Selain kanker payudara, kanker serviks masih menjadi salah satu jenis kanker yang paling sering menyerang perempuan. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus Human papillomavirus (HPV) yang sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.
Kabar baiknya, risiko tersebut dapat ditekan melalui vaksinasi HPV dan deteksi dini. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai manfaat, cara kerja, dan hal penting lainnya, simak penjelasan lengkapnya dalam artikel ini.
Vaksin Kanker Serviks
Vaksin untuk mencegah kanker serviks adalah vaksin HPV yang dirancang untuk merangsang sistem imun agar mengenali dan melawan virus Human papillomavirus (HPV) sebelum virus tersebut menginfeksi sel tubuh.
Perlu dipahami, vaksin HPV bukanlah obat untuk kanker serviks. Fungsinya adalah mencegah infeksi HPV yang dapat menyebabkan terbentuknya sel abnormal pada leher rahim yang berpotensi berkembang menjadi kanker di kemudian hari.
Vaksin HPV memberikan perlindungan terhadap berbagai tipe HPV, termasuk tipe berisiko tinggi seperti HPV-16 dan HPV-18 yang paling sering menyebabkan kanker serviks, serta tipe berisiko rendah yang dapat menimbulkan kutil kelamin.
Siapa yang Perlu Mendapatkan Vaksin HPV?
Vaksin HPV paling efektif diberikan kepada individu yang belum aktif secara seksual, idealnya pada anak atau remaja usia 9–14 tahun. Meski demikian, vaksin juga direkomendasikan bagi orang dewasa hingga usia 45 tahun untuk perlindungan terhadap infeksi HPV.
Lantas, vaksin kanker serviks berapa kali? Dosis pemberian vaksin HPV umumnya disesuaikan dengan usia pasien:
Anak di bawah 15 tahun: 2 dosis dengan jarak 6-12 bulan.
Usia ≥ 15 tahun: 3 dosis yang diberikan selama 6 bulan.
Baca juga: Kenali Penyebab Kanker Payudara dan Faktor Risikonya
Siapa yang Tidak Boleh Mendapatkan Vaksin HPV?
Ibu hamil merupakan salah satu kelompok yang tidak dianjurkan menerima vaksin HPV karena data keamanan pada ibu hamil masih terbatas. Namun, jika seseorang tidak sengaja sudah menerima vaksin sebelum mengetahui dirinya hamil, tidak perlu khawatir karena belum terbukti menimbulkan risiko serius. Vaksinasi dapat dilanjutkan setelah melahirkan.
Selain itu, vaksin ini juga tidak disarankan bagi orang yang pernah mengalami reaksi alergi berat setelah dosis vaksin HPV sebelumnya atau memiliki riwayat alergi parah terhadap komponen vaksin yang dapat mengancam nyawa.
Seseorang yang sedang menderita penyakit dengan tingkat keparahan sedang hingga berat sebaiknya juga menunda vaksinasi sampai kondisinya membaik dan tubuh kembali sehat agar respons tubuh terhadap vaksin tetap optimal.
Sebaiknya konsultasikan dengan tenaga medis sebelum vaksinasi untuk memastikan keamanan serta membahas riwayat kesehatan, alergi, atau kondisi khusus lainnya agar vaksinasi berjalan aman dan efektif.
Cara Kerja Vaksin HPV
Vaksin HPV bekerja dengan melatih sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan melawan infeksi Human Papillomavirus (HPV) sebelum virus tersebut dapat menyebabkan infeksi atau berkembang menjadi penyakit serius, termasuk kanker serviks.
Vaksin ini tidak mengandung virus hidup, melainkan menggunakan partikel mirip virus (virus-like particles/VLP) yang aman dan tidak menyebabkan penyakit.
Saat vaksin diberikan, tubuh akan membentuk antibodi khusus terhadap tipe HPV yang diberikan melalui vaksin. Antibodi ini berfungsi sebagai memori imun yang akan membantu tubuh mengenali dan melawan virus jika terpapar di kemudian hari.
Dengan cara ini, vaksin memberikan perlindungan jangka panjang dan mengurangi risiko infeksi, kutil kelamin, serta komplikasi lain yang dapat ditimbulkan oleh HPV di masa depan.
