Logo

Manajemen Nyeri Kanker: Dukungan Penting bagi Pejuang Kanker

Penulis: Tim Kaiser Cancer Center

Bagikan:

detail image article
Life After Cancer

Menurutmu, apa yang paling ditakuti pasien kanker? Diagnosisnya, prosedurnya, atau kemungkinan terburuk yang dapat terjadi? Bagi banyak pasien, jawabannya justru adalah rasa nyeri akibat penyakit itu sendiri atau terapi kanker yang dijalani.

Nyeri kanker sering kali menjadi hal yang paling ditakutkan karena dapat memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari tidur, makan, bergerak, hingga kondisi emosional pasien. Oleh karena itu, manajemen nyeri kanker menjadi bagian penting dalam perawatan kanker secara menyeluruh, bukan sekadar pelengkap pengobatan.

Lantas, bagaimana strategi manajemen nyeri yang umum dilakukan? Simak penjelasannya di bawah ini.

Penyebab Nyeri pada Pasien Kanker

Tahukah kamu bahwa nyeri yang dirasakan oleh pasien kanker tidak selalu disebabkan oleh kanker itu sendiri? Dalam banyak kasus, nyeri juga dapat muncul sebagai efek samping dari pengobatan kanker yang dijalani. Berikut beberapa penyebab umum nyeri pada pasien kanker:

  • Nyeri akibat tumor: Ketika sel kanker tumbuh dan membentuk tumor, massa tumor yang membesar dapat menekan organ di sekitarnya, menjepit saraf, atau bahkan menyerang tulang sehingga menimbulkan rasa nyeri pada area tumor.
  • Nyeri akibat efek samping pengobatan: Terapi kanker seperti kemoterapi, radiasi, dan operasi juga bisa menyebabkan rasa nyeri. Misalnya, kemoterapi dapat merusak jaringan saraf sehat sehingga menimbulkan sensasi kesemutan atau nyeri seperti terbakar di area tangan dan kaki (neuropati perifer). Selain itu, efek terapi yang menurunkan sistem imun membuat tubuh pasien lebih rentan terserang infeksi lain, seperti sariawan atau radang kulit, yang akan memperparah rasa nyeri.

Mengapa Nyeri Kanker Tidak Boleh Diabaikan?

Sayangnya, banyak pasien kanker memilih mengabaikan rasa sakit yang mereka rasakan. Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh National Library of Medicine (2022), fenomena ini terjadi karena beberapa alasan, seperti: 

  • Pasien enggan mengeluhkan rasa sakitnya saat kontrol ke rumah sakit.
  • Kekhawatiran terhadap efek samping obat pereda nyeri.
  • Anggapan bahwa nyeri merupakan bagian yang tidak terhindarkan dari perjalanan penyakit kanker.
  • Keluhan nyeri terkadang luput dari perhatian dokter saat pemeriksaan.
  • Keterbatasan fasilitas kesehatan maupun kurangnya komunikasi mengenai tingkat nyeri yang dialami pasien.

Padahal, nyeri yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, baik bagi pasien maupun keluarganya, antara lain:

  • Menurunkan mobilitas dan fungsi fisik: Nyeri yang dibiarkan tanpa penanganan dapat membatasi pergerakan pasien, membuat aktivitas sehari-hari menjadi terhambat, dan menurunkan kebugaran fisik secara keseluruhan.
  • Menarik diri dari lingkungan sosial: Rasa sakit yang parah dan terus-menerus sering kali membuat pasien menarik diri dari lingkungan sosial, enggan berinteraksi dengan orang lain, atau kesulitan berpartisipasi dalam aktivitas sosial dan keluarga.
  • Menurunkan kualitas hidup: Nyeri yang tidak diatasi dapat merusak kenyamanan hidup pasien secara drastis, membuat tidur tidak nyenyak, dan mengganggu nafsu makan.
  • Memengaruhi kesehatan emosional dan psikologis pasien: Dampak nyeri tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga memicu tekanan mental yang berat, kecemasan, hingga depresi, baik bagi pasien itu sendiri maupun bagi keluarga dan perawat yang mendampinginya.

Baca juga: Apa Itu Perawatan Paliatif? Inilah Perannya dalam Pengobatan Kanker

Mengenal Manajemen Nyeri Kanker: Dukungan Penting dalam Perawatan Kanker

Sebagai bagian dari upaya untuk meminimalkan rasa nyeri yang diderita oleh pasien, manajemen nyeri menjadi salah satu aspek penting dalam pengobatan kanker. 

