Apakah kanker serviks menular lewat pakaian? Pertanyaan ini mungkin pernah terlintas di kepalamu, atau setidaknya, pernah kamu dengar dalam bisik-bisik obrolan sehari-hari.
Faktanya, kanker serviks bukanlah penyakit menular sehingga tidak dapat berpindah dari satu orang ke orang lain melalui jabat tangan, berbagi pakaian, menggunakan toilet yang sama, atau kontak sosial sehari-hari.
Namun, hampir seluruh kasus kanker serviks berkaitan dengan infeksi virus HPV (Human Papillomavirus) yang dapat menular melalui kontak seksual. Untuk mengetahui informasi selengkapnya mengenai penularan HPV, simak penjelasan berikut ini.
Mitos vs. Fakta: Apakah Kanker Serviks Menular?
Apakah kanker serviks menular ke suami? Seperti yang telah disinggung sebelumnya, kanker serviks bukan penyakit menular sehingga tidak dapat menyebar ke suami, anak, maupun orang lain di sekitar.
Lantas, kenapa muncul anggapan bahwa kanker serviks menular? Anggapan ini biasanya muncul karena adanya miskonsepsi mengenai penyebab kanker serviks yang disebabkan oleh infeksi virus HPV.
Virus HPV memang dapat menular melalui aktivitas seksual serta kontak intim kulit ke kulit di area genital. Sebagian besar infeksi HPV dapat hilang dengan sendirinya tanpa menimbulkan masalah kesehatan. Namun, HPV risiko tinggi dapat menetap di dalam tubuh dalam jangka panjang dan akhirnya memicu kanker serviks.
Jadi, anggapan bahwa kanker serviks bisa menular hanya karena duduk di toilet umum, berjabat tangan, atau berbagi pakaian adalah mitos belaka. Yang sebenarnya menular bukanlah penyakit kankernya, melainkan virus HPV yang menjadi pemicu utamanya.
Bagaimana HPV Bisa Menyebabkan Kanker Serviks?
Berdasarkan informasi dari World Health Organization (WHO), terdapat lebih dari 100 tipe HPV yang beberapa di antaranya berpotensi tinggi menyebabkan kanker serviks. HPV tipe 16 dan tipe 18 termasuk dalam kategori risiko tinggi dan bertanggung jawab atas sekitar 70% kasus kanker serviks di seluruh dunia1.
Infeksi HPV berisiko tinggi yang menetap dalam jangka panjang dapat menyebabkan perubahan abnormal pada sel-sel serviks. Perubahan tersebut dapat berkembang menjadi lesi prakanker dan, jika tidak terdeteksi sejak awal dan dibiarkan, dapat memicu perkembangan sel karsinoma atau kanker dalam jangka panjang.
Selain HPV tipe 16 dan 18, tipe lain yang juga termasuk kategori berisiko tinggi menyebabkan kanker serviks adalah tipe 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, dan 68. Sementara itu, tipe HPV berisiko rendah, seperti tipe 6 dan 11, umumnya tidak menyebabkan kanker serviks, melainkan memicu munculnya kutil kelamin (kondiloma akuminata).
Penting untuk diingat bahwa terinfeksi salah satu dari tipe HPV berisiko tinggi di atas tidak otomatis berarti kamu akan langsung terkena kanker serviks. Sebagian besar orang dengan sistem kekebalan tubuh yang baik mampu membersihkan infeksi HPV ini secara alami dalam kurun waktu tertentu. WHO menyebutkan bahwa pada sekitar 90% orang, tubuh dapat mengendalikan infeksi HPV secara alami.
Namun, pada sebagian kecil orang, infeksi HPV berisiko tinggi dapat menetap dalam jangka panjang. Persistensi infeksi inilah yang menjadi faktor penting dalam terjadinya perubahan sel prakanker dan kanker serviks.
Risiko progresi kanker serviks juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor lain, seperti status sistem imun, kebiasaan merokok, infeksi menular seksual lainnya, serta faktor reproduksi tertentu.
Baca juga: Cara Cek Kanker Serviks Sendiri, Cegah Risiko Sejak Dini!
Bagaimana Cara Mencegah Penularan HPV?
Penularan HPV umumnya terjadi melalui kontak seksual yang dapat menginfeksi kulit dan membran mukosa, yaitu lapisan tipis dan lembap yang melapisi bagian dalam tubuh tertentu, seperti:
Anus.
- Mulut.
- Vagina.
Rektum.
Seseorang juga dapat menularkan HPV meskipun tidak memiliki gejala atau tanda infeksi yang terlihat. Mengingat virus ini sangat mudah berpindah melalui kontak langsung dari kulit ke kulit saat berhubungan seksual, langkah pencegahan yang komprehensif sangat penting untuk menekan risiko infeksi.
