Logo

Mengenal Terapi Kanker: Perbedaan Kemoterapi, Terapi Target, dan Imunoterapi

Penulis: Tim Kaiser Cancer Center

Bagikan:

detail image article
Treatment

Apakah semua terapi kanker memiliki efektivitas yang sama? Pertanyaan ini sering kali muncul di benak pasien dan keluarga yang sedang mencari opsi pengobatan terbaik untuk melawan kanker. 

 

Pada praktiknya, efektivitas terapi kanker dapat berbeda-beda, tergantung pada jenis kanker, stadium penyakit, serta kondisi masing-masing pasien. Secara umum, ada tiga jenis terapi kanker sistemik yang bekerja dengan mekanisme berbeda, yakni kemoterapi, terapi target, dan imunoterapi. 

 

Lantas, apa perbedaan antara ketiga jenis terapi ini? Berikut penjelasan lengkapnya.

Perbedaan Utama Kemoterapi vs. Terapi Target vs. Imunoterapi

Meski sama-sama bekerja melalui aliran darah untuk menjangkau sel kanker di seluruh tubuh, kemoterapi, terapi target, dan imunoterapi sebenarnya memiliki mekanisme kerja yang berbeda. Itulah mengapa tidak semua jenis kanker bisa dipukul rata dengan satu metode pengobatan yang sama. Berikut adalah perbedaan utamanya:

1. Kemoterapi

Ketika mendengar kata kemoterapi, mungkin kamu langsung membayangkan pengobatan yang identik dengan berbagai efek sampingnya. Padahal, kemoterapi merupakan salah satu terapi utama dalam penanganan kanker yang telah digunakan selama puluhan tahun dan terus berkembang hingga saat ini.

 

Sederhananya, kemoterapi adalah pengobatan kanker menggunakan obat-obatan khusus yang bersifat sitotoksik untuk membunuh sel abnormal di dalam tubuh. Pendekatan ini bersifat sistemik, artinya obat akan menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah untuk menjangkau sel kanker di berbagai lokasi.

a. Cara Kerja Kemoterapi

Tahukah kamu bahwa sel kanker tumbuh dan membelah diri dengan sangat cepat? Nah, obat kemoterapi dirancang khusus untuk menargetkan sel-sel yang aktif membelah ini, menghentikan prosesnya, dan memberi tubuh kesempatan untuk pulih kembali.

 

Kemoterapi bekerja dengan mengganggu siklus hidup sel, terutama pada fase ketika sel sedang membelah. Obat kemoterapi bisa merusak DNA sel kanker atau menghambat proses yang dibutuhkan agar sel tersebut terus berkembang.

 

Ketika sel kanker tidak lagi mampu membelah, pertumbuhannya akan melambat, berhenti, atau bahkan mati. Inilah yang membuat kemoterapi efektif untuk menekan perkembangan kanker, terutama pada kasus yang sudah menyebar ke berbagai bagian tubuh.

b. Kelebihan Kemoterapi

Salah satu alasan kemoterapi banyak dipilih sebagai metode pengobatan utama adalah karena kemampuannya bekerja secara menyeluruh di dalam tubuh. Artinya, kemoterapi tidak hanya menargetkan tumor di satu lokasi, tetapi juga bisa menjangkau sel kanker yang mungkin sudah menyebar ke bagian tubuh lain.

 

Selain itu, kemoterapi juga bisa digunakan untuk berbagai tujuan, seperti:

  • Menghancurkan sel kanker hingga tuntas (terapi kuratif).
  • Membunuh sisa sel kanker setelah operasi atau radioterapi (terapi adjuvan).
  • Mengecilkan ukuran tumor sebelum tindakan lain dilakukan (terapi neoadjuvan).
  • Mengurangi gejala dan memperlambat perkembangan kanker (terapi paliatif).

c. Efek Samping Kemoterapi

Di balik manfaatnya, tidak bisa dipungkiri bahwa kemoterapi juga membawa tantangan tersendiri bagi tubuh. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, obat kemoterapi bekerja dengan menargetkan sel yang membelah dengan cepat. 

 

Masalahnya, obat kemoterapi tidak bisa membedakan mana sel kanker dan mana sel sehat yang secara alami memang aktif membelah, seperti sel rambut atau sel di saluran pencernaan. Akibatnya, sel-sel sehat ini juga bisa terdampak, dan menimbulkan berbagai efek samping, seperti:

  • Mudah lelah, bahkan setelah aktivitas ringan.
  • Rambut rontok.
  • Mual dan muntah.
  • Nafsu makan menurun.
  • Perubahan pada kulit menjadi lebih kering dan menggelap.
  • Diare atau konstipasi.
  • Penurunan sel darah putih sehingga tubuh lebih rentan terhadap infeksi.

