Tidak semua penyakit datang dengan tanda yang mudah dikenali. Kanker serviks, misalnya, dapat berkembang tanpa gejala pada tahap awal sehingga perubahan pada leher rahim sering kali tidak disadari hingga kondisinya semakin berkembang. Oleh karena itu, penting untuk melakukan deteksi dini melalui skrining rutin.
Skrining kanker serviks membantu menemukan perubahan sel abnormal pada serviks lebih cepat sebelum berkembang menjadi sel kanker. Deteksi dini kanker serviks sangat mungkin dilakukan melalui skrining rutin, seperti tes HPV, Pap smear, atau IVA, dan dianjurkan mulai usia 25 tahun atau 3 tahun setelah aktif secara seksual.
Untuk informasi lebih lengkap mengenai waktu yang tepat untuk melakukan skrining, apa saja metode yang tersedia, dan apa saja manfaatnya, simak penjelasan di bawah ini.
Key Takeaways: Metode dan Jadwal Skrining Kanker Serviks
- Tes HPV DNA: metode utama yang direkomendasikan WHO, dilakukan setiap 5 tahun pada usia 25-65 tahun.
- Pap Smear: alternatif dengan akses lebih luas di fasilitas kesehatan, dilakukan setiap 3 tahun.
- Tes IVA: metode sederhana untuk fasilitas dengan sumber daya terbatas, dilakukan setiap 3–5 tahun.
- Co-testing (HPV + Pap Smear): kombinasi keduanya untuk meningkatkan akurasi, dilakukan setiap 5 tahun.
Bisakah Deteksi Dini Kanker Serviks Dilakukan?
Ya, skrining kesehatan serviks dapat dilakukan sejak awal dan sangat direkomendasikan untuk membantu menurunkan risiko keterlambatan diagnosis. Dengan pemeriksaan lebih awal, penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan peluang keberhasilan pengobatan menjadi lebih besar.
Kanker serviks umumnya berkembang secara bertahap, dan pada tahap awal perubahan sel di leher rahim sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Inilah alasan mengapa deteksi dini kanker serviks tidak bisa hanya mengandalkan gejala, melainkan perlu dilakukan melalui pemeriksaan medis secara rutin dan terjadwal.
Jenis Metode Pemeriksaan Kanker Serviks
Hingga saat ini belum ada metode skrining kanker serviks melalui USG. Dengan kata lain, USG saja tidak dapat mendeteksi kanker serviks. Beberapa metode pemeriksaan yang umum digunakan di antaranya:
- Tes human papillomavirus (HPV). Direkomendasikan WHO sebagai metode skrining utama karena memiliki sensitivitas paling tinggi dalam mendeteksi lesi prakanker.
- Tes Pap (Pap Smear). Digunakan untuk mendeteksi perubahan sel serviks dan masih menjadi metode yang banyak digunakan, terutama di fasilitas dengan akses pemeriksaan HPV yang terbatas.
- Tes kombinasi HPV dan Pap (co-testing), dilakukan setiap 5 tahun.
- Tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat). Metode sederhana dengan mengoleskan asam asetat pada serviks untuk melihat perubahan warna putih (acetowhite lesion) yang mengindikasikan kelainan jaringan. WHO merekomendasikan IVA sebagai alternatif di negara dengan sumber daya terbatas.
Pemeriksaan kesehatan serviks perlu dibedakan dari pencegahan, meski keduanya saling berkaitan. Pencegahan dilakukan melalui vaksin kanker serviks dan gaya hidup sehat, sementara deteksi dini berfokus pada upaya menemukan perubahan sel serviks sedini mungkin agar dapat segera ditangani.
Baca juga: Penyebab Kanker Serviks pada Wanita dan Cara Mencegahnya
Manfaat Deteksi Dini Kanker Serviks
Deteksi dini kanker serviks berperan penting dalam menjaga kesehatan reproduksi wanita, di antaranya:
- Menemukan perubahan sel abnormal sejak tahap awal.
- Mencegah perkembangan menjadi kanker serviks yang lebih serius.
- Meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan.
- Mengurangi risiko komplikasi akibat kanker serviks.
- Memperbesar harapan hidup pasien.
- Membantu penanganan yang lebih cepat dan tepat.
Baca juga: Keputihan Tanda Kanker Serviks? Inilah Ciri yang Perlu Diwaspadai
Kapan Perlu Melakukan Deteksi Dini Kanker Serviks?
Berdasarkan pedoman HOGI-INASGO (Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia-Indonesian Society of Gynecologic Oncology), skrining kanker serviks umumnya dianjurkan dengan ketentuan berikut:
Usia 25–65 tahun, atau ≥3 tahun setelah aktif secara seksual.
Kelompok usia ini perlu skrining rutin karena risiko infeksi HPV persisten dan perubahan sel serviks yang meningkat. Metode yang direkomendasikan:
- Tes HPV DNA setiap 5 tahun (metode utama)
- Pap smear setiap 3 tahun (alternatif)
- Tes IVA setiap 3–5 tahun (metode sederhana yang banyak digunakan di Indonesia)
- Co-testing HPV dan Pap smear setiap 5 tahun (untuk meningkatkan akurasi)
Usia di atas 65 tahun.
Kebutuhan skrining bergantung pada riwayat pemeriksaan sebelumnya. Jika skrining rutin sebelumnya menunjukkan hasil normal dan tidak ada faktor risiko tinggi, dokter dapat mempertimbangkan bahwa pemeriksaan lanjutan tidak lagi diperlukan.
