Logo

Penyebab Kanker Serviks pada Wanita dan Cara Mencegahnya

Penulis: Tim Kaiser Cancer Center

Bagikan:

detail image article
General Topic

Tahukah kamu bahwa selain kanker payudara, kanker serviks juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan wanita? Kanker ini sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal. Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhannya.

Maka dari itu, penting untuk memahami penyebab kanker serviks guna melakukan pencegahan sejak dini. Yuk, pelajari lebih lanjut penyebab dan juga cara pencegahannya di artikel ini!

Apa Itu Kanker Serviks?

Kanker serviks adalah jenis kanker yang terjadi di leher rahim (serviks). Serviks merupakan bagian bawah rahim yang sempit dan menghubungkan rahim dengan vagina.

Kondisi ini umumnya berkembang secara perlahan dan sering diawali oleh perubahan sel yang  tidak normal (lesi prakanker) pada jaringan serviks.

Seiring waktu, jika tidak ditangani, sel-sel abnormal tersebut dapat berkembang menjadi kanker dan menyebar ke area di sekitarnya.

Jenis-Jenis Kanker Serviks

Secara umum, kanker serviks dibedakan menjadi dua jenis utama berdasarkan asal sel kankernya, yaitu:

1. Karsinoma Sel Skuamosa

Karsinoma sel skuamosa merupakan jenis kanker serviks yang paling umum terjadi, dengan jumlah kasus mencapai sekitar 90%. Kanker ini berkembang dari sel skuamosa yang melapisi bagian luar serviks (ektoserviks).

Jenis kanker serviks ini biasanya berkembang secara bertahap, diawali oleh perubahan sel abnormal (lesi prakanker) yang umumnya berkaitan dengan infeksi virus Human Papillomavirus (HPV).

Dibandingkan adenokarsinoma, karsinoma sel skuamosa cenderung lebih mudah dideteksi melalui pemeriksaan rutin seperti Pap smear karena lokasinya berada di bagian luar serviks.

2. Adenokarsinoma

Adenokarsinoma, yang juga dikenal sebagai clear cell carcinoma atau mesonefroma, merupakan jenis kanker serviks yang berkembang dari sel kelenjar di bagian dalam serviks (endoserviks).

Adenokarsinoma cenderung lebih sulit dideteksi pada tahap awal karena tumbuh di bagian dalam serviks sehingga tidak selalu terlihat melalui pemeriksaan rutin. Selain itu, gejalanya sering tidak spesifik, sehingga banyak kasus baru terdiagnosis saat sudah memasuki tahap lanjut.

Meskipun lebih jarang terjadi dibandingkan karsinoma sel skuamosa, adenokarsinoma tetap perlu diwaspadai karena dapat bersifat lebih agresif.

Baca juga: 9 Pantangan Makanan untuk Penderita Kanker Payudara

Apa Penyebab Kanker Serviks?

Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi virus Human Papillomavirus (HPV). Dari berbagai tipe HPV, dua jenis berisiko tinggi, yaitu HPV 16 dan HPV 18, diketahui menyebabkan sekitar 70% kasus kanker serviks di seluruh dunia yang ditularkan melalui kontak seksual atau kontak kulit ke kulit di area genital.

Sebagian besar infeksi HPV bersifat sementara dan dapat hilang dengan sendirinya dalam 1–2 tahun karena dikendalikan oleh sistem kekebalan tubuh sehingga umumnya tidak selalu menyebabkan kanker.

Namun, infeksi HPV risiko tinggi yang menetap (persisten) dapat memicu perubahan sel serviks menjadi lesi prakanker. Jika tidak terdeteksi dan ditangani, lesi tersebut berpotensi berkembang menjadi kanker serviks dalam jangka waktu 10-20 tahun mendatang.

Faktor Risiko Kanker Serviks

Selain infeksi Human Papillomavirus (HPV) berisiko tinggi, ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kanker serviks. Beberapa faktor risiko tersebut adalah sebagai berikut:

  • Aktivitas seksual pada usia dini.
  • Memiliki lebih dari satu pasangan seksual atau pasangan dengan risiko tinggi.
  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya memiliki penyakit HIV atau penggunaan obat imunosupresif.
  • Merokok atau terpapar asap rokok.
  • Faktor reproduksi.
  • Obesitas.
  • Riwayat infeksi menular seksual.

Ciri-Ciri Kanker Serviks

Pada tahap awal, kanker serviks sering tidak menimbulkan gejala. Namun, seiring perkembangan penyakit ini, beberapa tanda yang mungkin muncul antara lain:

  • Perdarahan di luar siklus menstruasi.
  • Perdarahan setelah berhubungan intim.
  • Perdarahan setelah menopause.
  • Nyeri pada panggul saat berhubungan seksual.
  • Keputihan tidak normal, berbau, atau bercampur darah.

Ketika kanker telah menyebar ke jaringan sekitar pada stadium lanjut, gejala dapat meliputi:

  • Sulit atau nyeri saat buang air besar.
  • Perdarahan dari rektum saat buang air besar.
  • Gangguan saat buang air kecil termasuk nyeri atau urin bercampur darah.
  • Pembengkakan pada kaki akibat gangguan aliran cairan (limfedema).
  • Mudah merasa lelah (dapat berkaitan dengan anemia).
  • Nyeri pada perut dan punggung. ​
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

Baca juga: 7 Gejala Kanker Payudara yang Perlu Diwaspadai Sejak Dini

Diagnosis Kanker Serviks

Diagnosis kanker serviks dilakukan untuk memastikan adanya sel abnormal atau kanker pada leher rahim serta menentukan tingkat keparahannya. Proses ini umumnya dimulai dari wawancara medis terkait gejala, pemeriksaan fisik, skrining, hingga pemeriksaan lanjutan untuk mendapatkan hasil yang akurat.

