Tahukah kamu bahwa kanker serviks dapat dicegah? Salah satu langkah penting untuk membantu mencegah kanker serviks adalah mendapatkan vaksin HPV (Human Papillomavirus), yaitu virus yang menjadi penyebab utama kanker serviks. Lantas, vaksin kanker serviks berapa kali?
Jumlah dosis vaksin HPV bergantung pada usia saat dosis pertama diberikan dan kondisi sistem kekebalan tubuh. Berikut penjelasan mengenai jumlah dosis dan jadwal vaksinasi HPV yang perlu kamu ketahui.
Vaksin Kanker Serviks Berapa Kali?
Jumlah dosis vaksin HPV yang dibutuhkan tergantung pada usia saat menerima dosis pertama serta kondisi imun tubuh. Berdasarkan informasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)1 dan World Health Organization (WHO)2, vaksin HPV diberikan sebanyak 2 atau 3 dosis, tergantung pada usia dan kondisi kesehatan saat vaksinasi dimulai.
1. Pada Anak-Anak Usia 9-14 Tahun
Pada anak dan remaja usia 9–14 tahun, vaksin HPV umumnya diberikan sebanyak 2 dosis.
Jumlah Dosis: 2 dosis.
Jadwal Pemberian: Dosis kedua diberikan 6-12 bulan setelah dosis pertama.
Di Indonesia, vaksinasi HPV juga termasuk dalam program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) dan diberikan kepada anak perempuan pada usia sekolah dasar sesuai dengan program pemerintah yang berlaku.
2. Pada Remaja dan Orang Dewasa Usia 15 Tahun Ke Atas
Jika vaksinasi HPV baru dimulai pada usia 15 tahun atau lebih, umumnya diperlukan 3 dosis.
- Jumlah Dosis: 3 dosis.
- Jadwal Pemberian: Dosis kedua diberikan 1–2 bulan setelah dosis pertama, sedangkan dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah dosis pertama.
Mengapa kelompok usia 15–26 tahun membutuhkan dosis vaksin HPV yang lebih banyak? Hal ini dikarenakan seiring bertambahnya usia, respons sistem imun memerlukan dorongan (priming) yang lebih kuat dibandingkan dengan anak-anak usia 9–14 tahun. Oleh karena itu, diperlukan tiga kali suntikan agar pembentukan daya tahan tubuh dapat berjalan lebih optimal.
3. Individu dengan Sistem Kekebalan Tubuh yang Lemah (Imunokompromais)
Individu dengan kondisi yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh lemah (imunokompromis) membutuhkan 3 dosis vaksin HPV, berapa pun usia mereka. Sebab, kelompok ini memiliki sistem imun yang lemah sehingga pembentukan antibodi dari vaksin menjadi lebih rendah dibandingkan orang sehat.
Adapun kondisi yang termasuk dalam kategori imunokompromis meliputi:
Infeksi HIV.
- Kondisi atau pengobatan tertentu yang menekan sistem kekebalan tubuh, seperti pada penyakit kanker.
- Pasien yang menjalani transplantasi organ atau sel punca.
- Pasien yang sedang mengonsumsi obat penekan kekebalan tubuh (immunosuppressive therapy).
Kelainan sistem imun bawaan.
Jika memiliki kondisi medis atau sedang menjalani pengobatan yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh, jadwal vaksinasi sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter.
Baca juga: Cara Cek Kanker Serviks Sendiri, Cegah Risiko Sejak Dini!
Kenapa Vaksin HPV Perlu Diberikan Lebih dari Satu Kali?
Vaksin HPV diberikan dalam 2 atau 3 dosis sesuai dengan usia saat vaksinasi dimulai dan kondisi sistem kekebalan tubuh. Pemberian lebih dari satu dosis bertujuan untuk membangun dan mempertahankan respons kekebalan tubuh terhadap infeksi HPV.
Beberapa faktor yang menjadi dasar perbedaan jumlah dosis antara lain:
Usia saat vaksinasi dimulai: Anak usia 9–14 tahun umumnya memiliki respons kekebalan yang baik terhadap vaksin HPV sehingga dapat menggunakan jadwal 2 dosis. Jika vaksinasi baru dimulai pada usia 15 tahun atau lebih, umumnya diperlukan 3 dosis.