Baca juga: Kemoterapi Kanker Serviks, Ini Prosedur dan Efek Sampingnya

2. Terapi Target

Berbeda dengan kemoterapi, terapi target bekerja dengan menyerang molekul spesifik (biomarker) yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan sel kanker sehingga sel sehat relatif lebih sedikit terdampak. 

 

Namun, tidak semua pasien bisa langsung mendapatkan terapi target. Pendekatan ini hanya efektif pada pasien dengan sel kanker yang memiliki biomarker atau mutasi genetik tertentu. Itulah kenapa pasien wajib menjalani pemeriksaan molekuler sebelum memulai terapi.

a. Cara Kerja Terapi Target

Secara umum, terapi target bisa bekerja melalui beberapa mekanisme, antara lain:

  • Menghambat sinyal yang memicu sel kanker terus tumbuh dan membelah.
  • Menghentikan pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis) yang menyuplai “nutrisi” pada tumor.
  • Mengantarkan zat beracun tertentu langsung ke sel kanker.
  • Mengganggu hormon atau faktor lain yang dibutuhkan kanker untuk berkembang.

Karena menargetkan molekul atau perubahan genetik spesifik pada sel kanker, terapi ini sering disebut sebagai bagian dari precision medicine, yaitu pendekatan pengobatan yang disesuaikan dengan karakteristik biologis kanker pada tiap individu. Berikut adalah beberapa contoh terapi target:

  • Trastuzumab: Digunakan pada jenis kanker payudara dengan ekspresi protein HER2 yang berlebih (HER2-positif).
  • Imatinib: Umumnya digunakan untuk menangani leukemia atau tumor tertentu dengan menghambat sinyal pertumbuhan sel.
  • Bevacizumab: Bekerja dengan menghambat pembentukan pembuluh darah baru sehingga sel kanker tidak mendapat suplai nutrisi yang cukup.
  • Erlotinib: Digunakan pada kanker paru dengan mutasi genetik tertentu, terutama yang melibatkan reseptor EGFR.

Baca juga: Jenis Pengobatan Kanker Payudara dan Efek Sampingnya!

b. Kelebihan dan Kekurangan Terapi Target

Jika dibandingkan dengan terapi lainnya, terapi target memiliki sejumlah keunggulan, seperti:

  • Lebih spesifik dalam menargetkan sel kanker.
  • Kerusakan pada sel sehat relatif lebih rendah.
  • Bisa dikombinasikan dengan terapi lain, seperti kemoterapi, imunoterapi, atau operasi.
  • Pengobatan bisa disesuaikan dengan mutasi genetik atau karakteristik biologis kanker pasien.

Di sisi lain, terapi target juga memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dipertimbangkan, antara lain:

  • Tidak semua jenis kanker cocok untuk terapi ini.
  • Dalam beberapa kasus, sel kanker dapat mengalami resistensi atau beradaptasi sehingga dapat kembali tumbuh meski sudah ditargetkan.
  • Tetap memiliki potensi efek samping.
  • Umumnya, perlu pemeriksaan biomarker atau genetik tertentu sebelum terapi bisa diberikan.

c. Efek samping Terapi Target

Meskipun umumnya memiliki efek samping yang lebih ringan dibandingkan kemoterapi, terapi target tetap memiliki beberapa risiko efek samping yang perlu diwaspadai, seperti:

  • Diare.
  • Gangguan fungsi hati.
  • Masalah kulit (ruam, kering, perubahan kuku).
  • Tekanan darah tinggi.
  • Gangguan proses penyembuhan luka.
  • Mual dan muntah.
  • Kelelahan.

3. Imunoterapi

Pada dasarnya, imunoterapi adalah bentuk pengobatan yang memanfaatkan sistem pertahanan tubuh untuk melawan penyakit secara lebih terarah dan presisi. 

Berbeda dengan kemoterapi dan terapi target, imunoterapi tidak menyerang sel kanker secara langsung. Terapi ini bekerja dengan memperkuat sistem imun tubuh agar mampu mengenali sel kanker yang selama ini "menyamar" sebagai sel normal. 

