Saat menjalani terapi kanker, banyak wanita khawatir terhadap dampaknya pada kesuburan dan peluang kehamilan di masa depan.
Kekhawatiran ini memang beralasan karena beberapa terapi kanker dapat memengaruhi fungsi ovarium, rahim, maupun hormon reproduksi. Namun, dampaknya tidak selalu permanen dan berbeda pada setiap pasien. Untuk memahami lebih lanjut tentang pengaruh terapi kanker terhadap kesuburan, simak penjelasan berikut.
Bagaimana Efek Samping Terapi Kanker terhadap Kesuburan Wanita?
Beberapa terapi kanker dapat memengaruhi organ dan fungsi tubuh yang berperan dalam sistem reproduksi. Meski demikian, dampaknya tidak selalu sama pada setiap orang, tergantung pada jenis terapi, dosis, hingga area tubuh yang diobati.
Berikut penjelasan bagaimana masing-masing terapi dapat memengaruhi sistem reproduksi wanita.
1. Efek Kemoterapi pada Kesuburan Wanita
Kemoterapi dapat memengaruhi kesuburan wanita karena beberapa obat kemoterapi berisiko merusak sel telur di dalam ovarium. Risiko ini bergantung pada usia pasien, jenis obat, serta dosis yang digunakan.
Wanita usia lebih muda umumnya memiliki peluang pemulihan fungsi ovarium yang lebih baik karena cadangan sel telur masih lebih banyak. Pada sebagian pasien, menstruasi dapat berhenti sementara selama pengobatan lalu kembali normal setelah terapi selesai.
Namun, kembalinya siklus menstruasi tidak selalu berarti fungsi kesuburan telah pulih sepenuhnya. Efek obat kemoterapi sering kali memengaruhi kualitas dan jumlah cadangan sel telur. Pada beberapa kasus, kehamilan tetap dapat terjadi secara alami, tetapi sebagian pasien mungkin memerlukan bantuan medis karena fungsi ovarium yang sudah berkurang.
2. Efek Radioterapi pada Kesuburan Wanita
Jika dilakukan di area perut, panggul, atau organ reproduksi, radioterapi berisiko memengaruhi kesuburan wanita. Paparan radiasi bisa merusak sel telur hingga dapat menurunkan cadangan ovarium atau bahkan memicu menopause dini.
Selain ovarium, radiasi juga dapat memengaruhi rahim dengan memicu terbentuknya jaringan parut dan penurunan aliran darah. Kondisi ini dapat mengurangi kemampuan rahim untuk mendukung kehamilan secara optimal.
Pada beberapa kasus, radiasi di area otak juga dapat memengaruhi kelenjar yang mengatur hormon reproduksi sehingga proses ovulasi terganggu.
3. Efek Operasi pada Kesuburan Wanita
Beberapa jenis operasi kanker tertentu bisa memengaruhi kesuburan wanita, terutama jika prosedurnya melibatkan organ reproduksi, seperti rahim, ovarium, serviks (leher rahim), atau saluran tuba.
Misalnya, pengangkatan rahim (histerektomi) menyebabkan wanita tidak dapat hamil karena rahim merupakan tempat berkembangnya janin. Sementara itu, pengangkatan ovarium dapat menghentikan produksi sel telur sehingga memengaruhi kemampuan reproduksi.
Namun, pada beberapa kasus kanker stadium awal, dokter dapat mempertimbangkan prosedur konservatif yang tetap mempertahankan sebagian organ reproduksi agar peluang kehamilan masih memungkinkan.
Selain itu, tindakan operasi juga dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada saluran tuba. Kondisi ini berisiko menghambat pertemuan sel telur dan sperma sehingga proses pembuahan menjadi lebih sulit.
Meski demikian, jenis operasi yang dilakukan akan disesuaikan dengan kondisi pasien, stadium kanker, serta tujuan pengobatan secara keseluruhan.
4. Efek Terapi Target pada Kesuburan Wanita
Terapi target bekerja dengan menyerang sel kanker secara lebih spesifik dibandingkan kemoterapi konvensional. Namun, pengaruhnya terhadap kesuburan wanita masih terus diteliti.
Beberapa obat terapi target diketahui dapat memengaruhi fungsi ovarium. Misalnya, bevacizumab dilaporkan dapat meningkatkan risiko gangguan fungsi ovarium sehingga kesuburan dapat menurun. Selain itu, beberapa jenis terapi target juga dapat membahayakan perkembangan janin bila terjadi kehamilan selama pengobatan.
Karena itu, wanita yang menjalani terapi target dianjurkan berkonsultasi dengan dokter mengenai perencanaan kehamilan dan pilihan kontrasepsi yang aman selama terapi berlangsung.
5. Efek Terapi Hormon pada Kesuburan Wanita
Terapi hormon untuk kanker, seperti pada kanker payudara, dapat memengaruhi kesuburan wanita dengan mengganggu proses ovulasi atau bahkan menyebabkan menopause sementara selama pengobatan berlangsung.
Beberapa obat terapi hormon, seperti tamoxifen, masih memungkinkan terjadinya kehamilan, tetapi berisiko menyebabkan gangguan pada perkembangan janin apabila digunakan selama kehamilan. Karena itu, penggunaan kontrasepsi yang efektif biasanya dianjurkan selama menjalani terapi hormon.