- Kondisi sistem kekebalan tubuh: Individu dengan kondisi imunokompromais memerlukan 3 dosis karena respons terhadap vaksin dapat berbeda dibandingkan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang normal.
Perlindungan yang optimal: Menyelesaikan seluruh rangkaian dosis sesuai jadwal yang dianjurkan membantu memastikan perlindungan yang diharapkan dari vaksin dapat terbentuk dengan baik.
Perlu diingat, vaksin HPV tidak mengobati infeksi HPV yang sudah terjadi. Karena itu, vaksinasi paling bermanfaat jika diberikan sebelum seseorang terpapar HPV. Meski demikian, vaksinasi tetap dapat memberikan manfaat pada sebagian orang yang sudah aktif secara seksual karena seseorang belum tentu pernah terpapar semua tipe HPV yang dapat dicegah oleh vaksin.
Bagaimana Jadinya Jika Terlambat atau Tidak Mendapat Dosis Vaksin HPV yang Lengkap?
Jika vaksin HPV tidak diberikan sesuai jumlah dosis yang direkomendasikan, perlindungan terhadap infeksi HPV mungkin belum optimal. Meskipun satu dosis vaksin HPV sudah dapat memberikan perlindungan, pemberian dosis berikutnya sesuai jadwal yang direkomendasikan membantu memastikan perlindungan yang optimal berdasarkan usia dan kondisi sistem kekebalan tubuh.
Karena itu, jika kamu baru mendapatkan satu dosis, padahal membutuhkan dua atau tiga dosis, sebaiknya vaksinasi dilanjutkan sesuai rekomendasi dokter.
Jika kamu melewatkan jadwal dosis kedua atau ketiga, tidak perlu mengulang vaksinasi dari dosis pertama. Dosis yang sudah diberikan tetap diperhitungkan, dan vaksinasi dapat dilanjutkan dengan dosis yang masih diperlukan. Dokter akan menentukan jadwal berikutnya berdasarkan dosis yang sudah diterima dan jarak antardosis.
Baca juga: Kapan Deteksi Dini Kanker Serviks? Ini Jenis Metode dan Manfaatnya!
Perawatan setelah Vaksin HPV
Vaksin HPV umumnya aman dan dapat menimbulkan beberapa efek samping ringan. Tetapi, beberapa orang mungkin tidak mengalami efek samping apa pun setelah vaksinasi, sementara yang lain mungkin mengalami beberapa efek samping vaksin kanker serviks berikut:
Rasa nyeri, kemerahan, atau pembengkakan di area bekas suntikan.
- Demam ringan.
- Sakit kepala atau merasa lelah.
- Mual.
- Nyeri otot atau sendi.
Untuk membantu mengurangi rasa tidak nyaman setelah vaksinasi, kamu dapat:
Kompres dingin di area bekas suntikan jika terasa nyeri atau bengkak.
- Minum cukup air.
- Istirahat yang cukup.
Mengonsumsi obat pereda nyeri atau penurun demam jika diperlukan dan sesuai anjuran dokter.
Setelah mendapatkan vaksin HPV, kamu juga biasanya dianjurkan untuk tetap berada di fasilitas kesehatan selama sekitar 15 menit untuk observasi. Hal ini terutama untuk mengantisipasi reaksi segera setelah vaksinasi, termasuk pingsan yang dapat terjadi setelah penyuntikan.
Catatan: Reaksi alergi berat setelah vaksinasi sangat jarang terjadi. Jika muncul gejala seperti sesak napas, pembengkakan pada wajah atau tenggorokan, atau reaksi berat lainnya, segera cari pertolongan medis.
Konsultasikan Kebutuhan Vaksin HPV dengan Dokter
Vaksinasi HPV merupakan salah satu langkah penting untuk membantu mencegah infeksi HPV dan kanker serviks. Namun, jadwal dan jumlah dosis vaksin dapat berbeda berdasarkan usia saat vaksinasi dimulai serta kondisi masing-masing individu.