Manajemen nyeri kanker atau cancer pain management adalah serangkaian pendekatan medis yang bertujuan untuk mengontrol, mengurangi, dan membantu pasien mengatasi nyeri akibat kanker maupun efek samping pengobatannya.

Namun, tujuan manajemen nyeri sebenarnya tidak hanya sekadar mengurangi rasa sakit. Penanganan ini juga bertujuan membantu pasien tetap bisa bergerak, beraktivitas, tidur lebih nyaman, serta mengurangi dampak emosional, sosial, dan mental yang sering menyertai nyeri kronis. 

Dengan demikian, kualitas hidup pasien dapat tetap terjaga selama menjalani pengobatan kanker.

Strategi Manajemen Nyeri Kanker

Manajemen nyeri kanker tidak hanya berfokus pada pemberian obat pereda nyeri saja. Jika memungkinkan, dokter juga akan menangani penyebab utama nyeri tersebut. 

Pengelolaan nyeri biasanya dilakukan melalui pendekatan yang menyeluruh dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Dilansir dari studi yang diterbitkan dalam ecancermedicalscience (2024), berikut adalah strategi manajemen nyeri yang umum dilakukan:

1. Manajemen Nyeri Tanpa Obat (Nonfarmakologis)

Penanganan nyeri kanker tidak selalu harus menggunakan obat. Berbagai terapi nonfarmakologis juga diketahui dapat membantu mengurangi nyeri sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien kanker.

Pendekatan ini mencakup berbagai metode, seperti terapi fisik yang meliputi:

  • Olahraga ringan.
  • Pijat.
  • Akupuntur.
  • Termoterapi (terapi dingin dan panas).
  • Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS).

Selain itu, ada juga terapi psikologis, seperti terapi perilaku dan konseling untuk membantu pasien mengelola stres, kecemasan, serta dampak emosional yang sering menyertai nyeri kronis. Dukungan nutrisi serta terapi suportif lainnya juga dapat membantu menjaga kondisi fisik pasien secara keseluruhan.

2. Manajemen Nyeri dengan Obat (Farmakologis)

Selama puluhan tahun, manajemen nyeri pada pasien kanker mengacu pada WHO analgesic ladder, yakni pendekatan bertahap yang membantu tenaga medis menentukan penanganan nyeri kanker yang sesuai berdasarkan tingkat keparahan nyeri yang dialami pasien.

Meskipun prinsip dasarnya masih digunakan hingga saat ini, penerapannya telah berkembang dan disesuaikan dengan bukti ilmiah terbaru serta kebutuhan individual pasien, yang meliputi:

Langkah 1 (Nyeri Ringan): NSAID dan Paracetamol (Acetaminophen)

Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dan paracetamol memang masih menjadi pilihan awal untuk nyeri kanker ringan. NSAID dinilai dapat bermanfaat terutama bila nyeri berkaitan dengan peradangan, seperti pada kanker yang menyebar ke tulang.

Namun, jika nyeri sudah berat dan pasien sudah mengonsumsi obat nyeri dosis kuat (seperti morfin), penambahan paracetamol atau NSAID tidak selalu memberikan manfaat tambahan yang bermakna dan dapat meningkatkan risiko efek samping tertentu.

Oleh karena itu, dokter akan tetap mempertimbangkan manfaat dan risiko pengobatan sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.

Langkah 2 & 3 (Nyeri Sedang hingga Berat): Opioid

Ketika nyeri kanker sudah memasuki skala sedang hingga berat, obat pereda nyeri biasa umumnya sudah tidak terlalu efektif. Di sinilah obat golongan opioid memegang peran krusial. Tujuannya adalah meredam rasa sakit agar pasien bisa beristirahat dengan tenang dan kembali beraktivitas dengan nyaman.

Tentu saja, dokter tidak akan sembarangan memberikan obat ini. Dosisnya akan disesuaikan dengan kondisi tubuh dan tingkat rasa sakit yang dirasakan. Biasanya, terapi dimulai dari dosis paling rendah, lalu dinaikkan perlahan sampai nyeri benar-benar terkontrol. 

Beberapa jenis opioid yang sering diresepkan antara lain codeine, oxycodone, hingga morfin, yang sudah lama digunakan dalam manajemen nyeri kanker karena efektivitasnya yang tinggi.

