Logo

Imunoterapi Kanker: Ketahui Tujuan, Cara Kerja, dan Efek Sampingnya

Penulis: Tim Kaiser Cancer Center

Bagikan:

detail image article
Treatment

Tahukah kamu bahwa tubuh sebenarnya memiliki benteng pertahanan alami yang bisa melawan kanker? Masalahnya, sel kanker sering kali pintar 'bersembunyi' agar lolos dari radar sistem imun. Di sinilah imunoterapi berperan untuk melatih kembali sistem imun agar mampu mendeteksi dan menghancurkan sel kanker secara efektif.

 

Meski begitu, terapi ini tidak bisa diterapkan ke semua orang, sehingga evaluasi medis yang mendalam mengenai manfaat dan risikonya sangat diperlukan sebelum pengobatan dimulai. Untuk informasi lebih lengkap, simak penjelasan berikut ini.

Mengenal Imunoterapi Kanker: Mengaktifkan Pertahanan Alami Tubuh

Imunoterapi atau terapi berbasis imun merupakan salah satu metode pengobatan kanker yang bekerja dengan membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan melawan sel kanker. 

 

Sebenarnya, tubuh memiliki sistem imun yang bertugas melindungi tubuh dari berbagai ancaman, termasuk sel abnormal seperti kanker. Namun, sel kanker bisa beradaptasi dan bersembunyi dari radar sistem imun sehingga sulit dihancurkan oleh pertahanan tubuh.

 

Nah, melalui terapi ini, sistem imun “dilatih” atau diperkuat agar lebih efektif dalam menemukan dan melawan sel kanker. Terapi ini dapat bekerja dengan merangsang respons imun alami atau menggunakan zat yang dibuat di laboratorium untuk meniru fungsi sistem kekebalan tubuh.

Jenis-Jenis Imunoterapi Kanker

Ternyata, setiap jenis imunoterapi bekerja dengan cara yang berbeda dalam membantu sistem kekebalan tubuh kita melawan kanker. Berikut adalah beberapa jenis beserta masing-masing cara kerjanya: 

  • Checkpoint inhibitorTerapi ini bekerja dengan memblokir protein tertentu yang bertindak sebagai “rem” pada sistem imun. Dengan begitu, sel imun bisa kembali aktif mengenali dan menyerang sel kanker secara efektif.
  • CAR-T cell therapy: Sel imun pasien (sel-T) diambil dan dimodifikasi di laboratorium agar lebih spesifik dalam menargetkan kanker, lalu dimasukkan kembali ke tubuh untuk melawan sel kanker.
  • Antibodi monoklonal: Jenis terapi ini bekerja seperti sistem pelacak berupa antibodi buatan. Ia menandai bagian spesifik pada kanker agar sistem imun tubuh tahu persis mana yang harus diserang.
  • Terapi sitokin: Memanfaatkan protein alami tubuh, seperti interferon atau interleukin untuk meningkatkan dan mengatur respons sistem imun agar lebih aktif melawan kanker.

Tujuan Imunoterapi Kanker

Setiap pasien memiliki kondisi fisik, jenis kanker, dan respons tubuh yang unik. Oleh karena itu, target imunoterapi dirancang secara personal sesuai kebutuhan individu. Secara umum, berikut adalah beberapa tujuan utama dari pengobatan ini:

  • Menyembuhkan kanker: Pada kondisi tertentu, terapi ini ditujukan untuk menghancurkan sel kanker hingga tuntas, meskipun keberhasilannya dapat bervariasi pada setiap pasien.
  • Mengendalikan pertumbuhan kanker: Jika belum bisa disembuhkan, imunoterapi digunakan untuk memperlambat perkembangan atau mengecilkan tumor.
  • Meredakan gejala: Membantu meningkatkan kualitas hidup dengan meredakan gejala. Misalnya, mengecilkan tumor yang menimbulkan nyeri atau tekanan, terutama pada kanker stadium lanjut.

Siapa yang Bisa Menjalani Imunoterapi Kanker?

