Logo

Kegawatdaruratan Onkologi: Tanda Bahaya yang Tidak Boleh Diabaikan

Penulis: Tim Kaiser Cancer Center

Bagikan:

detail image article
General Topic

Tahukah kamu bahwa tidak semua kematian pada pasien kanker disebabkan langsung oleh pertumbuhan sel kanker? Dalam beberapa kasus, ancaman justru datang dari komplikasi akut yang dikenal sebagai kegawatdaruratan onkologi.

 

Kondisi ini merupakan situasi kritis yang dapat muncul akibat komplikasi kanker itu sendiri atau sebagai efek samping dari pengobatan. Keadaan ini memerlukan penanganan segera karena tanpa intervensi medis yang cepat dan tepat, pasien dapat mengalami kerusakan organ hingga kematian dalam waktu singkat.

 

Maka dari itu, penting untuk mengenali tanda-tanda bahayanya agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. Simak apa saja gejalanya melalui artikel berikut ini.

Apa Itu Kegawatdaruratan Onkologi?

Bayangkan seorang pasien yang telah menjalani kemoterapi selama beberapa minggu dengan jadwal teratur dan kondisi yang tampak stabil. Namun, secara tiba-tiba di suatu malam, pasien mengalami demam tinggi disertai sesak napas, sementara tubuh tidak lagi merespons seperti biasanya.

 

Kondisi ini bukanlah sekadar efek samping biasa yang bisa ditunda penanganannya hingga esok pagi tiba, melainkan sebuah tanda kegawatdaruratan onkologi yang memerlukan penanganan segera. 

 

Kegawatdaruratan onkologi adalah kondisi kritis yang bisa muncul kapan saja akibat komplikasi dari kanker itu sendiri atau efek samping pengobatan yang tengah dijalani. Kondisi ini menuntut kewaspadaan penuh karena gejalanya sering kali menyerupai keluhan umum, tetapi dapat berkembang cepat dan memiliki risiko yang jauh lebih fatal jika terlambat dideteksi.

Mengenal Jenis-Jenis Kegawatdaruratan Onkologi

Sebagian besar kegawatdaruratan onkologi bisa dikelompokkan ke dalam empat kategori utama, yakni metabolik, hematologi (gangguan darah), struktural, dan treatment-related (terkait pengobatan). Pembagian ini membantu tenaga medis mengenali penyebab serta menentukan penanganan yang tepat. Berikut adalah beberapa jenis kegawatdaruratan onkologi yang perlu diketahui.

1. Hiperkalsemia

Hiperkalsemia adalah kondisi ketika kadar kalsium dalam darah meningkat di atas batas normal. Pada pasien kanker, kondisi ini termasuk kegawatdaruratan metabolik yang cukup serius dan memerlukan penanganan segera. 

 

Hiperkalsemia sering kali sulit dikenali karena gejalanya menyerupai keluhan umum. Jika terlambat disadari, kondisi ini dapat memperburuk tingkat keparahan penyakit (morbiditas) hingga berisiko menyebabkan kematian. Berikut adalah beberapa gejala yang perlu diwaspadai:

  • Mual dan muntah.
  • Nafsu makan menurun.
  • Sering buang air kecil.
  • Lemas dan mudah lelah.
  • Nyeri tulang.
  • Nyeri perut.
  • Sembelit.
  • Kebingungan atau sulit fokus.
  • Muncul batu ginjal pada beberapa kasus.

2. Tumor Lysis Syndrome (TLS)

Tumor Lysis Syndrome (TLS) adalah kondisi darurat yang terjadi ketika sel kanker mati dalam jumlah besar secara cepat, biasanya dalam 72 jam setelah pengobatan dimulai, seperti kemoterapi atau radioterapi.

 

Lantas, mengapa TLS justru berbahaya? Saat sel-sel kanker mati dalam jumlah besar secara mendadak, isi di dalamnya akan "tumpah" ke dalam aliran darah kita. Zat-zat seperti kalium, fosfor, hingga asam urat dari pemecahan DNA akan melonjak tinggi sehingga mengganggu keseimbangan metabolisme tubuh. 

 

Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa sangat berbahaya bagi fungsi organ vital. Beberapa efek utama yang dapat terjadi antara lain:

  • Kalium tinggi (hiperkalemia): Berisiko mengganggu irama jantung.
  • Fosfor tinggi (hiperfosfatemia): Memicu penurunan kadar kalsium dalam darah.
  • Kalsium rendah (hipokalsemia): berisiko menyebabkan kejang atau kram otot.
  • Asam urat tinggi (hiperurisemia): Berisiko menyumbat dan merusak fungsi ginjal akibat penumpukan kristal asam urat.

Kombinasi dari berbagai gangguan ini merupakan ancaman serius yang bisa berujung pada gagal ginjal hingga henti jantung jika tidak segera ditangani. Oleh karena itu, kita harus selalu waspada terhadap gejala awal yang muncul, seperti mual dan muntah, lemas, kram otot atau kejang, detak jantung tidak teratur, hingga penurunan jumlah urine.

