Logo

Skrining Kanker Kolorektal, Langkah Kecil yang Berdampak Besar

Penulis: Tim Kaiser Cancer Center

Bagikan:

detail image article
Diagnosis & Screening

Bayangkan sebuah penyakit yang bisa dicegah dan dideteksi sejak dini, namun tetap menjadi salah satu penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia. Bukan karena tidak ada obatnya, tapi karena banyak orang baru menyadari keberadaan penyakit ini ketika sudah memasuki stadium lanjut sehingga penanganannya menjadi lebih sulit dan kompleks.

Inilah kanker kolorektal, yakni jenis kanker dengan angka kejadian yang sangat tinggi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Mengingat angka kejadiannya yang begitu tinggi, skrining kanker kolorektal menjadi langkah penting untuk mendeteksi kanker ini sejak awal dan meningkatkan peluang kesembuhan.

Lantas, bagaimana cara melakukan skrining kanker kolorektal? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Bagaimana Skrining Kanker Kolorektal dapat Meningkatkan Peluang Kesembuhan?

Banyak kanker kolorektal berkembang dari polip adenomatosa atau lesi prakanker lanjut (Advanced Precancerous Lesions/APL), yaitu polip tertentu yang memiliki risiko lebih tinggi berkembang menjadi kanker.

Melalui metode skrining visual, seperti kolonoskopi, dokter dapat mendeteksi keberadaan polip ini dan langsung mengangkatnya melalui prosedur polipektomi sebelum sempat berubah menjadi sel kanker yang ganas.

Namun, jika kanker sudah terbentuk, deteksi dini melalui skrining kanker dapat mengidentifikasi penyakit pada stadium awal, di mana pengobatan lebih efektif dan peluang kesembuhan jauh lebih tinggi. 

Maka dari itu, sangat penting bagi kamu untuk melakukan skrining kanker kolorektal secara berkala sesuai rekomendasi dokter, terutama jika kamu termasuk dalam kelompok berisiko. Dengan deteksi dini, kamu bisa mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan cepat.

Metode Skrining Kanker Kolorektal

Skrining kanker kolorektal adalah langkah deteksi dini yang dilakukan untuk menemukan tanda-tanda kanker sebelum gejala muncul. Lantas, bagaimana cara skrining kanker kolorektal? Berikut adalah beberapa metodenya:

1. Fecal Occult Blood Test (FOBT)

Fecal Occult Blood Test (FOBT) adalah salah satu metode umum skrining kanker kolorektal di puskesmas maupun fasilitas pelayanan kesehatan primer hingga sekunder.

Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi darah samar (darah yang tidak terlihat langsung oleh mata) pada sampel tinja. Kehadiran darah ini bisa menjadi indikasi adanya polip, kanker kolorektal, atau masalah pencernaan lainnya.

Secara umum, ada dua jenis metode FOBT, yaitu:

  • Guaiac FOBT (gFOBT), yang bekerja dengan cara mengoleskan sampel tinja pada kartu khusus, lalu ditetesi cairan kimia di laboratorium. Jika terjadi perubahan warna pada kartu, maka terdapat darah dalam sampel tinja.

  • Immunochemical FOBT (iFOBT / FIT), yang bekerja dengan mencampurkan sampel tinja dengan cairan khusus, kemudian dimasukkan ke dalam alat yang berisi antibodi spesifik penanda darah. FIT mendeteksi hemoglobin manusia dalam tinja menggunakan antibodi khusus. Hasil dapat dibaca secara kualitatif maupun kuantitatif tergantung jenis alat yang digunakan. Pemeriksaan ini umumnya tersedia di kota besar dan di rumah sakit besar

Jika hasil tes ini positif, maka dokter akan merekomendasikan pemeriksaan lanjutan, seperti kolonoskopi, untuk memastikan penyebabnya.

2. Sigmoidoskopi

Selain melalui sampel tinja, skrining kanker kolorektal juga dapat dilakukan melalui pemeriksaan secara langsung di dalam rektum dan usus besar bagian bawah menggunakan tabung tipis (sigmoidoskop) yang dimasukkan melalui lubang anus. 

Sigmoidoskop dibekali dengan lampu dan kamera kecil di ujungnya untuk memberikan gambaran yang jelas akan kondisi dinding usus secara detail. Alat ini juga dilengkapi perangkat khusus yang bisa digunakan dokter untuk mengambil sampel jaringan (biopsi) atau mengangkat polip saat itu juga, untuk kemudian diperiksa lebih lanjut di laboratorium.

Namun, keterbatasan metode ini adalah cakupannya yang hanya menjangkau bagian bawah usus besar.

Baca juga: Kapan Deteksi Dini Kanker Serviks? Ini Jenis & Manfaat Skrining

3. Kolonoskopi

Kolonoskopi adalah prosedur medis untuk memeriksa kondisi bagian dalam rektum dan seluruh saluran usus besar (kolon). Prosedur ini digunakan untuk mendeteksi polip, pertumbuhan jaringan abnormal, hingga tanda-tanda kanker.

Adapun alat yang digunakan adalah kolonoskop, yaitu tabung fleksibel yang dilengkapi dengan kamera dan lampu di ujungnya. Alat ini dimasukkan melalui lubang anus hingga menjangkau ujung usus besar.

Lalu, apa perbedaannya dengan sigmoidoskopi? Jika sigmoidoskopi hanya memeriksa sepertiga bagian bawah usus besar, kolonoskopi mampu memeriksa keseluruhan area usus besar dari ujung bawah hingga ujung atas yang berbatasan dengan usus halus.

