Tahukah kamu bahwa tidak semua kematian pada pasien kanker disebabkan langsung oleh pertumbuhan sel kanker? Dalam beberapa kasus, ancaman justru datang dari komplikasi akut yang dikenal sebagai kegawatdaruratan onkologi.
Kondisi ini merupakan situasi kritis yang dapat muncul akibat komplikasi kanker itu sendiri atau sebagai efek samping dari pengobatan. Keadaan ini memerlukan penanganan segera karena tanpa intervensi medis yang cepat dan tepat, pasien dapat mengalami komplikasi serius, kerusakan organ, hingga kematian.
Maka dari itu, penting untuk mengenali tanda-tanda bahayanya agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. Simak apa saja gejala dan jenisnya melalui artikel berikut ini.
Apa Itu Kegawatdaruratan Onkologi?
Kegawatdaruratan onkologi adalah kondisi kritis yang bisa muncul kapan saja akibat komplikasi dari kanker itu sendiri atau efek samping pengobatan yang tengah dijalani, dan memerlukan penanganan medis segera karena dapat berkembang cepat dengan risiko komplikasi yang mengancam nyawa jika terlambat ditangani.
Bayangkan seorang pasien yang telah menjalani kemoterapi selama beberapa minggu dengan jadwal teratur dan kondisi yang tampak stabil. Namun, secara tiba-tiba di suatu malam, pasien mengalami demam tinggi disertai sesak napas, sementara tubuh tidak lagi merespons seperti biasanya.
Kondisi seperti ini bukanlah sekadar efek samping biasa yang bisa ditunda penanganannya hingga esok pagi tiba, melainkan dapat menjadi tanda komplikasi serius, terutama jika disertai neutropenia atau infeksi, sehingga memerlukan evaluasi medis segera.
Kondisi ini menuntut kewaspadaan penuh karena gejalanya sering kali menyerupai keluhan umum, tetapi dapat berkembang cepat dan menimbulkan komplikasi serius tanpa penanganan yang tepat.
Baca juga: Kemoterapi Kanker: Ketahui Proses dan Tanda Keberhasilannya
Mengenal Jenis-Jenis Kegawatdaruratan Onkologi
Kegawatdaruratan onkologi dapat dikelompokkan berdasarkan mekanisme dan penyebabnya, antara lain menjadi kegawatdaruratan metabolik, hematologi, struktural, infeksi, serta yang berkaitan dengan pengobatan (treatment-related). Pembagian ini membantu tenaga medis mengenali penyebab serta menentukan penanganan yang tepat. Berikut adalah beberapa jenis kegawatdaruratan onkologi yang perlu diketahui.
1. Hiperkalsemia
Hiperkalsemia adalah kondisi ketika kadar kalsium dalam darah meningkat di atas batas normal. Pada pasien kanker, kondisi ini termasuk kegawatdaruratan metabolik yang cukup serius dan memerlukan penanganan segera.
Hiperkalsemia sering kali sulit dikenali karena gejalanya menyerupai keluhan umum. Jika terlambat disadari, kondisi ini dapat memperburuk kondisi pasien dan menyebabkan komplikasi serius. Berikut adalah beberapa gejala yang perlu diwaspadai:
- Mual dan muntah.
- Nafsu makan menurun.
- Sering buang air kecil.
- Lemas dan mudah lelah.
- Nyeri tulang.
- Nyeri perut.
- Sembelit.
- Kebingungan atau sulit fokus.
- Pada kondisi tertentu, dapat terjadi gangguan fungsi ginjal atau pembentukan batu ginjal.
2. Tumor Lysis Syndrome (TLS)
Tumor Lysis Syndrome (TLS) adalah kondisi darurat yang terjadi ketika sel kanker mati dalam jumlah besar secara cepat, biasanya dalam 72 jam setelah pengobatan dimulai, seperti kemoterapi atau radioterapi.
Lantas, mengapa TLS justru berbahaya? Saat sel-sel kanker mati dalam jumlah besar secara mendadak, isi di dalamnya akan dilepaskan ke dalam aliran darah. Zat-zat seperti kalium, fosfor, hingga asam urat dapat meningkat dengan cepat sehingga mengganggu keseimbangan elektrolit dan fungsi organ.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa sangat berbahaya bagi fungsi organ vital. Beberapa efek utama yang dapat terjadi antara lain:
- Kalium tinggi (hiperkalemia): Berisiko mengganggu irama jantung.
- Fosfor tinggi (hiperfosfatemia): Memicu penurunan kadar kalsium dalam darah.