Baca juga: Apakah Penderita Kanker Serviks Bisa Hamil? Ini Penjelasannya
Bagaimana Menjaga Kesuburan Wanita selama Terapi Kanker?
Menjaga kesuburan selama terapi kanker dapat dilakukan melalui berbagai prosedur fertility preservation yang disesuaikan dengan kondisi pasien, jenis kanker, serta rencana pengobatan yang akan dijalani.
Dalam prosedur ini, embrio, sel telur, atau jaringan ovarium diambil terlebih dahulu, lalu dibekukan agar nantinya dapat digunakan kembali setelah terapi kanker selesai.
Menurut studi dalam Journal of Clinical Medicine, ada beberapa pilihan fertility preservation yang umumnya direkomendasikan dokter, antara lain:
- Bedah konservatif untuk mempertahankan rahim dan/atau satu ovarium.
- GnRH agonist untuk menjaga fungsi ovarium selama kemoterapi.
- Pembekuan sel telur (oocyte vitrification).
- Pembekuan embrio (embryo vitrification).
- Pembekuan jaringan ovarium (ovarian tissue cryopreservation).
- Kombinasi beberapa metode di atas. Misalnya, kombinasi antara pembekuan sel telur dan pembekuan jaringan ovarium.
Setiap metode memiliki manfaat dan pertimbangan yang berbeda. Studi dalam Journal of Clinical Oncology menunjukkan bahwa meskipun metode fertility preservation di atas terbukti efektif, tetap ada risiko yang perlu dipertimbangkan, seperti kemungkinan keguguran, sindrom hiperstimulasi ovarium, hingga komplikasi akibat prosedur bedah.
Maka dari itu, penting untuk mendiskusikannya dengan dokter sebelum memulai terapi kanker guna menimbang manfaat dan risikonya secara menyeluruh.
Waktu yang Tepat untuk Merencanakan Kehamilansetelah Terapi
Kehamilan setelah terapi kanker umumnya tetap dapat direncanakan dengan aman. Namun, dokter biasanya tidak langsung memberi lampu hijau bagi pasien untuk hamil setelah pengobatan selesai.
Lantas, berapa lama waktu tunggu yang disarankan sebelum merencanakan kehamilan? Waktu tunggunya dapat berbeda pada setiap pasien, tergantung pada beberapa faktor, seperti:
- Jenis dan stadium kanker.
- Jenis terapi yang dijalani.
- Usia pasien.
- Kondisi fungsi ovarium.
Pada beberapa kasus, pasien dianjurkan menunggu setidaknya sekitar 6 bulan setelah kemoterapi agar tubuh memiliki waktu untuk pulih. Sementara itu, sebagian pasien mungkin perlu menunggu lebih lama untuk memastikan kondisi kanker tetap terkontrol dengan baik.
Oleh karena itu, perencanaan kehamilan setelah terapi kanker sebaiknya dilakukan melalui pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter spesialis onkologi hingga dokter spesialis obstetri dan ginekologi agar keputusan yang diambil benar-benar aman.
Baca juga: Kemoterapi Kanker Serviks, Ini Prosedur dan Efek Sampingnya
Melawan Kanker Tanpa Kehilangan Harapan
Menghadapi kanker bukan hanya soal melawan penyakit secara fisik. Bagi banyak wanita, kekhawatiran akan efek samping terapi kanker, terutama pada kesuburan, justru menjadi beban emosional tersendiri yang tidak kalah berat.
Padahal, penting untuk dipahami bahwa tidak semua terapi kanker menyebabkan infertilitas permanen. Sebab, risiko gangguan kesuburan dapat berbeda pada setiap pasien, tergantung pada usia, jenis kanker, serta terapi yang dijalani.
Kuncinya ada pada komunikasi yang terbuka dengan dokter sejak awal. Dengan begitu, kamu bisa mengetahui opsi pengobatan yang lebih aman untuk rahim atau langkah proteksi kesuburan sebelum terapi dimulai.
Tentu saja, dukungan emosional juga sangat dibutuhkan untuk membantu mengurangi stres, kecemasan, dan tekanan psikologis selama proses perawatan. Di Kaiser Cancer Center, layanan Psiko-onkologi hadir untuk mendampingi pasien tidak hanya dalam proses pengobatan, tetapi juga dalam menghadapi dampak emosional yang menyertainya.
Dengan pendekatan yang personal dan suportif, setiap pasien bisa menjalani perawatan dengan lebih tenang. Bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.
Baca juga: Apa Itu Perawatan Paliatif? Inilah Perannya dalam Pengobatan Kanker
Referensi:
- American Cancer Society. Fertility and Women With Cancer. Diakses pada 2026.
- American Cancer Society. Preserving Your Fertility When You Have Cancer (Women). Diakses pada 2026.
- American Cancer Society. Having a Baby After Cancer: Pregnancy. Diakses pada 2026.
- Journal of Clinical Medicine. How to Preserve Fertility in Reproductive-Age Women with Cancer. Diakses pada 2026.
- Journal of Clinical Oncology. Fertility Preservation in People With Cancer: ASCO Guideline Update. Diakses pada 2026.