Selain faktor usia, akses informasi, dukungan pasangan, dan dukungan tenaga kesehatan turut memengaruhi keteraturan wanita dalam menjalani deteksi dini kanker serviks. Menurut studi yang dipublikasikan di Pancasakti Journal of Public Health Science and Research , semakin mudah akses informasi dan semakin besar dukungan di sekitar, semakin besar pula kemungkinan seseorang menjalani skrining secara rutin2.
Baca juga: Risiko Kanker Serviks pada Wanita Belum Menikah, Ini Faktanya!
Deteksi Dini Kanker Serviks dengan Tepat
Deteksi dini kanker serviks dilakukan lewat skrining rutin, seperti tes HPV, Pap smear, atau IVA, dengan jadwal yang disesuaikan dengan usia dan metode yang dipilih. Melalui pemeriksaan rutin, perubahan sel abnormal dapat ditemukan sebelum berkembang lebih lanjut sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan peluang pengobatan berhasil pun lebih besar.
Jika ingin mulai menjaga kesehatan serviks, kamu bisa menjalani pemeriksaan Pap Smear di Kaiser Cancer Center bersama tenaga medis profesional berpengalaman. Kamu juga bisa memanfaatkan Promo Skrining Kesehatan Kandungan dan Kanker Serviks untuk pemeriksaan lengkap yang mencakup konsultasi medis, pemeriksaan ginekologi, Pap smear, hingga HPV DNA.
Jika masih bingung menentukan pemeriksaan yang tepat, jangan ragu untuk berkonsultasi secara gratis bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.
Baca juga: Cara Cek Kanker Serviks Sendiri, Cegah Risiko Sejak Dini!
Frequently Asked Questions (FAQs)
Apakah deteksi dini kanker serviks sakit?
Umumnya tidak. Pap smear dan tes HPV bisa menimbulkan sedikit rasa tidak nyaman seperti kram ringan saat pengambilan sampel, namun prosesnya singkat dan jarang menimbulkan nyeri berarti.
Apakah skrining kanker serviks ditanggung BPJS?
Ya, BPJS Kesehatan menanggung skrining kanker serviks (tes IVA atau Pap smear) tanpa biaya tambahan bagi peserta JKN aktif, umumnya untuk usia 30-50 tahun yang sudah menikah atau pernah berhubungan seksual. Mulai 2026, skrining HPV DNA juga mulai diintegrasikan ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis pemerintah.
Apakah deteksi dini kanker serviks bisa dilakukan sendiri di rumah?
Tes HPV kini tersedia dalam metode self-sampling yang bisa dilakukan mandiri, meski hasilnya tetap perlu diperiksa di laboratorium. Panduan lengkapnya dapat dilihat di artikel Cara Cek Kanker Serviks Sendiri.
Apakah wanita menopause perlu pap smear?
Perlu, terutama jika belum menjalani skrining rutin secara memadai sebelumnya. Menopause tidak menghilangkan risiko kanker serviks, sehingga wanita pascamenopause tetap dianjurkan mengikuti jadwal skrining sesuai usia, kecuali dokter menilai pemeriksaan lanjutan sudah tidak diperlukan berdasarkan riwayat skrining sebelumnya.
Apa gejala kanker serviks stadium awal?
Kanker serviks stadium awal umumnya tidak menimbulkan gejala yang jelas, sehingga sulit dikenali tanpa pemeriksaan. Saat gejala mulai muncul, biasanya berupa keputihan tidak normal atau perdarahan di luar siklus menstruasi.
Apakah boleh pap smear saat hamil?
Boleh. Pap smear umumnya aman dilakukan selama kehamilan dan sering menjadi bagian dari pemeriksaan kehamilan rutin. Jika ditemukan hasil abnormal, dokter akan menentukan apakah pemeriksaan atau penanganan lanjutan perlu dilakukan segera atau bisa ditunda hingga setelah persalinan.
Referensi
- Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Skrining kanker serviks dan tindak lanjut temuan abnormal [Internet]. Jan 2025 [diakses pada 2026]. Tersedia dari: https://inasgo.org/guidelines/AlgoritmaHOGI.pdf
- Bili MR, Tedju IA, Ndoen HI. Factors related to early detection of cervical cancer in women of childbearing age in the working area of Alor Kecil Health Center. Pancasakti J Public Health Sci Res. 2023;3(3):177-186. doi:10.47650/pjphsr.v3i3.610
- American Cancer Society. Can cervical cancer be found early? [Internet]. 4 Des 2025 [diakses pada 2026]. Tersedia dari: https://www.cancer.org/cancer/types/cervical-cancer/detection-diagnosis-staging/detection.html
- JAMA. Screening for cervical cancer: US preventive services task force recommendation Statement [Internet]. [diakses pada 2026]. Diakses dari: https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2697704
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2015 tentang Penanggulangan Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim [Internet]. [diakses pada 2026]. Diakses dari: https://platform.who.int/docs/default-source/mca-documents/policy-documents/law/IDN-RH-47-02-LAW-2015-ind-MoH-Regulation-34-2015---Countermeasures-of-Breast-and-Cervical-Cancer.pdf
- National Cancer Institute. Cervical cancer screening [Internet]. 13 Feb 2025 [diakses pada 2026]. Tersedia dari: https://www.cancer.gov/types/cervical/screening
- World Health Organization. WHO guideline for screening and treatment of cervical pre-cancer lesions for cervical cancer prevention [Internet]. 2nd ed. Geneva: World Health Organization; 2021 [diakses pada 2026]. Tersedia dari: https://iris.who.int/server/api/core/bitstreams/329a5f3d-b423-48b3-beb1-26ee1240c0a3/content