Berikut adalah beberapa metode diagnosis kanker serviks yang umum dilakukan:

  • Kolposkopi: Pemeriksaan menggunakan kolposkop untuk melihat kondisi serviks secara lebih detail yang biasanya dilakukan jika hasil Pap smear abnormal.
  • Biopsi: Pengambilan sampel jaringan dari serviks untuk diperiksa di laboratorium guna memastikan diagnosis dan menentukan jenis serta stadium kanker.

Pengobatan Kanker Serviks

Pengobatan kanker serviks disesuaikan dengan stadium atau tingkat perkembangan penyakit. Tahap perkembangan kanker serviks terbagi menjadi beberapa tingkat, mulai dari stadium awal (tahap IA) hingga stadium lanjut, yang masing-masing memerlukan pendekatan pengobatan berbeda agar efektif dan meminimalkan risiko penyebarannya.

Kanker serviks tahap IA dibagi menjadi tahap IA1 dan IA2. Adapun pengobatan kanker serviks tahap IA1 dapat, meliputi:

  • Konisasi (cold knife conization), yaitu pengangkatan jaringan serviks berbentuk kerucut. Tindakan ini dapat dipertimbangkan terutama jika pasien masih ingin mempertahankan kesuburan dan tidak terdapat faktor risiko lain.
  • Histerektomi total, yaitu pengangkatan rahim yang umumnya dilakukan bila pasien tidak merencanakan kehamilan di masa depan.

Sementara itu, pengobatan kanker serviks tahap IA2 meliputi:

  • Histerektomi radikal termodifikasi: Biasanya disertai evaluasi atau pengangkatan kelenjar getah bening.
  • Trakelektomi radikal: Pilihan untuk pasien yang masih ingin mempertahankan kesuburan (dengan kriteria tertentu).
  • Terapi radiasi internal: Dapat menjadi alternatif pada kondisi tertentu sesuai pertimbangan klinis.

Pada kanker stadium IB – IIA (stadium awal–menengah), kanker sudah lebih besar tetapi masih terbatas di sekitar serviks. Berikut adalah beberapa terapinya:

  • Histerektomi radikal dengan atau tanpa pengangkatan kelenjar getah bening.
  • Kombinasi radioterapi dan kemoterapi tergantung pada kondisi pasien.

Pada kanker stadium IIB ke atas (stadium lanjut), kanker telah menyebar ke jaringan sekitar atau organ lain. Berikut adalah beberapa pilihan terapinya:

  • Terapi utama adalah kombinasi radioterapi dan kemoterapi (kemoradioterapi)
  • Radioterapi. Radioterapi dapat berupa:
    • Radiasi eksternal.
    • Radiasi internal (brakiterapi).
  • Imunoterapi atau terapi target.
  • Terapi paliatif untuk mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup.

Cara Mencegah Kanker Serviks

Kanker serviks sebenarnya termasuk penyakit yang dapat dicegah dan dideteksi lebih dini. Beberapa langkah pencegahan yang dapat kamu lakukan adalah:

  • Rutin melakukan skrining sesuai usia, seperti Pap smear, tes HPV, atau IVA. Skrining dapat membantu mendeteksi perubahan sel sejak dini sebelum berkembang menjadi kanker.
  • Melakukan vaksinasi HPV, idealnya sebelum aktif berhubungan seksual.
  • Menghindari berganti-ganti pasangan seksual.
  • Menggunakan kondom saat berhubungan seksual (meskipun tidak memberikan perlindungan 100% terhadap HPV).
  • Tidak merokok.

Kesimpulan

Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi virus Human Papillomavirus (HPV) berisiko tinggi. Risiko meningkat dengan adanya faktor seperti sistem kekebalan tubuh yang lemah dan perilaku seksual tertentu.

Kanker serviks sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, sehingga skrining rutin sangat penting untuk deteksi dini. Apabila kamu mengalami beberapa gejala seperti yang telah disebutkan di atas, segera lakukan Pemeriksaan Klinis di Kaiser Cancer Center.

Di Kaiser Cancer Center, tenaga medis profesional akan memantau kondisimu selama menjalani proses pemeriksaan hingga pengobatan. Segera lakukan konsultasi dan dapatkan penanganan yang tepat untuk menjaga kesehatan alat reproduksimu bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.

Baca juga: Perbedaan SADARI dan SADANIS: Metode dan Waktu Pelaksanaan

Reviewer Image
dr. Jeaneth Angelia, Sp.OG
Spesialis Obstetri dan Ginekologi Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam bidang kesehatan wanita.

Artikel Terkait

A doctor smiling at a patient at Kaiser Cancer Center

Tim Kaiser Siap Menemani Setiap Langkahmu

Kami percaya, setiap langkah menuju pemulihan layak mendapat dukungan terbaik. Tim Kaiser hadir untuk mendampingimu—membawa ketenangan, harapan, dan dukungan di setiap tahap perjalananmu melalui pendekatan medis berteknologi mutakhir dan berstandar global.

Dapatkan Informasi Terbaru dari Kaiser

Subscribe untuk tetap terhubung dan menerima update terbaru dari Kaiser.