Logo

Bisakah USG Mendeteksi Kanker Ovarium? Inilah Penjelasannya!

Penulis: Tim Kaiser Cancer Center

Bagikan:

detail image article
Diagnosis & Screening

Apakah perutmu sering kembung, terasa nyeri di panggul, atau cepat kenyang meski hanya makan sedikit? Gejala-gejala ini memang sering dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa. Padahal, bila terjadi terus-menerus selama beberapa minggu, kondisi ini dapat menjadi salah satu gejala awal kanker ovarium.

Untuk mengetahui penyebabnya, dokter biasanya akan merekomendasikan pemeriksaan USG sebagai salah satu langkah awal dalam mengevaluasi kelainan pada ovarium. Namun, apakah USG benar-benar bisa mendeteksi kanker ovarium? Seberapa akurat hasilnya dan apa saja yang sebenarnya dinilai dokter melalui pemeriksaan ini? Simak penjelasannya di bawah ini.

Mengenal USG untuk Kanker Ovarium: Apa Perannya?

Pemeriksaan ultrasound (USG) adalah prosedur medis yang menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menciptakan gambar jaringan dan organ di dalam tubuh secara real-time.

USG berperan penting dalam membantu dokter melihat kondisi ovarium yang tidak dapat dinilai hanya melalui pemeriksaan fisik. Beberapa peran utamanya meliputi:

  • Mendeteksi adanya massa atau benjolan: USG membantu menemukan adanya kista, tumor, atau pertumbuhan jaringan abnormal pada ovarium yang mungkin menjadi penyebab keluhan pasien.
  • Menilai karakteristik massa ovarium: Dokter dapat menilai ukuran, bentuk, dinding, isi, serta komponen padat atau cair pada massa. Karakteristik ini membantu memperkirakan apakah massa lebih mengarah ke jinak atau ganas, meskipun diagnosis pasti tetap memerlukan pemeriksaan lanjutan.
  • Melihat adanya penumpukan cairan (asites): Kanker ovarium stadium lanjut sering kali menyebabkan penumpukan cairan di rongga perut atau panggul. USG dapat mendeteksi keberadaan cairan abnormal ini.
  • Menilai aliran darah dengan USG Doppler: Tumor ganas umumnya memiliki pembuluh darah baru yang lebih banyak sehingga menunjukkan pola aliran darah yang berbeda dibandingkan massa jinak.

Jenis USG untuk Mendeteksi Kanker Ovarium

Untuk mengevaluasi ovarium, dokter umumnya menggunakan dua jenis pemeriksaan USG, yaitu USG abdomen dan USG transvaginal. Pemilihan jenis USG disesuaikan dengan kondisi pasien dan tujuan pemeriksaan. Berikut adalah masing-masing penjelasannya.

1. USG Abdomen (Perut)

USG abdomen dilakukan untuk melihat gambaran visual ovarium, rahim, serta organ dalam lainnya di area perut dan panggul. Saat pemeriksaan, dokter akan mengoleskan sedikit gel bening pada perut pasien, lalu menggerakkan alat transduser di atasnya untuk melihat gambaran organ di dalam tubuh.

Prosedur ini umumnya tidak menimbulkan rasa sakit atau ketidaknyamanan. Namun, karena gelombang suara dapat menembus kandung kemih yang penuh dengan lebih baik, pasien biasanya diminta menahan buang air kecil sebelum pemeriksaan agar gambaran organ panggul menjadi lebih jelas.

2. USG Transvaginal

Berbeda dengan USG abdomen, USG transvaginal dilakukan dengan memasukkan alat pemindai khusus berbentuk stik kecil (probe) langsung ke dalam vagina. 

Sebelum menjalani USG transvaginal, pasien akan diminta untuk mengosongkan kandung kemih terlebih dahulu. Setelah itu, probe yang telah dilapisi pelindung dan gel pelumas akan dimasukkan melalui vagina. Prosedur ini umumnya tidak menimbulkan rasa sakit, meskipun pasien mungkin akan merasakan sedikit tekanan atau ketidaknyamanan di area panggul.

Karena posisinya yang sangat dekat dengan organ reproduksi, USG ini bisa memberikan gambaran ovarium, rahim, dan tuba falopi secara lebih detail. Maka dari itu, USG transvaginal sering kali menjadi pilihan utama untuk mendeteksi berbagai kelainan pada organ reproduksi, termasuk tanda-tanda yang mengarah pada kanker ovarium.

Baca juga: Pemeriksaan Kanker Payudara: Kenali Jenis Skrining Sejak Dini

Apakah Pemeriksaan USG Efektif Mendeteksi Kanker Ovarium?

