Pemeriksaan kanker payudara terdiri dari skrining untuk menemukan kelainan sebelum bergejala (SADARI, SADANIS, mammografi, dan USG, serta MRI pada kelompok risiko tinggi) dan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis, seperti biopsi.
Bagi perempuan dengan risiko rata-rata, mammografi umumnya dianjurkan mulai usia 40 tahun, sedangkan SADARI dapat dimulai sekitar usia 20 tahun dan dilakukan setiap bulan. Jika kamu menemukan benjolan atau perubahan pada payudara, periksakan ke dokter tanpa menunggu jadwal skrining.
Pemeriksaan ini tidak hanya penting bagi mereka yang sudah memiliki keluhan, tetapi juga bagi kamu yang belum merasakan apa pun, karena kanker payudara pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan tanda yang jelas. Namun, banyak yang masih bingung memilih jenis pemeriksaan, kapan harus mulai, dokter mana yang perlu ditemui, hingga berapa biayanya. Simak penjelasannya di bawah ini.
Perbedaan Skrining, Diagnosis, dan Staging
- Skrining: pemeriksaan pada orang yang belum bergejala untuk menemukan kelainan sedini mungkin (SADARI, SADANIS, mammografi, USG, dan MRI pada risiko tinggi).
- Diagnosis: pemeriksaan untuk memastikan ada tidaknya kanker setelah ditemukan kelainan (pencitraan lanjutan dan biopsi).
- Penilaian penyebaran (staging): pemeriksaan setelah kanker terdiagnosis untuk melihat apakah sudah menyebar ke organ lain (misalnya PET scan).
Kapan Pemeriksaan Kanker Payudara Perlu Dilakukan?
Skrining kanker payudara perlu dilakukan secara berkala sesuai usia dan tingkat risiko masing-masing. Jadwal umumnya sebagai berikut:
- SADARI: setiap bulan sejak sekitar usia 20 tahun, idealnya 7-10 hari setelah menstruasi selesai. Bagi yang sudah menopause, pilih satu tanggal tetap setiap bulan.
- SADANIS: dilakukan tenaga medis minimal sekali setahun, terutama bagi perempuan di atas usia 35 tahun atau yang memiliki riwayat keluarga kanker payudara, menurut Kementerian Kesehatan RI.
- Mammografi: Skrining ini bisa dimulai usia 40 tahun. U.S. Preventive Services Task Force (USPSTF) menganjurkan mammografi setiap 2 tahun pada usia 40 hingga 74 tahun, sedangkan American Cancer Society (ACS) menyebut usia 40-44 tahun boleh memulai tahunan, usia 45-54 tahun setiap tahun, dan usia 55 tahun ke atas setiap 2 tahun atau tetap tahunan.
- Kelompok risiko tinggi (misalnya mutasi BRCA1/BRCA2, riwayat keluarga yang kuat, atau pernah menjalani radiasi dada di usia muda): perlu memulai lebih awal dan lebih sering dan dapat dimulai sejak usia 30 tahun.
- Jika sudah ada gejala: segera periksa ke dokter tanpa menunggu jadwal skrining.
Jadwal ini bersifat umum. Konsultasi dengan dokter dapat membantu menilai risiko dan menentukan jadwal yang paling tepat untukmu.
1. SADARI: Pemeriksaan Mandiri di Rumah
SADARI (Periksa Payudara Sendiri) adalah cara sederhana untuk mengenali perubahan pada payudara. Pemeriksaan ini dapat dilakukan sendiri di rumah tanpa alat khusus. Cara melakukannya adalah sebagai berikut:
- Berdiri di depan cermin dan amati bentuk serta tekstur kulit payudara.
- Raba seluruh area payudara dan ketiak dengan lembut.
- Perhatikan apakah ada benjolan, perubahan bentuk, atau rasa nyeri yang tidak biasa.
Waktu terbaik untuk melakukan SADARI adalah 7-10 hari setelah menstruasi selesai. Bagi wanita yang sudah menopause, pilih satu tanggal yang tetap setiap bulan untuk melakukan pemeriksaan.
Jika kamu menemukan perubahan yang mencurigakan pada payudara, segera konsultasikan dengan dokter. Perlu diingat, SADARI bukan metode diagnosis, melainkan langkah awal untuk deteksi dini kanker payudara.