Cara Mendapatkan Vaksin HPV
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan vaksin HPV, tergantung usia dan akses layanan kesehatan:
- Anak-anak usia 12–13 tahun: Anak usia remaja dapat menerima vaksin di sekolah melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) atau bisa datang langsung ke fasilitas kesehatan terdekat bagi yang tidak bersekolah.
- Perempuan usia 24 tahun ke bawah: Pada usia ini, kamu bisa mendapatkan vaksin HPV dengan berkunjung ke dokter, laboratorium klinik, klinik vaksin, atau datang ke puskesmas untuk mendapatkan vaksin.
Perempuan usia 24 tahun ke atas atau yang sudah aktif berhubungan seksual: Vaksin masih dapat diberikan pada kondisi tertentu setelah berkonsultasi dengan dokter, tergantung risiko paparan HPV.
Baca juga: Jenis Pemeriksaan Kanker Payudara yang Wajib Kamu Ketahui
Risiko Efek Samping Vaksin HPV
Vaksin HPV umumnya tergolong aman karena telah melalui uji klinis ketat. Namun demikian, seperti vaksin lainnya, tetap ada kemungkinan efek samping yang muncul sesaat setelah penyuntikan pada sebagian orang. Beberapa efek samping yang paling umum meliputi:
- Mual
- Pusing
- Demam
- Nyeri otot atau sendi
- Sakit kepala atau rasa lelah
- Nyeri, bengkak, atau kemerahan di area suntikan
Reaksi alergi berat, tetapi kondisi ini jarang terjadi
Meski tetap berpotensi menimbulkan efek samping, sebagian besar gejalanya bersifat ringan dan akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari.
Kesimpulan
Vaksin kanker serviks merupakan langkah penting dalam pencegahan infeksi HPV yang berisiko menyebabkan kanker serviks dan beberapa jenis kanker lainnya.
Pemberian vaksin sejak dini, idealnya sebelum aktif secara seksual, dapat memberikan perlindungan yang optimal. Meskipun vaksin tidak mengobati kanker, kombinasi vaksinasi dan skrining rutin tetap menjadi strategi terbaik untuk menjaga kesehatan serviks.
Selain vaksinasi, deteksi dini melalui layanan pemeriksaan Pap Smear secara rutin juga sangat dianjurkan untuk menjaga kesehatan leher rahim dan memastikan sel abnormal teridentifikasi lebih awal. Kamu bisa mengunjungi Kaiser Cancer Center untuk melakukan pemeriksaan ini.
Di Kaiser Cancer Center, tim medis profesional akan mendampingimu dalam proses pemeriksaan hingga pengobatan sesuai kondisimu. Mari percayakan langkah perawatan kesehatan serviks kamu bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.
Frequently Asked Questions (FAQs)
1. Apa fungsi vaksin HPV?
Vaksin HPV berfungsi untuk melindungi tubuh dari infeksi Human Papillomavirus (HPV) yang menjadi penyebab utama kanker serviks.
2. Apakah vaksin HPV ditanggung BPJS?
Saat ini, vaksin HPV belum ditanggung oleh BPJS Kesehatan.
3. Apakah vaksin HPV gratis di puskesmas?
Pemerintah menyediakan vaksin HPV gratis bagi siswi kelas 5–6 SD melalui program tahunan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) di puskesmas. Sementara itu, perempuan di luar kelompok usia tersebut perlu melakukan vaksinasi secara mandiri di fasilitas kesehatan.
4. Perlukah vaksin HPV sebelum menikah?
Ya, vaksin HPV sangat dianjurkan sebelum menikah. Vaksin ini bekerja paling efektif jika diberikan sebelum seseorang terpapar virus HPV, yang umumnya ditularkan melalui kontak seksual.
5. Apa saja jenis vaksin HPV?
Vaksin HPV dibedakan berdasarkan jenis virus HPV yang dapat dicegah, yakni:
- Cervarix: Melindungi dari HPV tipe 16 dan 18.
- Gardasil: Melindungi dari HPV tipe 6, 11, 16, dan 18.
- Gardasil-9: Melindungi dari HPV tipe 6, 11, 16, 18, 31, 33, 45, 52, dan 58.
Baca juga: Jenis Pengobatan Kanker Payudara yang Umum Dilakukan