- Kalsium rendah (hipokalsemia): berisiko menyebabkan kejang atau kram otot.
- Asam urat tinggi (hiperurisemia): Berisiko menyumbat dan merusak fungsi ginjal akibat penumpukan kristal asam urat.
Kombinasi dari berbagai gangguan ini merupakan ancaman serius yang bisa berujung pada gangguan ginjal, gangguan irama jantung, kejang, hingga kondisi yang mengancam nyawa jika tidak segera ditangani. Oleh karena itu, kita harus selalu waspada terhadap gejala yang dapat muncul, seperti mual dan muntah, lemas, kram otot atau kejang, detak jantung tidak teratur, hingga penurunan jumlah urine.
Baca juga: HapOnco® Star Panel: Genomic Test untuk Penanganan yang Presisi
3. Leukostasis
Pada beberapa jenis kanker, terutama kanker darah, dapat terjadi perubahan komposisi darah yang signifikan. Salah satu situasi yang perlu diwaspadai adalah ketika darah menjadi lebih "kental" sehingga alirannya terganggu.
Pada leukostasis, kondisi ini terjadi akibat jumlah sel darah putih meningkat sangat tinggi, seperti pada leukemia. Sel-sel ini kemudian bisa menghambat aliran darah, terutama pada pembuluh darah kecil, sehingga fungsi organ dapat terganggu.
Akibatnya, kamu mungkin akan merasakan berbagai gejala, seperti sesak napas, gangguan penglihatan, sakit kepala hebat, hingga penurunan kesadaran secara mendadak. Jika tidak segera ditangani, leukostasis berisiko memicu komplikasi fatal, seperti:
- Gangguan pernapasan.
- Perdarahan di otak (intracranial hemorrhage).
- Gangguan fungsi organ lain.
4. Neutropenic Fever
Pasien yang menjalani kemoterapi sering kali mengalami penurunan jumlah sel darah putih, terutama neutrofil. Kondisi ini disebut sebagai neutropenia, yang dapat menurunkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi.
Jika neutropenia disertai dengan munculnya demam, atau dikenal sebagai neutropenic fever, maka pasien harus segera ditangani karena kondisi ini termasuk dalam kegawatdaruratan onkologi.
Mengapa demikian? Pada situasi ini, infeksi yang awalnya tampak ringan dapat berkembang menjadi infeksi berat atau sepsis dengan cepat, terutama ketika sistem kekebalan tubuh sedang melemah.
Selain itu, kemoterapi juga dapat menyebabkan penurunan jumlah trombosit (trombositopenia), yang meningkatkan risiko perdarahan serius. Temuan dari National Library of Medicine menunjukkan bahwa kondisi ini dapat berkontribusi terhadap komplikasi yang mengancam nyawa jika tidak ditangani dengan tepat1.
Oleh karena itu, pemantauan ketat dan kewaspadaan terhadap gejala sekecil apa pun menjadi langkah penting untuk memastikan proses pengobatan tetap berjalan dengan aman.
Baca juga: Kemoterapi Kanker Serviks, Ini Prosedur dan Efek Sampingnya
5. Hyperviscosity Syndrome
Hyperviscosity syndrome adalah kondisi ketika darah menjadi jauh lebih kental dari biasanya. Meski jarang terjadi, dampaknya bisa sangat serius karena darah yang terlalu kental akan menghambat laju sirkulasi ke seluruh tubuh.
Akibatnya, organ-organ vital kita tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup sehingga memicu penurunan fungsi organ yang berpotensi mengancam nyawa.
Penyebab utamanya bisa bervariasi, mulai dari kadar protein yang melonjak secara drastis (seperti pada multiple myeloma) hingga peningkatan jumlah sel darah (seperti pada leukemia).
Adapun gejala yang sering muncul, yaitu:
- Perdarahan (misalnya mimisan atau gusi berdarah).
- Gangguan penglihatan.
- Gangguan saraf, seperti sakit kepala, pusing, kebingungan, atau kelemahan pada bagian tubuh tertentu.
Kondisi ini terutama perlu dicurigai pada pasien dengan kanker darah tertentu yang mengalami peningkatan protein serum atau jumlah sel darah yang sangat tinggi, terutama jika disertai gejala gangguan penglihatan, perdarahan, atau gangguan saraf.
6. Superior Vena Cava Syndrome
Superior Vena Cava (SVC) Syndrome terjadi ketika pembuluh darah utama yang mengalirkan darah dari tubuh bagian atas ke jantung mengalami tekanan atau sumbatan. Pada pasien kanker, kondisi ini biasanya dipicu oleh desakan massa tumor, seperti pada kanker paru atau limfoma, maupun akibat adanya bekuan darah.
