Logo

Apakah Kemoterapi Itu Sakit? Ini yang Perlu Kamu Pahami

Penulis: Tim Kaiser Cancer Center

Bagikan:

detail image article
Treatment

Saat mendengar kata kemoterapi, kamu mungkin sering bertanya-tanya “apakah kemoterapi itu sakit?” atau “benarkah semua pasien kemoterapi akan mengalami kondisi yang berat?” Rasa takut terhadap kemoterapi sebenarnya sangat wajar. Sebagian besar ketakutan tersebut muncul karena stigma yang sudah lama berkembang di masyarakat. 

 

Padahal, pengalaman menjalani kemoterapi bisa sangat berbeda pada setiap orang. Dengan pendekatan precision medicine, kemoterapi kini dapat disesuaikan dengan kondisi pasien sehingga terasa lebih personal dan terkontrol.

 

Untuk informasi lebih lengkap, simak penjelasan berikut ini.

Apa Itu Kemoterapi?

Nama "kemoterapi" sudah cukup untuk membuat sebagian orang merasa cemas karena sering dikaitkan dengan efek samping yang berat. Namun, penting untuk dipahami bahwa kemoterapi adalah salah satu metode pengobatan kanker yang paling umum dan telah terbukti efektif.

 

Menurut National Library of Medicine (2023), kemoterapi merupakan terapi sistemik menggunakan obat-obatan khusus untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel kanker di dalam tubuh. Obat kemoterapi bekerja dengan menargetkan sel yang tumbuh dan membelah dengan cepat, termasuk sel kanker.

 

Pada beberapa kondisi, kemoterapi dapat diberikan sebagai terapi utama atau dikombinasikan dengan terapi lain, seperti operasi, radioterapi, terapi hormon, maupun imunoterapi untuk membantu meningkatkan hasil pengobatan.

 

Pada awalnya, istilah kemoterapi utamanya mengacu pada terapi sitostatika dasar yang sudah ada sejak lama, sedangkan terapi lainnya, seperti hormon, imunoterapi, dan terapi target, termasuk ke dalam bagian besar yang disebut terapi sistemik kanker.

 

Namun, tidak semua pasien kanker harus menjalani kemoterapi. Saat ini, perkembangan dunia medis menghadirkan berbagai pilihan terapi kanker yang dapat disesuaikan dengan jenis dan kondisi penyakit pasien.

Bagaimana Proses Kemoterapi?

Di balik satu kantong infus kemoterapi, ada proses yang jauh lebih panjang dari yang dibayangkan. Mulai dari pemeriksaan kondisi tubuh hingga pemantauan selama terapi, semua tahapan dilakukan untuk membantu memastikan pengobatan berjalan aman dan sesuai kebutuhan pasien. Berikut adalah langkah-langkah umum dalam proses kemoterapi.

Sebelum Kemoterapi

Sebelum kemoterapi dimulai, pasien akan menjalani konsultasi dengan dokter untuk membahas kondisi penyakit, tujuan terapi, jenis obat yang akan digunakan, hingga kemungkinan efek samping kemoterapi yang dapat terjadi.

 

Pada tahap ini, dokter juga akan melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari pemeriksaan darah untuk melihat kondisi berikut: 

  • Kadar hemoglobin. 
  • Jumlah sel darah putih dan trombosit.
  • Fungsi hati. 
  • Fungsi ginjal. 

Selain pemeriksaan laboratorium, kondisi umum pasien, seperti berat badan, tinggi badan, tekanan darah, keluhan yang dirasakan, hingga riwayat penyakit lain juga akan diperhatikan. Semua data tersebut sangat penting karena berpengaruh langsung terhadap dosis dan jenis pengobatan kanker yang akan diberikan.

Selama Kemoterapi

Obat kemoterapi dapat diberikan melalui berbagai cara, seperti diminum (oral), melalui infus (intravena), suntikan di bawah kulit, suntikan ke otot, maupun suntikan ke cairan di sekitar sumsum tulang belakang dan otak. Namun, sebagian besar obat kemoterapi diberikan melalui infus intravena.

 

Sebelum pemberian obat utama, beberapa pasien juga akan mendapatkan obat tambahan, seperti antimual atau cairan infus tambahan untuk membantu mengurangi efek samping selama terapi berlangsung.

