Kemoterapi kanker serviks merupakan metode pengobatan yang banyak digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan sel kanker pada leher rahim. Terapi ini bekerja dengan menggunakan obat-obatan khusus yang bertujuan membunuh sel kanker atau menghambat perkembangannya di dalam tubuh.
Pada beberapa kondisi, kemoterapi dapat diberikan sebagai pengobatan utama maupun dikombinasikan dengan tindakan lain, seperti operasi dan radioterapi. Oleh karena itu, penting untuk memahami prosedur, tujuan, serta efek sampingnya agar pasien dan keluarga dapat lebih siap menjalani proses pengobatan. Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.
Key Takeaways
- Kemoterapi kanker serviks paling sering diberikan bersama radioterapi kanker serviks (kemoradioterapi) pada stadium IB3 hingga IVA, serta dapat dikombinasikan dengan imunoterapi atau terapi target, diberikan setelah operasi, atau sebagai terapi paliatif.
- Prosedur kemoterapi kanker serviks umumnya melalui infus dengan kanula, central line, PICC line, atau portacath, dalam beberapa siklus yang diselingi waktu istirahat.
- Efek samping kemoterapi kanker serviks meliputi rambut rontok, sariawan, mual dan muntah, diare, serta risiko infeksi yang umumnya sementara, sedangkan menopause lebih awal, gangguan kesuburan, dan neuropati dapat berlangsung lebih lama.
Apa Itu Kemoterapi Kanker Serviks?
Kemoterapi adalah metode pengobatan menggunakan obat-obatan sitotoksik untuk menghancurkan atau menghambat pertumbuhan sel kanker.
Pada umumnya, kemoterapi diberikan melalui infus ke dalam pembuluh darah atau dalam bentuk obat yang diminum. Setelah masuk ke dalam tubuh, obat akan menyebar melalui aliran darah sehingga dapat mencapai sel kanker di berbagai bagian tubuh.
Karena sifatnya yang menyebar secara sistemik, kemoterapi juga dapat digunakan untuk membantu mengatasi kanker serviks yang telah menyebar ke jaringan atau organ lain.
Kapan Kemoterapi Digunakan untuk Pengobatan Kanker Serviks?
Penggunaan kemoterapi bergantung pada stadium kanker dan tujuan pengobatan. Secara umum, terapi ini diberikan pada beberapa kondisi berikut:
- Bersamaan dengan radioterapi (kemoradioterapi): Merupakan terapi yang paling sering digunakan, terutama pada kanker serviks stadium IB3 hingga IVA. Kombinasi ini bertujuan meningkatkan efektivitas radioterapi dalam menghancurkan sel kanker.
- Dikombinasikan dengan imunoterapi dan terapi target: Studi dari National Library of Medicine (2022) menjelaskan bahwa kemoterapi juga dapat digunakan bersama imunoterapi untuk membantu meningkatkan respons sistem kekebalan tubuh dalam melawan sel kanker. Selain itu, kombinasi dengan terapi target juga dinilai berpotensi meningkatkan efektivitas pengobatan karena dapat menyerang sel kanker secara lebih spesifik.
- Setelah operasi untuk menurunkan risiko kekambuhan: Kemoterapi juga dapat diberikan setelah tindakan operasi, yang biasanya dikombinasikan dengan radioterapi. Tujuannya adalah untuk membantu menurunkan risiko kanker muncul kembali.
- Pada kanker serviks stadium lanjut, kambuh, atau menyebar: Jika kanker sudah berada pada stadium lanjut, kembali setelah pengobatan, atau telah menyebar ke bagian tubuh lain (metastasis), kemoterapi digunakan untuk membantu mengendalikan pertumbuhan kanker serviks dan meredakan gejala (terapi paliatif).
Baca juga: Penyebab Kanker Serviks pada Wanita dan Cara Mencegahnya
Bagaimana Kemoterapi Kanker Serviks Diberikan?
Kemoterapi kanker serviks umumnya diberikan melalui infus ke dalam pembuluh darah sehingga obat dapat langsung masuk ke aliran darah dan menjangkau sel kanker di seluruh tubuh. Dalam praktiknya, obat biasanya diberikan menggunakan selang kecil (kanula) yang dipasang pada pembuluh darah di lengan setiap kali terapi.