3. Leukostasis

Pada beberapa jenis kanker, terutama kanker darah, dapat terjadi perubahan komposisi darah yang signifikan. Salah satu situasi yang perlu diwaspadai adalah ketika darah menjadi lebih “kental” sehingga alirannya terganggu.

 

Pada leukostasis, kondisi ini terjadi akibat jumlah sel darah putih meningkat sangat tinggi, seperti pada leukemia. Sel-sel ini kemudian bisa menyumbat pembuluh darah kecil sehingga aliran oksigen ke organ-organ vital terganggu.

 

Akibatnya, kamu mungkin akan merasakan berbagai gejala, seperti sesak napas, gangguan penglihatan, sakit kepala hebat, hingga penurunan kesadaran secara mendadak. Jika tidak segera ditangani, leukostasis berisiko memicu komplikasi fatal, seperti:

  • Gangguan pernapasan.
  • Perdarahan di otak (intracranial hemorrhage).
  • Gangguan fungsi organ lain.

4. Neutropenic Fever

Pasien yang menjalani kemoterapi sering kali mengalami penurunan drastis pada jumlah sel darah putih, terutama neutrofil. Kondisi ini disebut sebagai neutropenia, yang secara langsung menurunkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi.

 

Jika neutropenia disertai dengan munculnya demam, atau dikenal sebagai neutropenic fever, maka pasien harus segera ditangani karena kondisi ini termasuk dalam kegawatdaruratan onkologi. 

 

Mengapa demikian? Pada situasi ini, infeksi yang awalnya tampak ringan dapat berkembang dengan sangat cepat menjadi sepsis, yaitu infeksi berat yang menyebar ke seluruh sistem tubuh. 

Selain itu, kemoterapi juga dapat menyebabkan penurunan jumlah trombosit (trombositopenia), yang meningkatkan risiko perdarahan serius. Temuan dari National Library of Medicine  menunjukkan bahwa kondisi ini dapat berkontribusi terhadap komplikasi yang mengancam nyawa jika tidak ditangani dengan tepat.

Oleh karena itu, pemantauan ketat dan kewaspadaan terhadap gejala sekecil apa pun menjadi langkah penting untuk memastikan proses pengobatan tetap berjalan dengan aman.

 

Baca juga: Kemoterapi Kanker Serviks, Ini Prosedur dan Efek Sampingnya

5. Hyperviscosity Syndrome

Hyperviscosity syndrome adalah kondisi ketika darah menjadi jauh lebih kental dari biasanya. Meski jarang terjadi, dampaknya bisa sangat serius karena darah yang terlalu kental akan menghambat laju sirkulasi ke seluruh tubuh. 

 

Akibatnya, organ-organ vital kita tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup sehingga memicu penurunan fungsi organ yang berpotensi mengancam nyawa.

 

Penyebab utamanya bisa bervariasi, mulai dari kadar protein yang melonjak secara drastis (seperti pada multiple myeloma) hingga peningkatan jumlah sel darah (seperti pada leukemia).

 

Adapun gejala yang sering muncul, yaitu:

  • Perdarahan (misalnya mimisan atau gusi berdarah).
  • Gangguan penglihatan.
  • Gangguan saraf, seperti pusing, kebingungan, atau kelemahan pada bagian tubuh tertentu.

Kondisi ini perlu dicurigai terutama pada pasien dengan kadar hemoglobin atau jumlah sel darah yang sangat tinggi dan disertai gejala-gejala di atas.

6. Superior Vena Cava Syndrome

Superior Vena Cava (SVC) Syndrome terjadi ketika pembuluh darah utama yang mengalirkan darah dari tubuh bagian atas ke jantung mengalami tekanan atau sumbatan. Pada pasien kanker, kondisi ini biasanya dipicu oleh desakan massa tumor, seperti pada kanker paru atau limfoma, maupun akibat adanya bekuan darah.

 

Hambatan aliran ini membuat darah dari area wajah, leher, dan dada tidak dapat kembali ke jantung secara optimal. Akibatnya, terjadi peningkatan tekanan di bagian atas tubuh, yang sering kali ditandai dengan sesak napas serta pembengkakan pada wajah dan leher.

7. Mucositis

Mucositis adalah kondisi ketika lapisan pelindung (mukosa) di mulut atau saluran pencernaan mengalami peradangan. Efek samping ini umum terjadi akibat kemoterapi atau radioterapi, di mana jaringan mukosa yang sensitif menjadi lebih rentan terhadap luka atau sariawan. Meski sering ditemukan di area mulut, mucositis juga bisa terjadi di sepanjang saluran pencernaan kita.