Baca juga: 7 Gejala Kanker Payudara yang Perlu Diwaspadai Sejak Dini
2. Pemeriksaan Medis Kanker Payudara (SADANIS)
Selain pemeriksaan mandiri, langkah penting lain untuk mendeteksi kanker payudara adalah melalui prosedur medis (SADANIS). Lantas, pemeriksaan apa yang bisa dijalani untuk mengetahui kanker payudara secara medis? Berikut adalah beberapa prosedur medis untuk melakukan deteksi dini kanker payudara:
1. Tes Genetik
Tes genetik dapat digunakan untuk menilai apakah seseorang memiliki perubahan gen tertentu yang meningkatkan risiko kanker payudara, seperti BRCA1 dan BRCA2.
Pemeriksaan ini biasanya direkomendasikan untuk seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara atau kanker ovarium. Melalui tes ini, dokter dapat menilai faktor risiko genetik dan memberikan rekomendasi langkah pencegahan yang lebih tepat.
Tes genetik kanker payudara biasanya dilakukan dengan mengambil sampel darah atau air liur, yang kemudian dianalisis di laboratorium. Namun, tes ini tidak mendiagnosis kanker secara langsung, melainkan membantu menilai risiko penyakit tersebut berkembang pada tubuh seseorang.
2. Mammografi
Mammografi menggunakan sinar-X dosis rendah untuk mendeteksi perubahan jaringan payudara yang tidak terlihat secara fisik. Pemeriksaan ini efektif untuk menemukan tanda-tanda awal kanker, seperti kalsifikasi atau benjolan kecil.
Direkomendasikan bagi wanita dengan risiko tinggi, mammografi membantu dokter menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan seperti biopsi.
Baca juga: Mengenal MammoReady: Ketahui Risiko Kanker Payudara Lebih Awal
3. MRI Payudara
MRI (Magnetic Resonance Imaging) payudara adalah pemeriksaan lanjutan yang menggunakan teknologi medan magnet dan gelombang radio untuk menghasilkan gambar detail jaringan payudara. Prosedur ini membantu mendeteksi kelainan yang mungkin tidak terlihat jelas pada mammografi maupun USG.
Selain untuk deteksi dini, MRI payudara menilai sejauh mana penyebaran kanker dan memantau respons terhadap terapi. Hasil gambar yang dihasilkan sangat sensitif sehingga dokter dapat mengevaluasi kondisi pasien dengan lebih akurat.
Baca juga: 9 Pantangan Makanan untuk Penderita Kanker Payudara
4. USG Payudara
USG menggunakan gelombang suara untuk menampilkan kondisi jaringan payudara. Prosedur ini cocok untuk wanita dengan jaringan payudara padat, ibu hamil, atau menyusui karena tidak menggunakan radiasi.
USG membantu membedakan antara benjolan padat dan kista, dan biasanya digunakan sebagai pemeriksaan lanjutan setelah SADARI.
Baca juga: Hasil USG Payudara Normal, Apakah Bebas dari Kanker?
5. PET Scan
PET scan (Positron Emission Tomography) adalah prosedur terbaru pencitraan medis yang menggunakan zat radioaktif dalam jumlah kecil untuk membantu dokter melihat aktivitas sel-sel di dalam tubuh.
Berbeda dengan pemeriksaan gambar biasa, PET scan dapat menunjukkan bagaimana sel berfungsi sehingga membantu mendeteksi lokasi sebaran sel-sel kanker yang aktif di dalam tubuh.
Pada kasus kanker payudara, PET scan dapat membantu dokter melihat apakah kanker sudah menyebar ke organ lain, seperti tulang atau kelenjar getah bening.
6. Biopsi
Pada beberapa kondisi, dokter mungkin menyarankan biopsi (pengambilan sampel jaringan payudara) untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sampel jaringan tersebut kemudian diperiksa di laboratorium agar dokter mendapatkan hasil yang tepat dan akurat.
Biopsi dapat dilakukan dengan berbagai teknik, seperti biopsi jarum halus, biopsi jarum inti, atau biopsi bedah, tergantung kondisi dan rekomendasi dokter.
Prosedur ini biasanya dianjurkan apabila hasil mammografi, USG, atau MRI menunjukkan area yang mencurigakan dan memerlukan analisis lebih mendalam.