Hambatan aliran ini membuat darah dari area wajah, leher, dan dada tidak dapat kembali ke jantung secara optimal. Akibatnya, terjadi peningkatan tekanan di bagian atas tubuh, yang sering kali ditandai dengan sesak napas serta pembengkakan pada wajah dan leher.
Baca juga: Hasil Biopsi Berapa Lama? Ini Estimasi Waktu dan Penjelasannya
7. Mucositis
Mucositis adalah kondisi ketika lapisan pelindung (mukosa) di mulut atau saluran pencernaan mengalami peradangan. Efek samping ini umum terjadi akibat kemoterapi atau radioterapi, di mana jaringan mukosa yang sensitif menjadi lebih rentan terhadap luka atau sariawan. Meski sering ditemukan di area mulut, mucositis juga bisa terjadi di sepanjang saluran pencernaan kita.
Gejala utama yang sering dirasakan adalah rasa tidak nyaman atau nyeri saat makan dan minum, yang jika dibiarkan tentu dapat memengaruhi asupan nutrisi. Selain itu, kerusakan mukosa dapat meningkatkan risiko infeksi, terutama pada pasien yang juga mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh.
Oleh karena itu, penanganan gejala dan perawatan kebersihan mulut menjadi sangat krusial untuk membantu menjaga asupan nutrisi, mencegah dehidrasi, dan mengurangi risiko komplikasi.
8. Peningkatan Tekanan Intrakranial
Tengkorak kita merupakan struktur yang kuat, tetapi memiliki ruang yang terbatas. Ketika sel kanker menyebar ke otak, pertumbuhan tumor atau pembengkakan di dalam rongga kepala dapat meningkatkan tekanan intrakranial dan menekan jaringan otak di sekitarnya.
Kondisi ini menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial (rongga kepala), yang dapat menimbulkan berbagai gejala, tergantung lokasi lesi dan kecepatan peningkatan tekanan. Beberapa tanda yang sering muncul antara lain:
- Sakit kepala.
- Mual dan muntah.
- Perubahan perilaku.
- Kejang.
- Penurunan kesadaran.
Pada kondisi tertentu, pasien juga bisa mengalami gangguan neurologis fokal, seperti kelemahan di satu sisi tubuh, gangguan penglihatan, atau kelopak mata turun (ptosis). Jika tekanan terus meningkat, bisa muncul tanda yang lebih serius seperti detak jantung melambat.
Baca juga: Apa Itu Kemoradiasi? Ketahui Manfaat dan Efektivitasnya!
9. Graft-Versus-Host Disease (GvHD)
Dalam proses transplantasi, terutama transplantasi sel punca (stem cell transplant), ada risiko ketika sel imun dari donor justru menyerang tubuh penerimanya. Kondisi inilah yang kita sebut sebagai Graft-Versus-Host Disease (GvHD).
Pada fase awal, kulit sering menjadi organ pertama yang terdampak. Gejalanya dimulai dari ruam kemerahan, yang jika memburuk bisa tampak seperti luka bakar atau lepuhan luas. Selain itu, GvHD juga sering menyerang saluran pencernaan yang ditandai dengan diare hebat.
Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan penyerapan nutrisi dan dehidrasi. Hati juga dapat terlibat, yang biasanya ditandai dengan gangguan fungsi hati, seperti peningkatan enzim hati atau ikterus yang ditandai dengan kulit menjadi kuning.
10. Spinal Cord Compression
Spinal cord compression adalah kondisi kegawatdaruratan onkologi yang terjadi ketika sumsum tulang belakang tertekan. Tekanan bisa berasal dari kanker yang menyebar ke tulang belakang, pertumbuhan tumor di area tersebut, atau bahkan tulang yang melemah hingga mengalami fraktur (patah tulang).
Kondisi ini dapat menyebabkan sinyal saraf terganggu sehingga sering kali memicu nyeri punggung yang bisa disertai gejala berikut:
- Kelemahan.
- Mati rasa.
- Kesulitan berjalan.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan saraf permanen hingga kelumpuhan.
Penanganan Sedini Mungkin Merupakan Kunci Keselamatan
Kegawatdaruratan onkologi di atas menunjukkan bahwa perjuangan melawan kanker membutuhkan perhatian lebih dari sekadar mengobati sel kanker itu sendiri. Komplikasi bisa muncul kapan saja, namun deteksi dini adalah kunci untuk meminimalkan risiko yang lebih besar.
Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala yang tidak biasa selama masa pengobatan kanker, segera konsultasikan dengan dokter sebelum kondisi menjadi semakin serius. Dalam hal ini, layanan Monitoring Pascaterapi di Kaiser Cancer Center hadir untuk memastikan kamu tidak melewati satu pun tanda peringatan, melalui kunjungan terjadwal, pemeriksaan fisik, tes laboratorium, hingga surveillance imaging yang disesuaikan dengan jenis kankermu.
Ingat, perjalanan melawan kanker tidak berhenti saat terapi selesai, dan tetap pantau setiap langkah pemulihanmu bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.
Baca juga: Apakah Penderita Kanker Serviks Bisa Hamil? Ini Penjelasannya
Frequently Asked Questions (FAQs)
Apa saja efek kemoterapi dan kapan munculnya?
Efek samping kemoterapi bervariasi tergantung jenis obat dan dosis, namun umumnya meliputi mual, kelelahan, rambut rontok, sariawan, kebas atau kesemutan (neuropati), hingga penurunan sel darah putih. Sebagian efek seperti mual dapat muncul dalam hitungan jam setelah pemberian obat, sementara penurunan sel darah putih biasanya mencapai titik terendah sekitar 7-14 hari setelah kemoterapi. Jika efek samping terasa berat atau tidak biasa, selalu diskusikan dengan dokter yang menangani.
Bagaimana cara mengatasi demam setelah kemoterapi?
Demam setelah kemoterapi tidak boleh ditangani sendiri di rumah, terutama jika muncul bersamaan dengan penurunan sel darah putih (neutropenia). Jika suhu tubuh mencapai atau melebihi 38°C, segera hubungi dokter atau cari pertolongan medis sesuai instruksi tim onkologi tanpa menunggu gejala membaik.
Bagaimana cara meredakan kebas pasca kemoterapi?
Kebas atau kesemutan pada tangan dan kaki (neuropati perifer) pasca kemoterapi dapat dikelola dengan menghindari suhu ekstrem, melindungi tangan dan kaki dari cedera karena sensasi yang berkurang, serta mengikuti penanganan yang dianjurkan dokter. Meski begitu, penting untuk melaporkan keluhan ini ke dokter karena mungkin memerlukan penyesuaian dosis obat atau penanganan khusus.
Bagaimana cara mengatasi mual pasca kemoterapi?
Mual pasca kemoterapi dapat dikurangi dengan makan porsi kecil namun sering, menghindari makanan berbau menyengat atau berlemak, menjaga tubuh tetap terhidrasi, serta mengonsumsi obat antiemetik sesuai resep dokter. Jika mual berlangsung terus-menerus atau membuat kamu tidak bisa makan dan minum sama sekali, segera konsultasikan ke dokter.
Bagaimana cara mengatasi sariawan pasca kemoterapi?
Sariawan akibat mucositis dapat diredakan dengan menjaga kebersihan mulut menggunakan sikat gigi berbulu lembut, berkumur air garam hangat atau obat kumur sesuai anjuran dokter, menghindari makanan pedas, asam, atau bertekstur keras, serta menjaga bibir dan mulut tetap lembap. Jika nyeri semakin berat atau mengganggu asupan makan dan minum, segera konsultasikan ke dokter.
Bagaimana pola makan dan nutrisi yang tepat pasca kemoterapi?
Pasca kemoterapi, disarankan makan dalam porsi kecil namun sering, dengan asupan tinggi protein untuk mendukung pemulihan jaringan tubuh. Pilih makanan yang matang sempurna dan hindari makanan mentah atau setengah matang untuk mengurangi risiko infeksi, mengingat sistem imun yang sedang menurun. Kebutuhan nutrisi tiap pasien bisa berbeda, sehingga konsultasi dengan ahli gizi atau dokter yang menangani sangat dianjurkan.
Referensi
- Boire A, Burke K, Cox T, Guise T, Sahai E, et al. Roadmap: why do patients with cancer die? Nat Rev Cancer. 2024;24(8):578-589. doi:10.1038/s41568-024-00708-4.
- Cimino-Fiallos N. 9 medical oncologic emergencies you need to know [Internet]. 24 Mar 2026 [diakses 2026]. Tersedia dari: https://reference.medscape.com/p11/9-medical-oncologic-emergencies-you-need-know-2026a10007zk
- Patient. Oncological emergencies [Internet]. 18 Feb 2022 [diakses 2026]. Tersedia dari: https://patient.info/doctor/oncology/oncological-emergencies








