hormon sehingga dokter akan memastikan keberadaan reseptor hormon pada sel kanker untuk menentukan apakah terapi ini sesuai. Sementara itu, biaya terapi hormon dapat bervariasi tergantung jenis obat dan durasi pengobatan
Baca juga: Terapi Hormon Kanker Payudara: Inilah Manfaat dan Cara Kerjanya
5. Imunoterapi
Berbeda dengan terapi lain yang menyerang sel kanker secara langsung, imunoterapi justru bekerja dengan bekerja dengan membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan menyerang sel kanker secara lebih efektif.
Ada imunoterapi yang bekerja dengan menargetkan mekanisme “checkpoint” pada sistem imun agar respons imun kembali aktif melawan kanker, ada juga yang memperkuat kemampuan sel imun agar dapat mengenali dan menargetkan sel kanker dengan lebih spesifik.
Beberapa jenis imunoterapi yang umum digunakan antara lain checkpoint inhibitor, terapi sel (CAR-T), dan antibodi monoklonal. Dokter dapat mengombinasikan metode ini dengan kemoterapi pada kondisi tertentu, tergantung jenis kanker dan tujuan pengobatan.
Baca juga: Imunoterapi Kanker Payudara: Cara Kerja, Jenis, dan Manfaatnya
6. Terapi Target
Terapi target kanker bekerja dengan mengganggu mekanisme tertentu yang membuat sel kanker dapat tumbuh dan berkembang.
Berbeda dengan kemoterapi yang bekerja secara luas pada sel yang aktif membelah, terapi target bersifat lebih selektif sehingga dampak terhadap sel sehat bisa jauh lebih kecil. Meski demikian, efek samping terapi target tetap bisa muncul, seperti masalah kulit, tekanan darah tinggi, atau gangguan pembekuan darah, tergantung jenis obat yang digunakan.
Biaya terapi target kanker umumnya tergolong lebih tinggi dibanding kemoterapi konvensional karena sebagian terapi target dirancang untuk menyasar mutasi genetik tertentu. Pendekatan ini biasanya digunakan pada pasien dengan jenis kanker yang memiliki target atau biomarker tertentu, sehingga pengobatan bisa lebih tepat sasaran.
Baca juga: Mengenal Terapi Kanker: Perbedaan Kemoterapi, Terapi Target, dan Imunoterapi
7. Transplantasi Sel Punca dan Sumsum Tulang
Transplantasi sel punca (stem cell transplant) dan sumsum tulang bertujuan memulihkan sel-sel pembentuk darah yang rusak dengan sel yang sehat. Biasanya, prosedur ini dilakukan setelah pasien menjalani kemoterapi atau radioterapi yang dapat merusak sumsum tulang saat sedang membasmi sel kanker.
Sel punca dapat berasal dari pasien sendiri (autologous) atau donor (allogeneic), lalu dimasukkan ke dalam aliran darah untuk membantu memulihkan fungsi sumsum tulang dan membentuk sel darah baru.
Terapi ini umumnya digunakan pada kanker yang berkaitan dengan darah, seperti leukemia, limfoma, dan mieloma. Dikarenakan prosedur ini tergolong besar, pemantauan ketat sangat krusial untuk mencegah risiko infeksi atau komplikasi akibat respons tubuh terhadap sel donor.
8. Terapi Radioisotop
Terapi radioisotop menggunakan zat radioaktif untuk menghancurkan sel kanker di dalam tubuh. Zat ini dapat diberikan melalui minuman, kapsul, atau suntikan, lalu beredar dalam aliran darah dan menargetkan sel kanker begitu diserap, sel kanker akan terpapar radiasi dosis tinggi yang merusak kemampuannya untuk tumbuh, sementara jaringan sehat di sekitarnya relatif menerima paparan lebih rendah. Terapi ini sering digunakan pada kanker tertentu, seperti kanker tiroid serta beberapa jenis kanker yang menyebar ke tulang.
9. Terapi Ablasi
Terapi ablasi menghancurkan sel kanker menggunakan suhu ekstrem, baik panas maupun dingin, sehingga tidak memerlukan sayatan besar seperti operasi biasa. Beberapa jenisnya meliputi cryoablation (membekukan sel kanker dengan suhu sangat rendah), terapi laser (memanfaatkan cahaya berenergi tinggi), dan radiofrequency atau microwave ablation (menggunakan energi untuk menghasilkan panas).
Terapi ini sering digunakan untuk menghancurkan atau mengecilkan tumor, membantu meredakan gejala, dan mendukung kualitas hidup pasien.
Baca juga: Apa Itu Kemoradiasi? Ketahui Manfaat dan Efektivitasnya!
Melawan Kanker dengan Terapi yang Tepat
Menjalani terapi kanker memang bukan proses yang mudah, baik secara fisik maupun emosional. Namun, kemajuan teknologi medis saat ini memberikan berbagai pilihan pengobatan bagi pasien untuk melawan penyakitnya. Dengan kombinasi perawatan yang tepat serta dukungan dari keluarga dan tenaga medis, pengobatan dapat membantu mengendalikan penyakit dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Untuk mendapatkan pengobatan yang komprehensif, Terapi Kanker di Kaiser Cancer Center dapat menjadi pilihan yang tepat. Setiap rencana terapi disusun secara personal berdasarkan kondisi kesehatan pasien dan evaluasi menyeluruh oleh berbagai dokter spesialis.
Penanganan pun tidak berhenti pada terapi utama. Kaiser Cancer Center juga menghadirkan layanan Manajemen Nyeri untuk membantu mengelola efek samping terapi kanker.
Jadi, mari jalani langkah perawatan yang sesuai bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.
Frequently Asked Questions (FAQs)
Apakah semua pasien kanker harus menjalani kemoterapi?
Tidak. Kemoterapi hanyalah salah satu dari beberapa metode terapi kanker. Pemilihan terapi disesuaikan dengan jenis kanker, stadium, serta kondisi pasien. Adapun opsi yang diberikan bisa berupa operasi, radioterapi, terapi hormon, imunoterapi, atau terapi target, baik sebagai terapi tunggal maupun kombinasi.
Kemoterapi atau radioterapi, mana yang lebih baik?
Tidak ada yang secara umum "lebih baik" karena keduanya bekerja dengan cara berbeda dan digunakan untuk tujuan yang berbeda pula. Kemoterapi bekerja secara sistemik dan dapat menjangkau sel kanker di berbagai bagian tubuh, sementara radioterapi bekerja secara lokal pada area tertentu. Kenali lebih dalam tentang perbedaan kemoterapi dan radioterapi.
Bagaimana dokter menentukan jenis terapi kanker yang tepat?
Dokter mempertimbangkan jenis dan stadium kanker, kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan, serta karakteristik genetik atau molekuler sel kanker, biasanya melalui pendekatan Multidisciplinary Team (MDT) yang melibatkan beberapa dokter spesialis sekaligus.
Referensi
- American Cancer Society. Treatment types [Internet]. [diakses pada 2026]. Tersedia dari: https://www.cancer.org/cancer/managing-cancer/treatment-types.html
- National Cancer Institute. Treatment for breast cancer—local and systemic treatments [Internet]. [diakses pada 2026]. Tersedia dari: https://www.cancer.gov/types/breast/treatment
- MSD Manual Professional Edition. Overview of cancer therapy [Internet]. [diakses pada 2026]. Tersedia dari: https://www.msdmanuals.com/professional/oncology/principles-of-cancer-therapy/overview-of-cancer-therapy