Namun, pada beberapa pasien dapat digunakan akses khusus seperti central line, PICC line, atau portacath yang dipasang pada pembuluh darah besar di area dada dan digunakan selama rangkaian pengobatan agar tidak perlu memasang jarum berulang kali.
Kemoterapi diberikan dalam beberapa siklus, yaitu periode pengobatan yang diselingi waktu istirahat. Pola ini bertujuan memberi kesempatan bagi sel-sel sehat untuk pulih sebelum terapi dilanjutkan kembali.
Baca juga: Apakah Kemoterapi Itu Sakit? Ini yang Perlu Kamu Pahami
Risiko Efek Samping Kemoterapi Kanker Serviks
Kemoterapi bekerja dengan menargetkan sel yang berkembang dengan cepat, termasuk sel kanker. Namun, karena beberapa sel normal dalam tubuh juga memiliki karakteristik serupa, terapi ini dapat menimbulkan efek samping.
Meski demikian, efek yang muncul pada setiap orang bisa berbeda-beda, tergantung jenis obat, dosis, serta lamanya pengobatan. Sebagian besar efek samping bersifat sementara dan dapat membaik setelah terapi selesai. Beberapa efek samping yang umum terjadi antara lain:
- Rambut rontok
- Sariawan atau luka pada mulut
- Penurunan nafsu makan
- Diare
- Mual dan muntah
- Perubahan siklus menstruasi
Kemoterapi juga dapat memengaruhi pembentukan sel darah di sumsum tulang sehingga dapat menyebabkan:
- Lebih mudah terkena infeksi
- Mudah memar atau mengalami perdarahan
- Tubuh terasa lelah atau lemas
Selain efek jangka pendek, ada pula beberapa efek yang bisa berlangsung lebih lama pada sebagian pasien. Misalnya, perubahan pada siklus menstruasi, menopause lebih awal, serta kemungkinan gangguan kesuburan.
Pada jenis obat tertentu, bisa juga muncul keluhan, seperti kesemutan, nyeri, serta mati rasa atau kebas pada tangan dan kaki (neuropati).
Baca juga: Pentingnya Deteksi Dini Kanker Serviks untuk Wanita
Kesimpulan
Kemoterapi merupakan salah satu pilar penting dalam pengobatan kanker serviks yang dapat membantu mengendalikan pertumbuhan dan penyebaran sel kanker. Meskipun bisa menimbulkan efek samping, penanganan yang tepat dan pemantauan dari dokter dapat membantu menjaga kenyamanan selama menjalani terapi.
Oleh karena itu, penting untuk berkonsultasi dengan dokter agar rencana pengobatan yang diberikan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Untuk mendapatkan penanganan yang komprehensif, kamu bisa mempertimbangkan layanan Terapi Sistemik di Kaiser Cancer Center. Layanan ini mencakup berbagai opsi terapi, mulai dari kemoterapi, imunoterapi, hingga terapi target, dengan pendekatan yang disesuaikan untuk setiap pasien.
Jadi, pastikan kamu tidak menunda pemeriksaan dan segera cari penanganan yang tepat bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.
Baca juga: Pemeriksaan Pap Smear: Tujuan, Prosedur, dan Efek Samping
Frequently Asked Questions (FAQ)
Apakah kanker serviks stadium 2 dan 3 perlu kemoterapi?
Umumnya perlu. Pada kanker serviks stadium II dan III, kemoterapi paling sering diberikan bersamaan dengan radioterapi (kemoradiasi). Pada stadium awal, pengobatan biasanya berfokus pada operasi, dan kemoterapi dipertimbangkan setelah operasi bila risiko kekambuhan tinggi. Keputusan akhir bergantung pada hasil evaluasi tim dokter.
Bagaimana cara mengobati kanker serviks?
Pengobatan kanker serviks disesuaikan dengan stadium, jenis sel kanker, kondisi kesehatan, dan rencana kehamilan, mulai dari operasi, radioterapi, kemoterapi, terapi target, imunoterapi, hingga uji klinis, baik sendiri maupun dikombinasikan. Selengkapnya dapat dibaca di Bagaimana Cara Mengobati Kanker Serviks? Inilah 6 Pilihannya.
