Kanker payudara masih menjadi salah satu jenis kanker yang paling sering ditemukan pada perempuan di seluruh dunia. Salah satu cara paling efektif untuk mendeteksi kanker payudara sejak dini adalah melalui pemeriksaan mammografi. Semakin dini kanker payudara terdeteksi, semakin besar pula peluang keberhasilan pengobatan.
Karena itu, memahami apa itu mammografi, kapan sebaiknya dilakukan, dan bagaimana prosedurnya menjadi hal penting bagi setiap perempuan, terutama yang sudah memasuki usia berisiko. Simak penjelasan lengkap mengenai pemeriksaan mammografi berikut ini.
Mengenal Pemeriksaan Mammografi: Alat Deteksi Dini Kanker Payudara
Mammografi adalah pemeriksaan pencitraan payudara menggunakan sinar-X dosis rendah untuk menghasilkan gambar jaringan payudara secara detail. Melalui gambar ini, dokter dapat melihat kelainan pada jaringan payudara, seperti benjolan, kista, kalsifikasi, atau perubahan struktur jaringan yang mungkin belum bisa dirasakan lewat perabaan biasa.
Itulah sebabnya mammografi disebut sebagai alat skrining karena mampu mendeteksi kelainan pada tahap awal, bahkan sebelum gejala kanker payudara muncul.
Jenis Mammografi
Saat ini tersedia dua jenis mammografi, yaitu mammografi 2D dan mammografi 3D. Berikut penjelasan singkat mengenai kedua jenis mammografi payudara tersebut.
1. Mammografi 2D
Mammografi 2D adalah metode standar atau konvensional yang menghasilkan gambar dua dimensi dari jaringan payudara. Teknik pemeriksaan mammografi ini mengambil dua gambar untuk setiap payudara dari dua sudut berbeda, yakni dari sisi atas dan sisi samping. Proses tersebut menghasilkan satu gambar datar (dua dimensi) dari seluruh jaringan payudara.
2. Mammografi 3D atau Tomosintesis
Mammografi 3D juga dikenal sebagai digital breast tomosynthesis (DBT). Metode ini bekerja dengan cara mengambil serangkaian gambar jaringan payudara dari berbagai sudut yang berbeda. Gambar-gambar tersebut kemudian disatukan oleh komputer untuk membuat replika tiga dimensi payudara.
DBT dinilai lebih efektif dalam mendeteksi kelainan yang mungkin terlewat oleh mammografi 2D. Hal ini didukung oleh beberapa studi, salah satunya oleh Upneja, A. et al. (2021) dalam Journal of General Internal Medicine yang menyatakan bahwa DBT berhasil mendeteksi lebih banyak kanker dibandingkan mammografi 2D1.
Meski begitu, tidak semua pasien harus menjalani mammografi 3D. Ketersediaan fasilitas, biaya mammografi, kondisi payudara, dan kebutuhan masing-masing pasien perlu dipertimbangkan bersama dokter.
Baca juga: Mengenal MammoReady: Ketahui Risiko Kanker Payudara Lebih Awal
Mengapa Mammografi Penting?
Pemeriksaan mammografi sangat penting dalam upaya penanganan kanker payudara karena beberapa alasan berikut:
- Deteksi dini sebelum gejala muncul: Mammografi merupakan metode gold standard untuk skrining kanker payudara. Alat ini mampu mendeteksi perubahan kecil pada jaringan payudara, bahkan sebelum benjolan atau gejala klinis lainnya dapat dirasakan secara fisik oleh pasien atau dokter.
- Meningkatkan peluang kesembuhan secara signifikan: Ketepatan waktu diagnosis sangat memengaruhi tingkat keberhasilan pengobatan. Studi oleh Soekersi, H., et al. (2022) dalam Journal of the Indonesian Medical Association menyebutkan bahwa jika kanker payudara terdeteksi di stadium awal dan segera ditangani dengan tepat, tingkat kesembuhannya bisa meningkat hingga 80%. Sebaliknya, kasus yang baru terdiagnosis pada stadium lanjut, tingkat kesembuhannya menurun drastis menjadi hanya berkisar antara 10% hingga 40%2.
- Mendukung proses diagnosis dan perencanaan terapi lanjutan: Hasil skrining mammografi membantu dokter menentukan langkah selanjutnya secara lebih terarah. Jika ditemukan kelainan, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan penunjang, seperti biopsi, untuk memastikan diagnosis sehingga proses perencanaan terapi dapat berjalan lebih cepat dan efisien.