Berikut adalah berbagai cara efektif untuk mencegah penularan dan infeksi virus HPV.
1. Vaksin HPV
Vaksin HPV adalah salah satu cara yang sangat efektif untuk melindungi tubuh dari infeksi virus HPV tertentu yang dapat menyebabkan kanker serviks. Namun, perlu diingat bahwa vaksin ini berguna untuk mencegah, bukan untuk mengobati infeksi HPV yang sudah terjadi.
Oleh karena itu, pemberian vaksin ini disarankan sebelum seseorang aktif berhubungan seksual, mulai dari usia 9–26 tahun. Bagi individu berusia 27–45 tahun, disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter guna mendapatkan penilaian apakah pemberian vaksin ini masih efektif atau tidak.
2. Menggunakan Kondom saat Berhubungan Seksual
Penggunaan kondom memang tidak bisa menghilangkan risiko infeksi HPV sepenuhnya karena virus ini dapat menyebar melalui kontak kulit ke kulit di area yang tidak tertutup oleh kondom.
Namun, penggunaan kondom yang benar tetap efektif untuk mengurangi risiko tertular maupun menularkan HPV kepada pasangan seksual. Selain itu, kondom sangat berguna untuk memberikan perlindungan dari berbagai infeksi menular seksual (IMS) lainnya.
3. Tidak Berganti-Ganti Pasangan Seksual
Semakin banyak pasangan seksual, semakin besar kemungkinan seseorang bertemu dengan orang yang terinfeksi HPV. Karena itu, membatasi jumlah pasangan seksual dapat membantu mengurangi peluang terpapar HPV.
Risiko juga dapat meningkat jika seseorang melakukan aktivitas seksual dengan orang yang memiliki banyak pasangan seksual sebelumnya. Sebab, kemungkinan orang tersebut pernah terpapar HPV menjadi lebih besar.
Baca juga: Skrining Kanker Serviks: Inilah Metode Pemeriksaannya!
Skrining Rutin Sebagai Bagian dari Langkah Pencegahan Kanker Serviks
Kanker serviks tidak dapat menular ke pasangan, anak, maupun anggota keluarga lainnya. Namun, virus HPV yang merupakan penyebab utama kanker serviks dapat menular melalui hubungan seksual dengan pasangan. Jika virus tersebut menetap dan memicu infeksi kronis, risiko kanker serviks menjadi lebih besar.
Adapun langkah terbaik untuk mencegah penularan HPV adalah melalui vaksinasi HPV dan berhubungan seksual yang aman. Selain itu, kamu juga bisa melakukan skrining secara rutin, seperti Pap smear dan/atau tes HPV DNA untuk mendeteksi perubahan abnormal pada serviks sejak dini.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Kaiser Cancer Center menghadirkan layanan Pap Smear yang dilakukan oleh tim dokter spesialis dan tenaga medis berpengalaman sehingga proses pemeriksaan berjalan dengan aman dan nyaman.
Jadi, mari lindungi diri dari risiko kanker serviks bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.
Baca juga: Pemeriksaan Pap Smear: Tujuan, Prosedur, dan Efek Samping
Referensi:
- World Health Organization. Supporting the Prevention, Detection and Treatment of Cervical Cancer [Internet]. [Diakses pada 17 September 2026]. Diakses dari: https://www.who.int/europe/activities/supporting-the-prevention-detection-and-treatment-of-cervical-cancer
- Cunha JP, editor. Can A Woman Spread Cervical Cancer to A Man? [Internet]. [Diakses pada 17 September 2026]. Diakses dari: https://www.emedicinehealth.com/can_a_woman_spread_cervical_cancer_to_a_man/article_em.htm
- Stöppler MC. Genital Warts (HPV Infection): Types, Treatment, Symptoms, Pictures & Causes [Internet]. [Diakses pada 17 September 2026]. Diakses dari: https://www.emedicinehealth.com/genital_warts/article_em.htm
- Sissons B. Is Cervical Cancer Contagious? HPV Infection and Other Risk Factors [Internet]. [Diakses pada 17 September 2026]. Diakses dari: https://www.medicalnewstoday.com/articles/is-cervical-cancer-contagious
- American Cancer Society. How to Protect Against HPV [Internet]. [Diakses pada 17 September 2026]. Diakses dari: https://www.cancer.org/cancer/risk-prevention/hpv/hpv-prevention.html
- Public Health Agency of Canada. Human Papillomavirus (HPV): Spread, Prevention and Risks [Internet]. [Diakses pada 17 September 2026]. Diakses dari: https://www.canada.ca/en/public-health/services/diseases/human-papillomavirus-hpv/spread-prevention-risks.html