Jika kamu masih ragu mengenai kapan perlu mendapatkan vaksin HPV atau berapa dosis yang dibutuhkan, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan rekomendasi yang sesuai. Di Kaiser Cancer Center, kamu bisa berkonsultasi terlebih dahulu untuk mendapatkan rekomendasi dosis yang tepat sesuai usia dan kondisi kesehatanmu.
Kemudian, kamu bisa mendapatkan vaksinasi HPV sesuai rekomendasi dokter melalui layanan Skrining & Deteksi Dini Kanker di Kaiser Cancer Center sebagai bagian dari upaya pencegahan kanker serviks secara menyeluruh.

Kamu juga bisa memaksimalkan upaya pencegahan kanker serviks dengan menjalani skrining menggunakan Promo Skrining Kesehatan Kandungan dan Kanker Serviks. Paket ini mencakup layanan pemeriksaan lengkap, mulai dari konsultasi medis, pemeriksaan ginekologi, Pap smear, hingga HPV DNA, tergantung pada paket yang dipilih.
Jadi, mari ambil langkah preventif sejak dini untuk melindungi diri dari risiko kanker serviks bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.
Baca juga: Pemeriksaan Pap Smear: Tujuan, Prosedur, dan Efek Samping
Frequently Asked Questions (FAQs)
1. Apakah seseorang yang sudah vaksin HPV masih bisa terkena kanker serviks?
Ya. Vaksin HPV sangat efektif dalam membantu mencegah infeksi HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks, tetapi tidak melindungi terhadap semua penyebab kanker serviks. Karena itu, perempuan yang sudah mendapatkan vaksin HPV tetap dianjurkan menjalani skrining kanker serviks sesuai rekomendasi.
2. Apakah usia 50 tahun bisa vaksin HPV?
Jika kamu berusia 50 tahun dan ingin mendapatkan vaksin HPV, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter. Sebab, vaksin HPV paling bermanfaat jika diberikan sebelum seseorang terpapar HPV.
Untuk orang dewasa usia 27–45 tahun, CDC merekomendasikan pengambilan keputusan bersama dengan dokter berdasarkan kemungkinan manfaat vaksinasi bagi individu tersebut. Di atas usia tersebut, manfaat vaksinasi umumnya semakin terbatas dan keputusan pemberiannya perlu mempertimbangkan rekomendasi serta izin penggunaan vaksin yang berlaku di negara setempat.
3. Vaksin kanker serviks berapa harganya?
Biaya vaksin HPV sangat bervariasi, yakni mulai sekitar Rp600.000 hingga Rp2.500.000 per dosis. Harga dapat berbeda tergantung pada jenis vaksin HPV yang digunakan, jumlah dosis, dan fasilitas kesehatan yang menyediakannya. Harga juga dapat berubah sewaktu-waktu.
Untuk mengetahui harga dan ketersediaan vaksin HPV terbaru di Kaiser Cancer Center, hubungi tim kami secara langsung.
Referensi:
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun, Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2024 [Internet]. [Diakses pada 14 September 2026]. Diakses dari: https://www.idai.or.id/news-event/agenda-nasional/others/6798
- World Health Organization. Human Papillomavirus Vaccines (HPV) [Internet]. [Diakses pada 14 September 2026]. Diakses dari: https://www.who.int/teams/immunization-vaccines-and-biologicals/diseases/human-papillomavirus-vaccines-(HPV)
- Bramlet Blackburn K, Alexander Dahl H, Van Thomme G. HPV Vaccine: What Age Is Too Late? UT MD Anderson Cancer Center [Internet]. [Diakses pada 14 September 2026]. Diakses dari: https://www.mdanderson.org/cancerwise/hpv-vaccine-what-age-is-too-late.h00-159778812.html
- Australian Technical Advisory Group on Immunisation (ATAGI). Human Papillomavirus (HPV) [Internet]. [Diakses pada 14 September 2026]. Diakses dari: https://immunisationhandbook.health.gov.au/contents/vaccine-preventable-diseases/human-papillomavirus-hpv
- Centers for Disease Control and Prevention. Before, During, and After Shots [Internet]. [Diakses pada 14 September 2026]. Diakses dari: https://www.cdc.gov/vaccines-children/before-during-after-shots/index.html








