Banyak wanita merasa sehat karena tidak mengalami keluhan atau gejala apa pun. Padahal, beberapa penyakit dapat berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan tanda yang jelas pada tahap awal, termasuk kanker serviks.
Karena itu, skrining kanker serviks memegang peranan penting dalam upaya deteksi dini. Dengan deteksi dan penanganan yang tepat sejak dini, risiko terjadinya kanker serviks dapat dikurangi secara signifikan.
Lalu, apa saja metode skrining kanker serviks yang tersedia dan bagaimana perbedaannya? Simak penjelasannya berikut ini.
Metode Skrining Kanker Serviks
Saat ini, terdapat beberapa metode skrining kanker serviks yang dapat dipilih sesuai usia, kondisi kesehatan, serta rekomendasi dokter.
Masing-masing metode memiliki cara pemeriksaan yang berbeda, tetapi sama-sama bertujuan membantu menemukan kelainan sejak dini agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin. Berikut adalah beberapa cara skrining kanker serviks.
1. Pap Smear
Pap smear adalah salah satu jenis tes sitologi yang bekerja dengan mengambil sampel sel serviks menggunakan alat khusus. Kemudian, sampel tersebut dianalisis di laboratorium untuk mendeteksi perubahan sel abnormal pada serviks yang dapat berkembang menjadi kanker serviks apabila tidak ditangani.
Meskipun telah digunakan secara luas dan terbukti efektif menurunkan angka kejadian kanker serviks, tidak ada metode skrining yang memiliki akurasi 100%. Ada kalanya pemeriksaan ini menunjukkan hasil false negative (hasil tampak normal padahal ada sel abnormal) atau false positive (hasil tampak abnormal padahal sel sehat).
Oleh karena itu, Pap smear perlu dilakukan secara berkala sesuai rekomendasi dokter agar perubahan sel yang mungkin belum terdeteksi pada pemeriksaan sebelumnya tetap dapat ditemukan pada pemeriksaan berikutnya.
Secara umum, terdapat dua metode pemeriksaan sitologi yang digunakan:
- Pap Smear Konvensional: Metode skrining kanker serviks yang telah lama digunakan, di mana sampel sel leher rahim langsung dioleskan ke kaca objek mikroskop sehingga berisiko terhalang oleh darah atau lendir.
- Liquid-Based Cytology (LBC): Metode yang lebih modern, di mana sampel sel serviks diproses terlebih dahulu guna memisahkan sel-sel leher rahim dari elemen pengganggu, seperti darah atau lendir sehingga hasil pemeriksaan lebih mudah dianalisis.
2. Tes HPV-DNA
Tes HPV (human papillomavirus) DNA adalah metode skrining yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan materi genetik dari virus HPV risiko tinggi pada sampel sel serviks.
Berdasarkan studi dalam National Library of Medicine (2022), sensitivitas tes ini sangat tinggi, yakni mencapai lebih dari 90% untuk mendeteksi lesi prakanker. Dengan sensitivitas tersebut, tes HPV dinilai lebih efektif dalam mengidentifikasi wanita yang berisiko mengalami lesi prakanker dan kanker serviks akibat infeksi HPV risiko tinggi.
Tes HPV dapat dilakukan secara mandiri melalui metode self-sampling maupun dengan bantuan tenaga medis. Selanjutnya, sampel serviks yang telah diambil akan dibawa ke laboratorium untuk dianalisis lebih lanjut.
Tes HPV-DNA membantu mendeteksi keberadaan HPV risiko tinggi yang berhubungan dengan kanker serviks, sedangkan Pap smear digunakan untuk menilai apakah telah terjadi perubahan sel pada serviks.
Selain dilakukan secara terpisah, Pap smear dan tes HPV-DNA juga dapat dilakukan secara bersamaan dalam satu waktu. Pendekatan ini dikenal sebagai co-testing. Kombinasi kedua pemeriksaan ini memberikan informasi yang lebih lengkap mengenai risiko dan kondisi kesehatan serviks pasien.
Baca juga: Penyebab Kanker Serviks pada Wanita dan Cara Mencegahnya
Bagaimana Persiapan Skrining Kanker Serviks?
Sebelum menjalani skrining kanker serviks di puskesmas, rumah sakit, klinik, maupun di rumah, ada beberapa persiapan yang biasanya dianjurkan agar hasil pemeriksaan lebih optimal. Dokter atau tenaga kesehatan umumnya akan meminta kamu untuk:
- Tidak melakukan hubungan seksual selama sekitar 24-48 jam sebelum pemeriksaan.
- Menghindari penggunaan produk yang dimasukkan ke vagina, seperti tampon, krim vagina, maupun obat oles setidaknya 2 hari sebelumnya.