Baca juga: Biopsi Payudara: Langkah Penting Menuju Diagnosis yang Akurat
Persiapan sebelum Pemeriksaan Payudara
Beberapa hal berikut perlu diperhatikan untuk membantu pemeriksaan payudara berjalan lancar:
- Kenakan pakaian atasan yang mudah dilepas.
- Lepaskan perhiasan, dan hindari deodoran, bedak, atau losion di area payudara dan ketiak karena dapat memengaruhi kualitas gambar.
- Beri tahu petugas bila kamu sedang hamil atau menyusui, karena mammografi memakai sinar-X dan USG dapat menjadi pilihan.
- Bawa hasil pemeriksaan payudara sebelumnya bila ada, sebagai pembanding.
- Sebaiknya jadwalkan di luar waktu payudara terasa nyeri, misalnya beberapa hari setelah menstruasi selesai.
Pemeriksaan Tepat untuk Kanker Payudara
Deteksi dini adalah kunci penanganan kanker payudara yang efektif. Dengan memahami jenis pemeriksaan, jadwal yang sesuai usia dan risikomu, serta rutin memeriksakan diri, kamu dapat menjaga kesehatan payudara sekaligus meningkatkan peluang kesembuhan.
Jika kamu merasakan adanya perubahan atau keluhan pada payudara, segera konsultasikan dengan dokter. Kamu dapat melakukan Pemeriksaan Klinis di Kaiser Cancer Center bersama dokter dan tenaga medis profesional untuk mendapatkan evaluasi yang sesuai dengan kondisi kesehatanmu secara lebih menyeluruh.
Yuk, jaga kesehatan payudara mulai hari ini bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.
Frequently Asked Questions (FAQ)
Pemeriksaan payudara ke dokter apa?
Jika ada benjolan, perubahan, atau kecurigaan kanker payudara, kamu dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah onkologi (Sp.B, Subsp.Onk(K)) untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut. Untuk pemeriksaan awal atau skrining rutin, kamu juga bisa mulai dari dokter umum, dokter bedah umum, atau dokter kandungan, yang dapat melakukan pemeriksaan awal dan merujuk ke dokter yang sesuai bila ditemukan kelainan. Kamu bisa melihat tim dokter Kaiser Cancer Center untuk berkonsultasi terlebih dahulu.
Apa beda USG payudara dan mammografi?
Mammografi menggunakan sinar-X dosis rendah dan menjadi standar skrining untuk perempuan usia 40 tahun ke atas karena mampu menampilkan benjolan kecil dan kalsifikasi sebelum teraba. USG menggunakan gelombang suara tanpa radiasi, sehingga lebih sering dipilih pada usia di bawah 40 tahun, payudara padat, ibu hamil atau menyusui, serta untuk membedakan kista dari benjolan padat dan menindaklanjuti temuan mammografi atau SADANIS.
Berapa biaya cek mamografi? Biaya mammografi 2D atau 3D mulai sekitar Rp400.000 hingga Rp900.000. Untuk biaya dan paket di Kaiser Cancer Center, silakan berkonsultasi secara gratis atau lihat layanan Skrining dan Deteksi Dini.
Referensi
- American Cancer Society. American Cancer Society guidelines for the early detection of cancer [Internet]. 2026 [diakses 28 September 2026]. Tersedia dari: https://www.cancer.org/cancer/screening/american-cancer-society-guidelines-for-the-early-detection-of-cancer.html
- Kaiser Cancer Center. Pemeriksaan mammografi, langkah penting deteksi dini kanker payudara [Internet]. [diakses 28 September 2026]. Tersedia dari: https://www.kaisercancercenter.id/artikel/pemeriksaan-mammografi
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Deteksi dini kanker payudara breast cancer semakin cepat semakin besar peluang sembuh [Internet]. 25 Agustus 2025 [diakses 28 September 2026]. Tersedia dari: https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/4168/deteksi-dini-kanker-payudara-breast-cancer-semakin-cepat-semakin-besar-peluang-sembuh
- US Preventive Services Task Force. Screening for breast cancer: US Preventive Services Task Force recommendation statement. JAMA. 2024;331(22):1918-1930. doi:10.1001/jama.2024.5534.