Terapi Meski menawarkan harapan baru, terapi ini tidak dapat diterapkan secara instan kepada semua orang. Tim medis harus melakukan evaluasi klinis yang kompleks terlebih dahulu. Berikut adalah faktor kritis yang menjadi dasar pertimbangan dokter:

  • Kesesuaian jenis kanker: Setiap jenis kanker memiliki karakteristik yang berbeda. Saat ini, imunoterapi baru terbukti efektif pada jenis kanker tertentu yang memang memiliki respons baik terhadap penguatan sistem imun.
  • Stadium dan penyebaran kanker: Terapi ini sebenarnya bisa digunakan pada berbagai stadium kanker. Namun, dokter sering menyarankan metode ini pada pasien stadium lanjut atau sebagai pendamping terapi lain agar hasilnya optimal.
  • Hasil pemeriksaan penunjang: Beberapa pasien perlu menjalani tes khusus, seperti analisis jaringan tumor atau tes darah, untuk menilai biomarker tertentu (misalnya PD-L1 atau MSI) dan menilai kemungkinan respons terhadap imunoterapi.
  • Riwayat terapi sebelumnya: Riwayat terapi, seperti kemoterapi atau radioterapi, sangat memengaruhi keputusan dokter. Respons tubuh dan efek samping yang pernah pasien alami juga akan menjadi bahan pertimbangan penting dalam menyusun strategi pengobatan baru.
  • Kondisi kesehatan secara umum: Beberapa faktor, seperti daya tahan tubuh dan kondisi fisik pasien, turut menentukan apakah terapi ini aman dan efektif untuk dijalani.

Keputusan akhir tetap berada di tangan dokter yang akan menilai seluruh aspek tersebut untuk memastikan terapi yang dipilih sesuai dengan kondisi setiap pasien.

Imunoterapi untuk Kanker Apa Saja?

Ketika mendengar tentang imunoterapi, mungkin muncul pertanyaan: Apakah imunoterapi efektif untuk semua jenis kanker? Jawabannya adalah ya, terapi ini mencakup spektrum kanker yang luas. Namun, efektivitas dan keputusan akhir pengobatan tetap mutlak memerlukan konsultasi serta diagnosis mendalam dari tim medis.

 

Secara umum, imunoterapi telah digunakan atau dipelajari pada berbagai jenis kanker, antara lain:

  • Kanker paru-paru dan melanoma: Termasuk jenis kanker yang paling responsif terhadap imunoterapi dan sering menjadi bagian utama pengobatan.
  • Kanker ginjal, hati, dan kandung kemih: Imunoterapi banyak digunakan, baik sebagai terapi tunggal maupun kombinasi. Hal ini terutama direkomendasikan pada pasien dengan stadium lanjut.
  • Kanker payudara, serviks, dan lambung: Untuk jenis kanker ini, imunoterapi biasanya diberikan dengan pertimbangan tertentu, misalnya apakah ada 'penanda' khusus (biomarker), seperti PD-L1 pada sel kanker, atau jika kondisi kanker memang sudah menyebar (metastasis).
  • Kanker kolorektal: Imunoterapi cenderung lebih efektif pada kasus dengan kelainan perbaikan DNA (biomarker tertentu), sementara pada tipe lain masih terus diteliti.
  • Kanker darah (leukemia, limfoma, multiple myeloma): Kelompok kanker ini menunjukkan respons yang positif terhadap beberapa jenis imunoterapi, seperti CAR-T cell dan imunoterapi berbasis antibodi.
  • Kanker kepala dan leher, esofagus, serta kulit nonmelanoma: Untuk kasus-kasus ini, imunoterapi biasanya menjadi opsi utama ketika kondisi kanker sudah mencapai stadium lanjut atau kambuh. Dokter bisa memberikannya sebagai terapi tunggal atau menggabungkannya dengan metode lain.

Respons terhadap imunoterapi sangat dipengaruhi oleh karakteristik tumor sehingga tidak semua pasien dengan jenis kanker yang sama akan merespons imunoterapi. Maka dari itu, rencana pengobatan yang diambil harus bersifat individual (personalized medicine).

 

Baca juga: Jenis Pengobatan Kanker Payudara dan Efek Sampingnya!

Bagaimana Prosedur Imunoterapi Kanker?

Pemberian imunoterapi dapat dilakukan dengan berbagai metode, tergantung pada jenis obat dan kondisi pasien. Berikut adalah beberapa metode umumnya:

  • Melalui infus ke pembuluh darah (IV), di mana obat diberikan secara bertahap dalam jangka waktu tertentu.
  • Dalam bentuk tablet yang diminum.
  • Melalui suntikan di bawah kulit atau langsung ke area tumor.
  • Krim yang dioleskan ke kulit untuk kasus tertentu, seperti kanker kulit.

Jadwal pemberiannya pun bervariasi, mulai dari harian, mingguan, hingga dalam siklus tertentu yang disertai jeda istirahat. Masa jeda ini penting untuk memberi waktu bagi tubuh memulihkan diri dan membentuk sel-sel sehat. 