- Menjadwalkan pemeriksaan ketika tidak sedang menstruasi karena darah dapat memengaruhi kualitas sampel dan hasil pemeriksaan.
Pada beberapa kondisi, skrining tetap dapat dilakukan meskipun sedang mengalami perdarahan ringan atau menstruasi. Namun, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan untuk memastikan waktu pemeriksaan yang paling tepat.
Hasil Skrining Kanker Serviks
Hasil skrining kanker serviks dapat berbeda tergantung pada jenis pemeriksaan yang dilakukan, baik Pap smear maupun tes HPV-DNA. Penting untuk diketahui bahwa hasil yang tidak normal tidak selalu berarti seseorang menderita kanker serviks.
Hasil Pap Smear
Secara umum, hasil Pap smear dapat dibagi menjadi beberapa kategori berikut:
- Normal (negatif): Tidak ditemukan sel abnormal pada serviks.
- Abnormal (positif): Ditemukan perubahan sel pada serviks yang memerlukan evaluasi lebih lanjut. Sebagian besar perubahan ini masih berupa kelainan ringan atau lesi prakanker dan belum tentu merupakan kanker.
- Unsatisfactory (sampel tidak memadai): Jumlah sel yang diperoleh tidak cukup atau kualitas sampel kurang baik sehingga pemeriksaan perlu diulang.
Hasil HPV-DNA
Hasil tes HPV-DNA dibagi menjadi dua kategori utama berikut:
- Normal (negatif): Tidak ditemukan jenis virus HPV risiko tinggi (penyebab kanker) di dalam sampel sel serviks. Artinya, risiko pasien terkena kanker serviks selama beberapa tahun ke depan tergolong rendah.
- Abnormal (positif): Ditemukan jenis virus HPV risiko tinggi di dalam sampel sel serviks sehingga memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Namun, hasil abnormal tidak selalu berarti seseorang menderita kanker serviks. Justru tujuan utama skrining adalah menemukan kelainan sejak dini agar dapat ditangani sebelum berkembang menjadi kanker serviks.
Apabila ditemukan hasil Pap smear yang abnormal atau tes HPV-DNA yang positif, dokter akan menentukan langkah selanjutnya berdasarkan jenis kelainan, usia pasien, serta riwayat skrining sebelumnya.
Jika hasil skrining abnormal, dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan lanjutan, seperti:
- Pemeriksaan serviks secara lebih detail.
- Kolposkopi untuk melihat area serviks menggunakan alat pembesar khusus.
- Biopsi untuk mengambil sampel jaringan serviks yang kemudian dianalisis di laboratorium.
Pemeriksaan lanjutan ini bertujuan untuk memastikan apakah terdapat lesi prakanker atau kanker serviks serta menentukan penanganan yang paling sesuai.
Baca juga: Kemoterapi Kanker Serviks, Ini Prosedur dan Efek Sampingnya
Deteksi Dini Selamatkan Masa Depan
Kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker yang dapat dicegah dan dideteksi sejak dini melalui skrining yang tepat. Sayangnya, banyak wanita tidak menyadari adanya kelainan karena kanker serviks sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.
Melalui skrining rutin, infeksi HPV risiko tinggi maupun perubahan sel abnormal pada serviks dapat ditemukan sebelum berkembang menjadi kanker. Dengan deteksi dan penanganan yang dilakukan sejak dini, peluang keberhasilan terapi menjadi lebih tinggi dan risiko terjadinya komplikasi dapat diminimalkan.
Karena itu, jangan menunggu hingga keluhan muncul untuk mulai memeriksakan diri. Konsultasikan jadwal skrining yang sesuai dengan usia, riwayat kesehatan, dan faktor risiko yang kamu miliki.
Untuk mendukung upaya deteksi dini kanker serviks, Kaiser Cancer Center menghadirkan layanan Skrining & Deteksi Dini yang didukung oleh tenaga medis berpengalaman serta fasilitas diagnostik yang canggih dan terintegrasi.
Dengan pemeriksaan yang tepat dan konsultasi menyeluruh, pasien dapat memperoleh rekomendasi skrining sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing. Jadi, mari ambil langkah nyata untuk melindungi kesehatanmu bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.
Baca juga: Apakah Penderita Kanker Serviks Bisa Hamil? Ini Penjelasannya
Referensi:
- National Library of Medicine. Screening for Cervical Cancer. Diakses pada 2026.
- National Library of Medicine. Screening Technologies for Cervical Cancer: Overview. Diakses pada 2026.
- Cleveland Clinic. Cervical Cancer Screening. Diakses pada 2026.
- Cleveland Clinic. HPV Test. Diakses pada 2026.
- National Library of Medicine. A Comparison of Conventional Pap Smear and Liquid-Based Cytology for Cervical Cancer Screening. Diakses pada 2026.