USG merupakan pemeriksaan utama untuk mengevaluasi adanya massa atau kelainan pada ovarium. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa USG transvaginal memiliki akurasi yang tinggi dalam membedakan massa yang kemungkinan jinak maupun ganas.

Meskipun demikian, hasil USG saja tidak dapat memastikan diagnosis kanker ovarium. Bila ditemukan kelainan yang mencurigakan, dokter biasanya akan mempertimbangkan pemeriksaan lanjutan, seperti tes darah CA-125, CT scan atau MRI pada kondisi tertentu, maupun tindakan operasi atau biopsi bila diperlukan.

Hal ini sejalan dengan temuan dari sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Diagnostics (2025). Studi tersebut menunjukkan bahwa kombinasi USG transvaginal dan pemeriksaan CA-125 dapat meningkatkan akurasi dalam mengevaluasi massa ovarium yang dicurigai sebagai keganasan. 

Namun, USG transvaginal belum direkomendasikan sebagai pemeriksaan skrining rutin pada wanita tanpa gejala dengan risiko rata-rata.

Apa Saja Temuan USG yang Mengarah ke Kanker Ovarium?

Perlu diingat bahwa USG dapat mendeteksi tanda-tanda kelainan pada ovarium, tetapi tidak dapat memastikan apakah kelainan tersebut bersifat jinak atau ganas. Saat melakukan USG, dokter tidak hanya mencari ada atau tidaknya benjolan, tetapi juga menilai karakteristik massa tersebut. Beberapa temuan yang dapat meningkatkan kecurigaan terhadap kanker ovarium meliputi:

  • Benjolan atau massa: Dokter akan melihat ukuran, bentuk, dan struktur dari benjolan yang ditemukan pada ovarium. Massa yang lebih dicurigai ganas umumnya memiliki komponen padat, dinding atau sekat yang tebal, permukaan tidak rata, atau tonjolan jaringan padat (papillary projection) di dalam kista.
  • Penumpukan cairan: Hasil USG juga dapat mendeteksi adanya penumpukan cairan (asites) di rongga perut yang meningkatkan kecurigaan terhadap kanker ovarium, terutama bila disertai massa ovarium yang tampak abnormal.
  • Aliran darah abnormal: Melalui pemeriksaan USG Doppler, dokter dapat melihat pola aliran darah di sekitar benjolan. Massa ganas umumnya menunjukkan pembentukan pembuluh darah baru sehingga tampak memiliki aliran darah yang lebih banyak pada pemeriksaan Doppler.

Untuk membantu membedakan apakah suatu massa ovarium lebih mengarah ke jinak atau ganas, dokter sering menggunakan IOTA (International Ovarian Tumor Analysis) Simple Rules. Sistem penilaian ini telah divalidasi secara internasional dan banyak digunakan dalam praktik klinis untuk mengevaluasi massa ovarium pada pemeriksaan USG.

Kriteria ini terdiri dari 5 fitur jinak (B-features) dan 5 fitur ganas (M-features). Berikut adalah kriteria fitur jinak:

  • B1: Kista satu kantung (unilokular) tanpa komponen padat.
  • B2: Terdapat komponen padat dengan diameter terbesarnya kurang dari 7 mm.
  • B3: Adanya bayangan akustik di belakang massa.
  • B4: Kista beberapa kantung (multilokular) berdinding halus dengan diameter terbesar kurang dari 100 mm.
  • B5: Tidak ditemukan aliran darah saat pemeriksaan.

Kriteria fitur ganas adalah sebagai berikut:

  • M1: Tumor padat dengan permukaan atau tepi yang tidak teratur.
  • M2: Ditemukan penumpukan cairan di dalam rongga perut.
  • M3: Terdapat minimal 4 atau lebih proyeksi papiler (tonjolan seperti kembang kol) di dalam kista.
  • M4: Tumor padat multilokular (banyak kantung dan komponen padat) dengan ukuran terbesar 100 mm atau lebih.
  • M5: Aliran darah yang sangat kuat saat pemeriksaan.

Apabila hanya ditemukan fitur jinak (B-features), massa cenderung bersifat jinak. Sebaliknya, bila hanya ditemukan fitur ganas (M-features), risiko keganasan lebih tinggi sehingga pasien biasanya memerlukan evaluasi lebih lanjut oleh dokter spesialis. 

Bila ditemukan kombinasi fitur jinak dan ganas atau hasilnya tidak memenuhi kriteria keduanya, dokter dapat menggunakan sistem penilaian lain, seperti IOTA ADNEX Model, atau mempertimbangkan pemeriksaan tambahan.

