Mendengar ada sesuatu yang "tidak beres" pada area kewanitaan sering kali langsung menimbulkan kekhawatiran, bahkan dikaitkan dengan kanker. Namun, tahukah kamu bahwa ada kondisi bernama erosi serviks yang gejalanya hampir serupa, tetapi bersifat jinak?
Oleh karena itu, penting untuk mengetahui apa saja perbedaan erosi serviks dan kanker serviks agar pasien bisa mengenali gejalanya dan mengambil langkah yang tepat. Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.
Apa Perbedaan Erosi Serviks dan Kanker Serviks?
Erosi serviks sering menimbulkan gejala yang mirip dengan gangguan serviks lainnya sehingga kerap disalahartikan sebagai kanker. Namun, faktanya erosi serviks bukanlah tanda kanker serviks. Yuk, simak beberapa perbedaan erosi serviks dan kanker serviks berikut ini.
1. Definisi
Erosi serviks atau cervical ectropion adalah kondisi di mana sel kelenjar dari bagian dalam leher rahim (endoserviks) muncul ke permukaan luar serviks (ektoserviks).
Sel kelenjar ini memiliki karakteristik lebih tipis dan berwarna lebih merah dibandingkan sel di permukaan luar serviks. Oleh karena itu, saat terlihat melalui pemeriksaan, serviks dapat tampak lebih kemerahan dan mudah berdarah saat tersentuh.
Penting: Kondisi ini bersifat jinak, umum terjadi, dan tidak berkembang menjadi kanker.
Di sisi lain, kanker serviks adalah penyakit yang terjadi ketika sel-sel pada lapisan serviks mengalami perubahan menjadi abnormal dan berkembang secara tidak terkendali. Sel-sel tersebut kemudian terus membelah dan membentuk jaringan yang bersifat ganas.
2. Penyebab
Terdapat berbagai penyebab erosi serviks dan kanker serviks. Berikut adalah penyebab utama dan faktor yang meningkatkan risikonya:
Kondisi | Penyebab Utama | Faktor Pendukung |
Erosi serviks (cervical ectropion) | Peningkatan hormon estrogen yang menyebabkan sel kelenjar dari bagian dalam leher rahim (endoserviks) “terbuka/terbalik” ke permukaan luar (ektoserviks). |
|
Kanker serviks | Infeksi human papillomavirus (HPV), terutama tipe 16, 18, serta tipe lain, seperti 31, 33, dan 45 yang berlangsung lama dan menyebabkan perubahan sel menjadi kanker. |
|
Baca juga: Perbedaan SADARI dan SADANIS: Metode dan Waktu Pelaksanaan
3. Sifat Penyakit
Erosi serviks merupakan kondisi yang bersifat jinak dan sering dianggap sebagai variasi normal yang dapat terjadi pada wanita usia reproduktif. Pada banyak kasus, kondisi ini tidak memerlukan pengobatan khusus dan dapat membaik dengan sendirinya, terutama setelah perubahan hormonal stabil.
Sebaliknya, kanker serviks merupakan penyakit ganas yang terjadi ketika sel-sel pada serviks tumbuh secara tidak terkendali dan membentuk jaringan kanker. Jika tidak dideteksi dan ditangani sejak dini, sel kanker dapat menyebar ke jaringan di sekitar serviks dan bagian tubuh lain.
4. Gejala
Erosi serviks umumnya tidak menimbulkan gejala dan sering baru diketahui saat pemeriksaan panggul atau Pap smear. Namun, pada beberapa kasus, kondisi ini dapat menimbulkan sejumlah keluhan, seperti:
- Keputihan yang lebih banyak, terkadang bercampur darah atau lendir bening.
- Nyeri dan perdarahan ringan saat atau setelah berhubungan seksual.
- Perdarahan ringan di luar jadwal menstruasi (spotting).
- Nyeri ringan pada area panggul.
- Perdarahan ringan saat pemeriksaan panggul.
Mirip dengan erosi serviks, kanker serviks pada tahap awal juga sering tidak menimbulkan gejala. Namun, seiring perkembangan penyakit, beberapa tanda yang dapat muncul antara lain:
- Perdarahan dari vagina setelah berhubungan seksual, di luar jadwal menstruasi, atau setelah menopause.