 

Lantas, berapa jam kemoterapi berlangsung? Waktunya dapat berbeda pada setiap pasien. Ada terapi yang berlangsung kurang dari satu jam, tetapi ada juga yang membutuhkan waktu beberapa jam, tergantung jenis obat dan protokol pengobatan yang digunakan.

 

Selama proses berlangsung, kondisi pasien akan dipantau secara berkala oleh tenaga medis. Tekanan darah, keluhan yang dirasakan, hingga reaksi tubuh terhadap obat akan terus diperhatikan untuk membantu memastikan terapi berjalan aman dan nyaman.

Setelah Kemoterapi

Setelah kemoterapi selesai, pasien biasanya akan menjalani observasi singkat untuk memastikan kondisi tubuh tetap stabil sebelum diperbolehkan pulang.

 

Dokter atau tim medis juga dapat memberikan obat tambahan untuk membantu mengurangi keluhan setelah terapi, seperti obat mual, obat lambung, atau obat penunjang lainnya sesuai kebutuhan pasien.

 

Sebelum pulang, pasien akan mendapatkan jadwal kontrol berikutnya untuk evaluasi kondisi tubuh dan respons terhadap pengobatan kanker yang telah dijalani. Pada beberapa kasus, pemeriksaan darah ulang juga diperlukan sebelum siklus kemoterapi selanjutnya dilakukan.

 

Baca juga: Mengenal Terapi Kanker: Perbedaan Kemoterapi, Terapi Target, dan Imunoterapi

Apakah Kemoterapi Itu Sakit?

Banyak pasien membayangkan kemoterapi akan selalu terasa sangat sakit, membuat tubuh langsung lemas, terus muntah, atau tidak bisa beraktivitas sama sekali. Padahal kenyataannya, banyak pasien dapat menjalani kemoterapi dengan kondisi yang jauh lebih baik dari yang dibayangkan.

 

Saat kemoterapi berlangsung, sebagian pasien mungkin merasakan nyeri ringan saat pemasangan infus, mirip seperti pengambilan darah biasa. Setelah itu, obat umumnya dapat diberikan tanpa menimbulkan rasa sakit berat. 

 

Namun, tubuh memang bisa terasa lebih lelah, mual, atau kurang nyaman selama beberapa hari karena tubuh sedang beradaptasi dengan terapi.

 

Di samping itu, efek samping yang juga sering ditakuti adalah rambut rontok. Faktanya, tidak semua obat kemoterapi menyebabkan kerontokan rambut. Beberapa hanya membuat rambut menipis, bahkan ada juga yang tidak menyebabkan kerontokan sama sekali.

 

Pengalaman setiap pasien kemoterapi bisa berbeda, tergantung jenis obat, dosis terapi, kondisi tubuh, hingga respons masing-masing pasien terhadap pengobatan. Oleh karena itu, penting untuk berdiskusi secara terbuka dengan dokter mengenai bagaimana kemoterapi akan memengaruhi kondisimu secara spesifik.

Pendekatan Kemoterapi yang Lebih Personal

Perkembangan dunia medis membuat kemoterapi saat ini jauh lebih terkontrol dibandingkan sebelumnya. Salah satu perubahan yang paling signifikan adalah pendekatan personalized therapy dan precision medicine, di mana setiap pasien mendapatkan terapi yang disesuaikan dengan:

  • Jenis kanker.
  • Kondisi tubuh.
  • Profil genetik.

Pendekatan ini membantu meningkatkan efektivitas terapi sekaligus meminimalkan efek samping. Dengan pemilihan obat dan dosis yang lebih tepat, pasien dapat menjalani kemoterapi dengan kondisi yang lebih baik dan lebih terarah.