Apa Efek Samping Imunoterapi Kanker?

Respons tubuh setelah imunoterapi berbeda pada setiap orang, tergantung jenis obat, dosis, dan kondisi kesehatan Anda. Efek samping muncul karena sistem imun terlalu aktif hingga menyerang sel sehat. Meski umumnya ringan, beberapa kondisi tetap butuh penanganan langsung dari dokter. Berikut adalah beberapa efek samping yang mungkin terjadi:

  • Masalah kulit, seperti ruam, gatal, atau kemerahan.
  • Kelelahan yang cukup intens dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Gangguan pencernaan, seperti mual, muntah, diare, hingga peradangan pada usus (kolitis).
  • Perubahan hormon, misalnya pada kelenjar tiroid, adrenal, atau hipofisis yang dapat memengaruhi keseimbangan hormon tubuh.
  • Gejala mirip flu, seperti demam, menggigil, dan nyeri otot.
  • Peradangan organ akibat sistem imun menyerang sel sehat (misalnya pada usus atau sistem saraf).
  • Pada terapi tertentu (seperti CAR-T cell), bisa muncul cytokine release syndrome yang ditandai dengan demam tinggi. Meski jarang terjadi, kondisi ini memerlukan pengawasan ketat.

Efek samping ini dapat muncul selama maupun setelah terapi sehingga penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter jika mengalami gejala tertentu.

 

Baca juga: Biopsi Serviks, Inilah Jenis dan Prosedurnya!

Melawan Kanker dengan Pertahanan Terbaik yang Kamu Miliki

Tubuh kita sebenarnya punya sistem imun alami untuk mengenali dan melawan kanker. Imunoterapi hadir sebagai inovasi medis yang memaksimalkan kerja sistem imun tersebut agar lebih optimal. Namun, karena setiap kondisi pasien unik dan ada risiko efek samping, terapi ini tidak bisa diterapkan ke semua orang tanpa evaluasi serta konsultasi mendalam dengan dokter atau tim medis.

 

Untuk mendapatkan rencana terapi yang sesuai, Kaiser Cancer Center menyediakan Terapi Sistemik, yang meliputi kemoterapi, terapi target, hingga imunoterapi. Tim dokter spesialis akan mendampingimu untuk menyusun rencana pengobatan yang paling aman dan sesuai dengan kebutuhan.

 

Mari konsultasikan langkah pemulihan kesehatanmu bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.

Frequently Asked Questions (FAQs)

1. Apa perbedaan kemoterapi dan imunoterapi?

  • Kemoterapi: Membunuh sel kanker langsung dengan obat kimia (sitotoksik).
  • Imunoterapi: Memanfaatkan sistem imun tubuh untuk melawan sel kanker.

2. Seberapa cepat imunoterapi mengecilkan tumor?

Waktu respons terapi berbasis imun ini bisa berbeda-beda. Beberapa pasien mulai menunjukkan efek dalam beberapa minggu, sementara yang lain membutuhkan beberapa bulan.

3. Apakah imunoterapi kanker ditanggung BPJS?

Saat ini, terapi ini belum ditanggung BPJS Kesehatan.

4. Berapa biaya imunoterapi kanker?

Biayanya bervariasi, mulai dari puluhan juta hingga ratusan juta per siklus, tergantung obat, dosis, dan fasilitas kesehatan yang menyediakannya. Hubungi dan konsultasikan dengan dokter untuk informasi lebih lengkap mengenai estimasi biaya dan rencana pengobatan yang tepat.

5. Apakah imunoterapi efektif untuk kanker?

Efektivitas tergantung pada jenis kanker dan kondisi pasien. Beberapa pasien dapat melihat tumor mengecil atau pertumbuhan kanker melambat, tetapi hasilnya bisa berbeda-beda.

 

Baca juga: Penyebab Kanker Payudara Berdasarkan Jenis Faktornya!

Reviewer Image
dr. Marco Vidor, Sp.PD
Spesialis Penyakit Dalam

Artikel Terkait

A doctor smiling at a patient at Kaiser Cancer Center

Tim Kaiser Siap Menemani Setiap Langkahmu

Kami percaya, setiap langkah menuju pemulihan layak mendapat dukungan terbaik. Tim Kaiser hadir untuk mendampingimu—membawa ketenangan, harapan, dan dukungan di setiap tahap perjalananmu melalui pendekatan medis berteknologi mutakhir dan berstandar global.

Dapatkan Informasi Terbaru dari Kaiser

Subscribe untuk tetap terhubung dan menerima update terbaru dari Kaiser.