- Menstruasi yang lebih banyak atau berlangsung lebih lama dari biasanya.
- Keputihan encer yang bercampur darah dan dapat berbau tidak sedap.
- Nyeri pada area panggul atau nyeri saat berhubungan seksual terus menerus.
Jika mengalami gejala-gejala tersebut, penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.
Baca juga: 7 Gejala Kanker Payudara yang Perlu Diwaspadai Sejak Dini
5. Penanganan
Perbedaan erosi serviks dan kanker serviks yang terakhir adalah dari sisi penanganannya. Erosi serviks umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus karena kondisi ini tergolong tidak berbahaya. Penanganan biasanya baru dilakukan jika penderita mengalami gejala yang mengganggu, seperti perdarahan yang terus-menerus atau keputihan berlebihan.
Langkah penanganan yang umum dilakukan antara lain:
- Penyesuaian kontrasepsi hormonal karena kondisi ini dapat dipicu oleh peningkatan hormon estrogen dari penggunaan kontrasepsi hormonal.
- Cryotherapy, yaitu prosedur yang menggunakan suhu sangat dingin untuk membekukan jaringan yang bermasalah pada permukaan serviks.
- Diathermy atau elektrokauter, yaitu tindakan menggunakan panas dari aliran listrik untuk menghancurkan jaringan pada area serviks.
- Silver nitrate, yakni bahan kimia yang dapat dioleskan pada area serviks yang terdampak untuk membantu menutup jaringan yang mudah berdarah.
Sementara itu, penanganan kanker serviks biasanya ditentukan oleh tim medis yang disebut multidisciplinary team (MDT). MDT merupakan tim yang terdiri dari berbagai tenaga kesehatan dengan keahlian berbeda, seperti dokter spesialis kandungan, ahli bedah, dokter onkologi, hingga ahli radiologi.
Tim ini akan bersama-sama meninjau hasil pemeriksaan pasien untuk menentukan rencana pengobatan yang paling sesuai berdasarkan stadium kanker, ukuran tumor, serta kondisi kesehatan pasien.
Setelah melalui pertimbangan MDT, dokter bisa merekomendasikan beberapa metode pengobatan berikut:
- Operasi: Dilakukan untuk mengangkat jaringan kanker. Pada beberapa kasus, tindakan ini dapat berupa pengangkatan serviks atau bahkan rahim (histerektomi).
- Kemoterapi: Pengobatan menggunakan obat-obatan khusus untuk menghancurkan atau menghambat pertumbuhan sel kanker di dalam tubuh.
- Radioterapi: Terapi yang menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel kanker. Radioterapi dapat diberikan dari luar tubuh (external radiotherapy) atau dari dalam tubuh (brachytherapy).
- Kemoterapi dan radioterapi (chemoradiotherapy): Pada beberapa kasus, kemoterapi diberikan bersamaan dengan radioterapi untuk meningkatkan efektivitas pengobatan.
- Terapi target dan imunoterapi: Pada kanker yang sudah menyebar atau stadium lanjut, dokter dapat menggunakan obat yang menargetkan sel kanker atau membantu sistem imun melawan kanker.
Kesimpulan
Kemiripan gejala antara erosi serviks dan kanker serviks memang sering kali menimbulkan kekeliruan bagi orang awam. Keduanya dapat memicu fenomena yang serupa, seperti perdarahan setelah berhubungan seksual, rasa nyeri di area panggul, hingga keputihan.
Namun, penting untuk dipahami bahwa:
- Erosi serviks (ektropion) adalah kondisi jinak dan tidak berkembang menjadi kanker.
- Kanker serviks adalah penyakit serius yang memerlukan penanganan dinil.
Mengingat gejala fisik saja tidak cukup untuk menentukan diagnosis, sangat penting bagi setiap wanita untuk melakukan pemeriksaan pap smear atau tes IVA secara rutin. Layanan Pap Smear di Kaiser Cancer Center hadir untuk membantu kamu mendeteksi perubahan sel leher rahim sejak dini, bahkan sebelum kondisi tersebut berkembang menjadi lebih serius.
Jadi, mari jaga kesehatan organ reproduksi bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.
Baca juga: Jenis Pengobatan Kanker Payudara yang Umum Dilakukan