 

Lantas, bagaimana precision medicine bekerja? Di Kaiser Cancer Center, ada empat tahap yang menjadi inti pendekatan kami, meliputi:

  1. Pemetaan profil genetik dan molekuler tumor: Tidak semua sel kanker memiliki jenis yang sama. Melalui pemeriksaan molekuler dan genomik, tim medis Kaiser Cancer Center dapat mengidentifikasi mutasi spesifik yang memicu pertumbuhan kanker. Dengan begitu, obat yang dipilih benar-benar dirancang untuk menyerang kelemahan biologis tumor tersebut secara akurat.
  2. Kombinasi obat dirancang khusus untuk kondisi pasien: Dengan data profil genetik, kondisi organ, riwayat terapi, dan tujuan pengobatan, tim multidisiplin kami menyusun regimen kemoterapi yang tidak hanya efektif, tetapi juga mempertimbangkan kualitas hidup pasien selama terapi berlangsung. 
  3. Pemantauan respons secara aktif: Tim ahli Kaiser Cancer Center akan terus memantau respons tubuh pasien secara berkala melalui pemeriksaan darah, evaluasi keluhan fisik, hingga pemindaian berkala. Langkah proaktif ini memastikan bahwa jika ada terapi yang perlu diubah, penyesuaian dapat dilakukan secepat mungkin, bahkan sebelum efek samping yang mengganggu muncul.
  4. Manajemen efek samping yang proaktif: Karena kami mengetahui profil pasien sejak awal, tim medis kami dapat mengantisipasi dan mencegah berbagai kemungkinan efek samping kemoterapi. Mulai dari pengelolaan mual, kelelahan, hingga risiko infeksi, semuanya sudah dimasukkan dalam rencana perawatan.

Baca juga: Terapi Kanker: Pilihan Pengobatan yang Tepat untuk Kamu

Efek Samping Kemoterapi yang Umum

Bagi sebagian orang, rasa takut terhadap efek samping kemoterapi terkadang lebih besar dibandingkan rasa takut terhadap penyakit kanker itu sendiri. Padahal, efek samping kemoterapi bisa berbeda pada setiap pasien. Ada yang mengalami keluhan ringan, tetapi ada juga yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

 

Sebagian besar efek samping sebenarnya dapat dikontrol dengan baik melalui pemantauan dan penanganan medis yang tepat. Berikut beberapa efek samping kemoterapi yang cukup sering terjadi:

  • Mual dan muntah.
  • Diare atau konstipasi (sembelit).
  • Kelelahan atau tubuh terasa lemas.
  • Sariawan.
  • Penurunan nafsu makan.
  • Penurunan daya tahan tubuh.
  • Rambut rontok.
  • Kelemahan otot.

Lalu, berapa lama efek kemoterapi hilang? Sebagian besar efek samping kemoterapi bersifat sementara dan akan membaik secara bertahap setelah terapi selesai. 

Menjalani Kemoterapi dengan Lebih Tenang

Pertanyaan tentang “apakah kemoterapi itu sakit?” telah menjadi salah satu kekhawatiran utama bagi banyak pasien. Namun, kemoterapi bukan lagi sesuatu yang harus ditakuti. Dengan pendekatan yang tepat, perawatan kanker bisa menjadi lebih terarah, terkendali, dan penuh harapan.

 

Di Kaiser Cancer Center, kami berkomitmen untuk terus menghadirkan layanan Kemoterapi dengan standar perawatan onkologi kelas dunia. Melalui pendekatan yang lebih personal dan terarah, kami tidak hanya berfokus pada pengobatan kanker, tetapi juga membantu menjaga kualitas hidup pasien selama menjalani terapi.

 

Yang terpenting, pasien dan keluarga tidak perlu menjalani semuanya sendirian. Bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.

 

Baca juga: Apa Itu Perawatan Paliatif? Inilah Perannya dalam Pengobatan Kanker

 

Referensi:

Reviewer Image
dr. Dimas Priantono, Sp.P.D, Subsp.H.Onk.M. (K), FINASIM
Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi dan Onkologi Medik Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi dan Onkologi Medik dengan pengalaman lebih dari 5 tahun dalam bidang penyakit dalam.

A doctor smiling at a patient at Kaiser Cancer Center

Tim Kaiser Siap Menemani Setiap Langkahmu

Kami percaya, setiap langkah menuju pemulihan layak mendapat dukungan terbaik. Tim Kaiser hadir untuk mendampingimu—membawa ketenangan, harapan, dan dukungan di setiap tahap perjalananmu melalui pendekatan medis berteknologi mutakhir dan berstandar global.

Dapatkan Informasi Terbaru dari Kaiser

Subscribe untuk tetap terhubung dan menerima update terbaru dari Kaiser.