Namun, bagaimana jika hasilnya normal? Hasil USG yang normal tentu merupakan kabar baik karena tidak ditemukan kelainan yang mencurigakan pada saat pemeriksaan. Namun, hasil normal tidak selalu menyingkirkan kemungkinan kanker ovarium sepenuhnya, terutama bila gejala menetap atau semakin berat.

Jika gejala (perut kembung atau sering buang air kecil) tidak kunjung membaik meskipun hasil USG normal, konsultasikan kembali dengan dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dokter dapat mempertimbangkan evaluasi ulang atau pemeriksaan lain untuk mencari penyebab keluhan tersebut, karena gejala serupa juga dapat disebabkan oleh kondisi lain, seperti gangguan pencernaan, infeksi saluran kemih, atau batu ginjal.

Siapa yang Perlu Menjalani USG untuk Kanker Ovarium?

Pemeriksaan USG transvaginal belum direkomendasikan sebagai metode skrining rutin bagi wanita yang tidak memiliki gejala dan berisiko rata-rata terhadap kanker ovarium. Namun, dokter dapat menyarankan pemeriksaan ini pada wanita dengan risiko tinggi atau yang mengalami gejala yang mengarah ke kanker ovarium.

1. Wanita dengan Risiko Tinggi

USG dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari evaluasi pada wanita yang memiliki faktor risiko berikut:

  • Memiliki sindrom genetik yang meningkatkan risiko kanker ovarium, seperti Lynch syndrome.
  • Memiliki mutasi gen BRCA1 atau BRCA2.
  • Memiliki riwayat keluarga dengan kanker ovarium, kanker payudara, atau kanker terkait mutasi BRCA.

2. Wanita yang Mengalami Gejala

USG juga dianjurkan bila kamu mengalami gejala yang menetap, terutama jika berlangsung hampir setiap hari selama beberapa minggu, seperti:

  • Perut terasa kembung atau penuh secara terus-menerus.
  • Cepat kenyang meskipun hanya makan sedikit.
  • Lebih sering buang air kecil atau merasa ingin buang air kecil terus-menerus.
  • Nyeri atau rasa tertekan di area panggul maupun perut bagian bawah.

Jika kamu mengalami satu atau beberapa gejala tersebut secara menetap, jangan menunda untuk berkonsultasi dengan dokter. Semakin dini penyebab keluhan diketahui, semakin cepat pula penanganan yang sesuai dapat diberikan.

Baca juga: 7 Gejala Kanker Payudara yang Perlu Diwaspadai Sejak Dini

USG sebagai Bagian dari Rangkaian Diagnosis Kanker Ovarium

USG merupakan pemeriksaan penting untuk mengevaluasi kelainan pada ovarium, termasuk mendeteksi adanya massa, penumpukan cairan, maupun tanda-tanda lain yang dapat mengarah pada kanker ovarium.

Bila ditemukan kelainan yang mencurigakan, dokter akan mempertimbangkan hasil USG bersama gejala, pemeriksaan laboratorium, pencitraan lain bila diperlukan, serta penilaian menggunakan sistem seperti IOTA untuk menentukan langkah diagnosis selanjutnya.

Jika kamu mengalami gejala yang tidak biasa secara terus-menerus, kamu bisa melakukan Pemeriksaan Diagnostik di Kaiser Cancer Center. Pemeriksaan ini meliputi tes pencitraan (termasuk USG dan CT scan), biopsi, hingga tes genomik untuk menganalisis mutasi genetik pada tumor.

Selain itu, hasil tes pemeriksaan akan ditinjau oleh tim multidisiplin yang terdiri atas dokter dari berbagai spesialisasi. Pendekatan ini memastikan diagnosis yang akurat dan rencana pengobatan yang sesuai dengan kebutuhan pasien.

Jangan tunggu sampai gejala memburuk dan segera periksakan diri untuk kesehatan organ reproduksi yang lebih baik, bersama Kaiser Cancer Center #CareWithClarity.

Baca juga: Skrining Kanker, Jangan Tunggu Hingga Gejala Muncul!

Referensi:

Reviewer Image
dr. Jeaneth Angelia, Sp.OG
Spesialis Obstetri dan Ginekologi Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam bidang kesehatan wanita.
A doctor smiling at a patient at Kaiser Cancer Center

Tim Kaiser Siap Menemani Setiap Langkahmu

Kami percaya, setiap langkah menuju pemulihan layak mendapat dukungan terbaik. Tim Kaiser hadir untuk mendampingimu—membawa ketenangan, harapan, dan dukungan di setiap tahap perjalananmu melalui pendekatan medis berteknologi mutakhir dan berstandar global.

Dapatkan Informasi Terbaru dari Kaiser

Subscribe untuk tetap terhubung dan menerima update terbaru dari Kaiser.