Kapan Sebaiknya Mulai Mammografi?
Mammografi di Kaiser Cancer Center direkomendasikan sebagai pemeriksaan penunjang skrining kanker payudara bagi pasien berusia 40 tahun ke atas. Meski begitu, rekomendasi mengenai usia awal, jarak pemeriksaan, dan kapan skrining dihentikan dapat berbeda sesuai pedoman yang digunakan.
Pada wanita dengan risiko rata-rata (tidak memiliki riwayat keluarga atau faktor risiko kanker payudara lainnya), pemeriksaan biasanya direkomendasikan setiap 1 hingga 2 tahun sekali, mulai dari usia 40 hingga 75 tahun.
Sementara itu, wanita dengan risiko tinggi mungkin perlu memulai pemeriksaan lebih awal (sebelum usia 40 tahun) atau melakukannya lebih sering jika memiliki faktor risiko, seperti:
- Memiliki mutasi genetik tertentu, seperti BRCA1 atau BRCA2.
- Memiliki riwayat keluarga yang kuat terhadap kanker payudara atau kanker ovarium.
- Pernah mengalami kanker payudara.
- Memiliki kondisi tertentu pada payudara (misalnya atypical ductal hyperplasia).
- Pasien yang pernah menjalani terapi radiasi pada area dada saat berusia 10–30 tahun.
Langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan dokter untuk melakukan penilaian risiko sehingga kamu mendapatkan jadwal mammografi yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi medismu.
Baca juga: Penyebab Kulit Jeruk pada Payudara, Apakah Tanda Kanker?
Bagaimana Prosedur Mammografi Dilakukan
Umumnya, prosedur mammografi melibatkan pengambilan gambar X-ray dari payudara menggunakan alat khusus yang disebut mammogram. Di Kaiser Cancer Center, prosedur ini biasanya memakan waktu yang relatif singkat, yakni sekitar 15–30 menit, mulai dari persiapan hingga selesai. Berikut langkah-langkahnya:
Ganti Pakaian.
Kamu akan diminta melepas pakaian dan perhiasan dari pinggang ke atas lalu memakai pakaian pemeriksaan yang disediakan.
Posisikan Payudara.
Berdirilah di depan mesin mammografi. Petugas radiologi akan membantu memposisikan payudara satu per satu di atas pelat penopang khusus.
Kompresi (Penekanan).
Payudara akan ditekan secara perlahan di antara dua pelat selama sekitar 20–30 detik. Penekanan ini sangat penting agar jaringan payudara menjadi rata, tidak bergerak, dan menghasilkan gambar yang jernih dengan dosis radiasi sekecil mungkin.
Pengambilan Gambar.
Mesin akan mengambil gambar sinar-X. Jika kamu melakukan mammografi 3D, mesin akan bergerak membentuk busur di atas payudara untuk mengambil gambar dari berbagai sudut.
Selesai.
Setelah semua sudut payudara (biasanya kanan dan kiri) selesai diambil gambarnya, kamu bisa langsung berganti pakaian dan kembali beraktivitas seperti biasa.
Memahami Hasil Mammografi
Secara medis, laporan hasil mammografi diklasifikasikan menggunakan sistem pengodean internasional yang disebut BI-RADS (Breast Imaging Reporting and Data System). Sistem ini mengelompokkan hasil ke dalam beberapa kategori skor untuk menentukan apakah ada kelainan serta langkah selanjutnya.