Ketika sistem imun berhasil mengidentifikasi sel kanker sebagai sesuatu yang asing, tubuh kita akan mulai menyerang dan menghancurkan sel-sel kanker tersebut. 

a. Cara Kerja Imunoterapi

Untuk memahami cara kerjanya, kita bisa melihat sistem imun sebagai pertahanan alami tubuh yang sebenarnya mampu melawan sel abnormal. Namun, pada kondisi tertentu, efektivitasnya menurun karena sel kanker dapat “bersembunyi” dari deteksi sistem imun. 

 

Di sinilah imunoterapi berperan untuk memulihkan dan mengoptimalkan fungsi pertahanan tersebut melalui beberapa mekanisme berikut:

  • “Mengajari” sistem imun mengenali sel kanker sebagai target yang harus diserang.
  • Memperkuat respons imun agar lebih agresif melawan kanker.
  • Memberikan komponen tambahan, seperti antibodi atau protein khusus, untuk membantu sistem imun bekerja lebih optimal.
  • Melepaskan “rem” yang menghambat sel imun sehingga dapat kembali aktif menyerang kanker.

b. Kelebihan dan Kekurangan Imunoterapi

Sama seperti pengobatan lainnya, imunoterapi juga memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipahami, antara lain:

  • Kelebihan: Salah satu keunggulan utama imunoterapi adalah kemampuan sistem imun untuk "mengingat" sel kanker. Jika kanker mencoba muncul kembali, tubuh sudah memiliki memori imunologis untuk mengenali dan menyerangnya lagi sehingga dapat memberikan perlindungan jangka panjang.
  • Kekurangan: Tidak semua jenis kanker merespons imunoterapi dengan cara yang sama. Selain itu, karena cara kerjanya bergantung pada kondisi sistem imun setiap individu, respons terhadap terapi ini sangat bervariasi antara satu pasien dengan pasien lainnya.

c. Efek Samping Imunoterapi

Imunoterapi bekerja dengan merangsang sistem kekebalan tubuh agar lebih aktif dalam mengenali dan melawan sel kanker. Namun, pada beberapa kasus, sistem imun bisa menjadi terlalu reaktif dan justru menyerang sel atau organ yang sehat. Beberapa efek samping yang umum dirasakan antara lain:

  • Reaksi pada kulit (seperti kemerahan atau gatal).
  • Gejala menyerupai flu (demam, menggigil, atau kelelahan).
  • Peradangan pada organ tertentu, seperti paru-paru, saluran pencernaan, atau kelenjar tiroid.

Memilih Langkah Pengobatan yang Tepat

Ketika seseorang didiagnosis menderita kanker, pertanyaan terbesar yang sering kali muncul adalah terapi mana yang sebaiknya dipilih? Faktanya, tidak ada satu terapi yang selalu lebih baik dari yang lain. 

 

Pemilihan terapi sangat bergantung pada jenis kanker, stadium penyakit, serta kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Dalam banyak kasus, terapi kanker justru dikombinasikan untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal. Misalnya, kemoterapi yang dipadukan dengan terapi target atau imunoterapi sebagai terapi lanjutan.

 

Maka dari itu, penting untuk berdiskusi dengan dokter guna menyusun strategi pengobatan yang tidak hanya efektif, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasien secara menyeluruh. 

 

Sebagai bagian dari upaya tersebut, layanan Terapi Sistemik di Kaiser Cancer Center dapat menjadi salah satu rujukan untuk mendapatkan gambaran penanganan yang lebih komprehensif. Dengan dukungan tim medis berpengalaman, kamu bisa memperoleh penanganan yang lebih terarah sekaligus pendampingan dalam setiap tahap pengobatan.

 

Pada akhirnya, setiap langkah kecil yang kamu ambil hari ini adalah bagian dari upaya menjaga harapan tetap menyala, dan dari situlah proses pemulihan dimulai bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.

 

Baca juga: Biopsi Serviks, Inilah Jenis dan Prosedurnya!

 

Referensi:

Reviewer Image
dr. Marco Vidor, Sp.PD
Spesialis Penyakit Dalam

Artikel Terkait

A doctor smiling at a patient at Kaiser Cancer Center

Tim Kaiser Siap Menemani Setiap Langkahmu

Kami percaya, setiap langkah menuju pemulihan layak mendapat dukungan terbaik. Tim Kaiser hadir untuk mendampingimu—membawa ketenangan, harapan, dan dukungan di setiap tahap perjalananmu melalui pendekatan medis berteknologi mutakhir dan berstandar global.

Dapatkan Informasi Terbaru dari Kaiser

Subscribe untuk tetap terhubung dan menerima update terbaru dari Kaiser.