 

Gejala utama yang sering dirasakan adalah rasa tidak nyaman atau nyeri saat makan dan minum, yang jika dibiarkan tentu dapat memengaruhi asupan nutrisi. Selain itu, rusaknya lapisan pelindung mukosa ini membuat tubuh kehilangan benteng pertahanan alaminya. Kondisi ini membuka celah bagi infeksi lanjutan, termasuk masuknya bakteri ke dalam aliran darah (bakteremia). 

 

Oleh karena itu, penanganan gejala dan perawatan kebersihan mulut menjadi sangat krusial untuk mencegah komplikasi yang lebih serius selama masa pengobatan.

8. Peningkatan Tekanan Intrakranial

Tengkorak kita merupakan struktur yang kuat, tetapi memiliki ruang yang terbatas. Ketika sel kanker menyebar ke otak, ia bisa memicu pembengkakan atau pertumbuhan massa tumor yang memenuhi rongga kepala dan menekan jaringan otak di sekitarnya.

Kondisi ini menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial (rongga kepala), yang dapat menimbulkan berbagai gejala, tergantung lokasi lesi dan kecepatan peningkatan tekanan. Beberapa tanda yang sering muncul antara lain: 

  • Sakit kepala. 
  • Mual dan muntah. 
  • Perubahan perilaku. 
  • Kejang.
  • Penurunan kesadaran. 

Pada kondisi tertentu, pasien juga bisa mengalami gangguan neurologis fokal, seperti kelemahan di satu sisi tubuh, gangguan penglihatan, atau kelopak mata turun (ptosis). Jika tekanan terus meningkat, bisa muncul tanda yang lebih serius seperti detak jantung melambat.

 

Baca juga: Jenis Pengobatan Kanker Payudara dan Efek Sampingnya!

9. Graft-Versus-Host Disease (GvHD)

Dalam proses transplantasi, terutama transplantasi sel punca (stem cell transplant), ada risiko ketika sel imun dari donor justru menyerang tubuh penerimanya. Kondisi inilah yang kita sebut sebagai Graft-Versus-Host Disease (GvHD).

 

Pada fase awal, kulit sering menjadi organ pertama yang terdampak. Gejalanya dimulai dari ruam kemerahan, yang jika memburuk bisa tampak seperti luka bakar atau lepuhan luas. Selain itu, GvHD juga sering menyerang saluran pencernaan yang ditandai dengan diare hebat. 

 

Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan penyerapan nutrisi dan dehidrasi. Hati juga dapat terlibat, yang biasanya ditandai dengan gangguan fungsi hati, seperti peningkatan enzim hati atau ikterus yang ditandai dengan kulit menjadi kuning.

10. Spinal Cord Compression

Spinal cord compression adalah kondisi kegawatdaruratan onkologi yang terjadi ketika sumsum tulang belakang tertekan. Tekanan bisa berasal dari kanker yang menyebar ke tulang belakang, pertumbuhan tumor di area tersebut, atau bahkan tulang yang melemah hingga mengalami fraktur (patah tulang). 

 

Kondisi ini dapat menyebabkan sinyal saraf terganggu sehingga sering kali memicu nyeri punggung yang bisa disertai gejala berikut:

  • Kelemahan. 
  • Mati rasa. 
  • Kesulitan berjalan.

Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan saraf permanen hingga kelumpuhan.

Penanganan Sedini Mungkin Merupakan Kunci Keselamatan

Kegawatdaruratan onkologi di atas menunjukkan bahwa perjuangan melawan kanker membutuhkan perhatian lebih dari sekadar mengobati sel kanker itu sendiri. Komplikasi bisa muncul kapan saja, namun deteksi dini adalah kunci untuk meminimalkan risiko yang lebih besar.

 

Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala yang tidak biasa selama masa pengobatan kanker, segera konsultasikan dengan dokter sebelum kondisi menjadi semakin serius. Dalam hal ini, layanan Monitoring Pascaterapi di Kaiser Cancer Center hadir untuk memastikan kamu tidak melewati satu pun tanda peringatan, melalui kunjungan terjadwal, pemeriksaan fisik, tes laboratorium, hingga surveillance imaging yang disesuaikan dengan jenis kankermu.

 

Ingat, perjalanan melawan kanker tidak berhenti saat terapi selesai, dan tetap pantau setiap langkah pemulihanmu bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.

 

Baca juga: Apakah Penderita Kanker Serviks Bisa Hamil? Ini Penjelasannya

 

Referensi: 

Reviewer Image
dr. Marco Vidor, Sp.PD
Spesialis Penyakit Dalam

Artikel Terkait

A doctor smiling at a patient at Kaiser Cancer Center

Tim Kaiser Siap Menemani Setiap Langkahmu

Kami percaya, setiap langkah menuju pemulihan layak mendapat dukungan terbaik. Tim Kaiser hadir untuk mendampingimu—membawa ketenangan, harapan, dan dukungan di setiap tahap perjalananmu melalui pendekatan medis berteknologi mutakhir dan berstandar global.

Dapatkan Informasi Terbaru dari Kaiser

Subscribe untuk tetap terhubung dan menerima update terbaru dari Kaiser.