Meski efektif, penggunaan opioid tetap perlu dipantau secara rutin karena dapat menimbulkan efek samping, seperti:

  • Mual.
  • Sembelit.
  • Kantuk.
  • Mulut kering.
  • Gangguan pernapasan pada kondisi tertentu.

Itulah mengapa pasien yang mengonsumsi opioid wajib dipantau secara berkala oleh tim medis agar manfaat pengobatan tetap optimal dan pasien dapat menjalani perawatan dengan lebih nyaman.

Terapi Adjuvan (Obat Pendamping)

Selain obat pereda nyeri utama, dokter juga dapat memberikan obat tambahan terutama pada nyeri yang berasal dari kerusakan atau gangguan saraf (neuropathic pain).

Obat-obatan ini biasanya digunakan bersama terapi nyeri utama untuk membantu meningkatkan kontrol nyeri. Seperti terapi lainnya, penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi pasien dan dipantau secara berkala guna memastikan efektivitas serta keamanannya.

3. Tindakan dan Terapi Lain untuk Mengatasi Nyeri Kanker

Ada kalanya, obat-obatan saja tidak cukup untuk mengendalikan nyeri kanker. Jika situasi ini terjadi, dokter bisa merekomendasikan berbagai tindakan intervensi untuk membantu mengurangi nyeri. 

Salah satu tindakan yang dapat dilakukan adalah blok saraf, yaitu prosedur untuk menghambat penghantaran sinyal nyeri pada saraf tertentu, atau pemberian obat pereda nyeri langsung ke sekitar sumsum tulang belakang melalui teknik khusus. 

Pendekatan ini bertujuan mengurangi nyeri secara lebih terarah, meningkatkan kenyamanan pasien, serta dalam beberapa kasus dapat membantu mengurangi kebutuhan obat pereda nyeri dosis tinggi. Pemilihan prosedur akan disesuaikan dengan jenis nyeri yang dirasakan, kondisi fisik pasien, serta respons terhadap pengobatan yang telah diberikan sebelumnya.

Baca juga: Financial Toxicity: Tekanan Ekonomi pada Penderita Kanker

Pentingnya Komunikasi dengan Tim Medis

Nyeri memang salah satu efek samping yang umum terjadi pada pasien kanker. Namun, bukan berarti kamu boleh mengabaikannya begitu saja karena dapat memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan.

Maka dari itu, jangan ragu untuk selalu berdiskusi secara terbuka dengan dokter atau tenaga medis mengenai rasa sakitmu, sekecil apa pun itu. Dengan komunikasi yang baik, tim medis dapat menyesuaikan rencana penanganan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kondisimu.

Untuk mendapatkan penanganan nyeri kanker yang optimal, layanan Manajemen Nyeri di Kaiser Cancer Center bisa menjadi pilihan yang tepat. Melalui kerja sama dengan Pain Clinic, tim medis profesional akan membantumu mengendalikan rasa sakit dengan berbagai metode pengobatan yang aman dan efektif.

Tak hanya itu, Kaiser Cancer Center menghadirkan tim dokter spesialis dan tenaga medis dari berbagai disiplin ilmu yang berpengalaman dalam merancang terapi manajemen nyeri secara personal. Jadi, mari jalani proses perawatan kanker dengan lebih nyaman dan terarah bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.

Baca juga: Jenis Pengobatan Kanker Payudara dan Efek Sampingnya!

Referensi:

Reviewer Image
apt. Selvy Nurkhayati, S.Farm
Apoteker onkologi berpengalaman dengan latar belakang lebih dari 3 tahun di rumah sakit kanker, memiliki kompetensi dalam pengelolaan terapi kanker, kemoterapi, keselamatan pasien, dan operasional farmasi klinis.
A doctor smiling at a patient at Kaiser Cancer Center

Tim Kaiser Siap Menemani Setiap Langkahmu

Kami percaya, setiap langkah menuju pemulihan layak mendapat dukungan terbaik. Tim Kaiser hadir untuk mendampingimu—membawa ketenangan, harapan, dan dukungan di setiap tahap perjalananmu melalui pendekatan medis berteknologi mutakhir dan berstandar global.

Dapatkan Informasi Terbaru dari Kaiser

Subscribe untuk tetap terhubung dan menerima update terbaru dari Kaiser.