Obat kemoterapi apa yang digunakan untuk kanker serviks?
Cisplatin adalah obat yang paling sering digunakan, terutama pada kemoradiasi, dan dapat dikombinasikan dengan 5-fluorouracil. Pilihan obat dan dosisnya ditentukan dokter berdasarkan stadium, tujuan pengobatan, dan kondisi kesehatanmu.
Berapa lama dan berapa kali kemoterapi kanker serviks dilakukan?
Jadwalnya bergantung pada tujuan pengobatan dan regimen obat. Pada kanker yang sudah stadium lanjut atau kambuh, kemoterapi diberikan dalam siklus yang diselingi waktu istirahat, dan jumlah siklusnya umumnya disesuaikan dengan respons serta toleransi tubuh. Dokter yang menangani akan menentukan jadwal pastinya untukmu.
Berapa biaya kemoterapi kanker serviks, dan apakah ditanggung BPJS?
Biaya kemoterapi kanker serviks sangat bervariasi, dipengaruhi oleh jenis dan jumlah obat, jumlah siklus atau sesi, apakah diberikan bersama radioterapi, kelas perawatan, serta pemeriksaan penunjang seperti tes darah dan pencitraan selama pengobatan. Bagi peserta BPJS Kesehatan, pengobatan kanker dapat ditanggung sesuai indikasi medis bila mengikuti alur rujukan yang berlaku. Untuk estimasi di Kaiser Cancer Center, kamu dapat berkonsultasi secara gratis dengan tim kami.
Apakah kemoterapi kanker serviks memengaruhi haid dan kesuburan?
Bisa. Pada sebagian pasien, kemoterapi dapat menyebabkan perubahan siklus menstruasi, menopause lebih awal, hingga gangguan kesuburan. Penjelasan lebih lengkap dapat dibaca di Efek Samping Terapi Kanker: Bisakah Mengganggu Kesuburan Wanita? dan Apakah Penderita Kanker Serviks Bisa Hamil? Ini Penjelasannya.
Apa tanda kanker serviks sudah menyebar?
Gejala umum yang dapat muncul meliputi tubuh sangat lelah, berat badan turun drastis, dan perdarahan abnormal pada vagina. Dokter akan memastikannya lewat pemeriksaan fisik dan panggul serta pencitraan. Penjelasan lengkapnya dapat dibaca di Bagaimana Tanda Kanker Serviks Sudah Menyebar? Inilah Gejalanya!
Referensi
Canadian Cancer Society. Chemotherapy for Cervical Cancer [Internet]. [Diakses pada 8 Oktober 2026]. Diakses dari: https://cancer.ca/en/cancer-information/cancer-types/cervical/treatment/chemotherapy
Mount Elizabeth Hospitals. Kemo-Radiasi Konkuren (Concurrent Chemo-Radiation) [Internet]. [Diakses pada 8 Oktober 2026]. Diakses dari: https://www.mountelizabeth.com.sg/id/tests-treatments/concurrent-chemo-radiation
Profil Efek Toksisitas Hematologi Concurrent Chemoradiation Therapy (CCRT) dengan Kombinasi Cisplatin dan 5-Fluorouracil pada Pasien Kanker Serviks Stadium IIB-IVA [Internet]. [Diakses pada 8 Oktober 2026]. Diakses dari: https://journal.ugm.ac.id/jkr/article/download/114139/43321
Society of Gynecologic Oncology, Foundation for Women's Cancer, GOG Foundation. Communique: Considerations When Treating Cervical, Vulvar, and Vaginal Cancers in the Setting of Cisplatin and Carboplatin Shortages [Internet]. [Diakses pada 8 Oktober 2026]. Diakses dari: https://www.sgo.org/news/drugshortages2/
Tumour Virus Research. Cervical Cancer Therapies: Current Challenges and Future Perspectives. 2022;13:200238. https://doi.org/10.1016/j.tvr.2022.200238 (versi NLM: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9062473/)