4. Virtual Colonoscopy

Virtual colonoscopy atau yang juga disebut Computed Tomography Colonography (CTC) adalah prosedur pemeriksaan usus besar secara visual menggunakan bantuan mesin CT scan (sinar-X), bukan dengan memasukkan selang kamera panjang ke dalam tubuh.

Dalam prosesnya, mesin akan mengambil serangkaian foto rontgen dari berbagai sudut. Komputer kemudian menyatukan foto-foto tersebut untuk membuat gambar 3 dimensi (3D) yang detail dari bagian dalam usus besar.

Prosedur ini jauh lebih nyaman karena bersifat minimal invasif, yaitu tidak memerlukan pemasukan selang panjang untuk memeriksa seluruh usus besar seperti pada kolonoskopi konvensional. Namun, jika ditemukan polip, pasien tetap harus menjalani kolonoskopi konvensional untuk tindakan pengangkatan polip tersebut.

5. DNA Stool Test

Setiap hari, dinding usus kita secara alami meluruhkan sel-sel mati, yang kemudian ikut terbuang bersama tinja. Jika di dalam usus terdapat polip prakanker atau sel kanker, mereka juga akan meluruhkan sel-selnya yang memiliki "sidik jari genetik" atau DNA yang rusak.

DNA stool test adalah teknologi terbaru yang tidak mencari darah atau bentuk fisik polip, melainkan menargetkan mutasi DNA yang mencurigakan langsung dari sampel tinja. Jika ditemukan mutasi DNA tertentu yang terkait dengan kanker kolorektal, maka pasien akan disarankan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.

Studi yang dipublikasikan dalam CA: A Cancer Journal for Clinicians (2026) meneliti Next-Generation Multitarget Stool DNA (ng-mt-sDNA) Test, yang merupakan pengembangan dari DNA stool test generasi pertama dan menggabungkan platform FIT (Fecal Immunochemical Test) dengan analisis biomarker molekuler (genomik).

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ng-mt-sDNA memiliki sensitivitas 93,9% dan spesifisitas 90,6% dalam mendeteksi kanker kolorektal. Artinya, tes ini sangat akurat dalam mengidentifikasi kanker sekaligus meminimalkan hasil positif palsu.

Baca juga: Cara Melakukan SADARI untuk Deteksi Dini Kanker Payudara

Bagaimana Hasil Skrining Kanker Kolorektal?

Hasil skrining kanker usus besar bisa normal atau abnormal. Hasil normal berarti tidak ditemukan tanda kanker maupun polip prakanker. Sebaliknya, jika hasil tes menunjukkan kelainan, dokter biasanya akan menyarankan kolonoskopi untuk memeriksa kondisi usus besar secara lebih detail.

Jika selama kolonoskopi ditemukan polip atau jaringan yang mencurigakan, dokter dapat mengambil atau mengangkat jaringan tersebut untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium. 

Berdasarkan hasil yang diperoleh, dokter akan menentukan langkah selanjutnya, seperti menjadwalkan kolonoskopi secara berkala atau merekomendasikan pemeriksaan dan penanganan tambahan jika ditemukan kanker.

Skrining Kanker Kolorektal sebagai Perlindungan Kesehatan Usus Jangka Panjang

Skrining secara berkala merupakan langkah proaktif yang paling efektif untuk menjaga kesehatan usus besar dan rektum. Ini karena sebagian besar kasus kanker kolorektal dapat dicegah atau ditemukan jauh lebih awal melalui metode skrining yang tepat.

Sebagai langkah perlindungan optimal, kamu bisa memanfaatkan layanan Pemeriksaan Klinis di Kaiser Cancer Center yang menawarkan peninjauan mendalam terkait riwayat kesehatan, gaya hidup, dan faktor risiko, lengkap dengan pemeriksaan menyeluruh serta rekomendasi tes penunjang langsung dari dokter spesialis.

Selain itu, kamu juga bisa menggunakan layanan Tes Genomik berbasis teknologi canggih yang mampu mendeteksi mutasi genetik pembawa risiko sekaligus memetakan sinyal dari 10 jenis kanker, termasuk kanker usus.

Jadi, jangan tunggu sampai gejala muncul dan lakukan skrining kanker kolorektal secara berkala sebagai langkah perlindungan kesehatan usus jangka panjang, bersama Kaiser Cancer Center #CareWithClarity.

Baca juga: Perbedaan SADARI dan SADANIS. Metode dan Waktunya!

Referensi:

Reviewer Image
dr. Dimas Priantono, Sp.P.D, Subsp.H.Onk.M. (K), FINASIM
Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi dan Onkologi Medik Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi dan Onkologi Medik dengan pengalaman lebih dari 5 tahun dalam bidang penyakit dalam.
A doctor smiling at a patient at Kaiser Cancer Center

Tim Kaiser Siap Menemani Setiap Langkahmu

Kami percaya, setiap langkah menuju pemulihan layak mendapat dukungan terbaik. Tim Kaiser hadir untuk mendampingimu—membawa ketenangan, harapan, dan dukungan di setiap tahap perjalananmu melalui pendekatan medis berteknologi mutakhir dan berstandar global.

Dapatkan Informasi Terbaru dari Kaiser

Subscribe untuk tetap terhubung dan menerima update terbaru dari Kaiser.