Berikut adalah arti dari skor BI-RADS yang tertera pada lembar hasil mammografi:
Skor BI-RADS | Arti Skor |
BI-RADS 0 (perlu evaluasi tambahan) | Hasil foto belum dapat dinilai secara lengkap sehingga memerlukan tes tambahan, seperti USG payudara atau pemeriksaan mammografi ulang dengan sudut pandang yang lebih detail. Kategori ini tidak berarti pasien pasti mengalami kanker. |
BI-RADS 1 (negatif/normal) | Jaringan payudara tampak sehat, simetris, dan tidak ditemukan adanya benjolan, struktur yang mencurigakan, atau kalsifikasi yang berbahaya. |
BI-RADS 2 (temuan jinak/benign) | Dokter menemukan adanya sesuatu di payudara (seperti kista berisi cairan, fibroadenoma, atau kalsifikasi sekunder), tetapi dipastikan jinak (bukan kanker). Pasien hanya perlu melakukan skrining rutin seperti biasa. |
BI-RADS 3 (kemungkinan jinak) | Temuan yang ada kemungkinan besar bersifat jinak. Namun, untuk memastikannya, dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan ulang dalam waktu 6 bulan guna memantau apakah ada perubahan. |
BI-RADS 4 (kecurigaan adanya kelainan/malignansi) | Temuan pada payudara menunjukkan adanya kecurigaan atau kejanggalan yang mengarah pada keganasan (kanker). Pada tahap ini, dokter wajib menyarankan tindakan biopsi (pengambilan sampel jaringan) untuk memastikan diagnosis. |
BI-RADS 5 (sangat dicurigai sebagai keganasan) | Temuan foto rontgen sangat mencurigakan dan mengarah pada tanda-tanda kanker payudara. Tindakan biopsi sangat direkomendasikan agar penanganan bisa segera dilakukan. |
BI-RADS 6 (keganasan yang sudah terbukti) | Kategori ini digunakan jika kamu sudah dikonfirmasi positif menderita kanker melalui biopsi sebelumnya, dan mammografi dilakukan untuk memantau respons tubuh terhadap terapi (seperti kemoterapi atau operasi). |
Selain kategori di atas, dokter juga akan melaporkan tingkat kepadatan payudara yang dibagi menjadi 4 tipe berikut:
- Entirely fatty: Payudara didominasi oleh jaringan lemak (membuat deteksi kelainan menjadi lebih mudah).
- Scattered areas of fibroglandular density: Ada beberapa area padat yang tersebar.
- Heterogeneously dense: Sebagian besar jaringan payudara cukup padat, yang berisiko menyamarkan massa atau tumor berukuran kecil.
- Extremely dense: Jaringan payudara sangat padat, sehingga dapat menurunkan sensitivitas hasil mammografi.
Baca juga: Perbedaan SADARI dan SADANIS. Metode dan Waktunya!
Mammografi sebagai Bagian dari Langkah Pencegahan yang Berkelanjutan
Mammografi bukan sekadar prosedur medis, melainkan investasi jangka panjang untuk kesehatan payudara. Dengan mengikuti jadwal skrining yang sesuai dengan anjuran dokter, deteksi dini terhadap kanker payudara dapat dilakukan sebelum gejala muncul sehingga penanganan dapat dimulai lebih awal.
Untuk mendukung langkah deteksi dini, Kaiser Cancer Center hadir dengan layanan Pencitraan (Imaging) yang meliputi pemeriksaan mammografi. Setiap hasil diagnosis dan rencana terapi ditinjau oleh tim multidisiplin (MDT) internasional. Kolaborasi antarspesialis ini dirancang untuk meningkatkan akurasi diagnosis secara signifikan.
Jadi, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter dan melakukan pemeriksaan mammografi secara rutin guna menjaga kesehatan payudara kamu. Bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.
Referensi:
- Upneja, A. et al. Comparative Effectiveness of Digital Breast Tomosynthesis and Mammography in Older Women. J Gen Intern Med. 2021;37(8):1870–1876. https://doi.org/10.1007/s11606-021-07132-6
- Soekersi, H., et al. Peran Mammografi Untuk Skrining Kanker Payudara: Sebuah Tinjauan Pustaka. J Indon Med Assoc. 2022;72(3):144–150. https://doi.org/10.47830/jinma-vol.72.3-2022-627
- Cleveland Clinic. Mammogram [Internet]. [Diakses pada 14 Juli 2026]. Diaskes dari: https://my.clevelandclinic.org/health/diagnostics/4877-mammogram
- MedlinePlus. Mammography [Internet]. [Diakses pada 14 Juli 2026]. Diakses dari: https://medlineplus.gov/mammography.html
- National Library of Medicine. Mammography [Internet]. [Diakses pada 14 Juli 2026]. Diakses dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559310/
- American Cancer Society. 2D vs. 3D Mammograms: Understanding the Differences [Internet]. [Diakses pada 14 Juli 2026]. Diakses dari: https://www.cancer.org/cancer/latest-news/2d-vs-3d-mammograms-understanding-the-differences.html
- National Library of Medicine. Mammography BI RADS Grading [Internet]. [Diakses pada 14 Juli 2026]. Diakses dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK539816/
- Jones, V. What to Expect at Your First Mammogram [Internet]. [Diakses pada 14 Juli 2026]. Diakses dari: https://www.mdanderson.org/cancerwise/what-to-expect-at-your-first-mammogram.h00-159780390.html








