Pernahkah kamu mengalami perdarahan di luar jadwal menstruasi atau haid yang berlangsung lebih lama dari biasanya? Kondisi ini dikenal sebagai perdarahan abnormal pada wanita atau perdarahan uterus abnormal yang harus diwaspadai karena bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan.
Oleh karena itu, penting untuk memahami penyebab hingga tanda bahayanya agar kamu bisa segera mendapatkan penanganan yang tepat. Dengan diagnosis dan terapi yang sesuai, risiko komplikasi dapat diminimalkan dan kualitas hidup tetap terjaga. Untuk informasi lengkapnya, simak penjelasan berikut ini.
Key Takeaways
- Perdarahan abnormal pada wanita atau perdarahan uterus abnormal (PUA) adalah perdarahan dari rahim yang keluar melalui vagina tetapi tidak sesuai pola menstruasi normal, misalnya di luar jadwal haid, berlangsung lebih dari 7 hari, atau lebih banyak dari biasanya.
- Penyebab perdarahan abnormal meliputi gangguan hormon dan gaya hidup, kelainan rahim seperti polip, miom, endometriosis, dan adenomiosis, serta kondisi medis lain, dan pada sebagian kasus dapat menjadi tanda kanker rahim, serviks, atau ovarium.
- Tanda bahaya perdarahan abnormal meliputi pembalut yang perlu diganti setiap 1-2 jam, haid lebih dari 14 hari, perdarahan setelah menopause atau setelah berhubungan seksual, serta tubuh lemas akibat anemia.
- Diagnosis dan penanganan perdarahan abnormal dimulai dari wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang seperti USG dan biopsi endometrium, lalu terapi obat, hormonal, atau tindakan bedah sesuai penyebabnya.
Apa Itu Perdarahan Uterus Abnormal?
Perdarahan uterus abnormal (PUA) atau abnormal uterine bleeding adalah perdarahan yang berasal dari rahim (uterus) dan keluar melalui vagina, tetapi tidak sesuai dengan pola menstruasi normal.
Kondisi ini merupakan salah satu keluhan ginekologi yang paling sering dialami wanita pada berbagai usia, mulai dari remaja hingga masa menopause.
Baca juga: Mengenal Masa Kesuburan Wanita dan Kapan Ovulasi Terjadi
Perdarahan seperti Apa yang Perlu Diwaspadai?
Tidak semua perubahan pada siklus menstruasi menandakan masalah serius. Namun, ada beberapa jenis perdarahan yang perlu mendapat perhatian karena dapat menjadi tanda adanya gangguan hormonal, kelainan pada rahim, atau kondisi medis lainnya.
Beberapa bentuk perdarahan uterus abnormal (PUA) yang perlu diwaspadai meliputi:
- Flek atau bercak darah di luar jadwal menstruasi, terutama jika terjadi berulang atau berlangsung dalam waktu lama.
- Haid yang berlangsung lebih lama dari biasanya, umumnya lebih dari 7 hari.
- Siklus menstruasi yang terlalu sering atau tidak teratur sehingga jarak antarmenstruasi menjadi lebih pendek atau sulit diprediksi.
- Volume darah menstruasi yang lebih banyak.
- Perdarahan setelah berhubungan seksual.
- Perdarahan setelah menopause, yaitu perdarahan yang terjadi setelah tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut. Kondisi ini perlu segera dievaluasi oleh dokter.
Jika perdarahan disertai gejala, seperti pusing, lemas, sesak napas, nyeri hebat, atau menyebabkan aktivitas sehari-hari terganggu, segera konsultasikan dengan dokter.
Meskipun tidak selalu menandakan penyakit serius, perdarahan uterus abnormal dapat menjadi gejala dari berbagai kondisi medis yang memerlukan evaluasi dan penanganan lebih lanjut.
Haid Tidak Berhenti: Kapan Dianggap Tidak Normal?
Banyak wanita mencari tahu mengapa haid tidak berhenti-berhenti. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), haid normal umumnya berlangsung hingga 7 hari, sehingga perdarahan yang berlangsung lebih dari 7 hari dianggap abnormal. Karena patokannya adalah lamanya perdarahan, haid yang terus keluar sedikit-sedikit selama lebih dari 7 hari pun perlu diperiksakan. Segera cari pertolongan medis bila perdarahan membasahi minimal satu pembalut atau tampon setiap jam selama lebih dari dua jam berturut-turut
Baca juga: Benjolan di Mulut Rahim, Apakah Tanda Kanker Serviks?
Penyebab Perdarahan Abnormal
Perdarahan abnormal dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari perubahan hormonal hingga kondisi medis tertentu. Mengetahui penyebab yang mendasarinya sangat penting karena penanganan yang diberikan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Berikut adalah beberapa penyebab umum perdarahan uterus abnormal:
1. Gangguan Hormonal dan Faktor Gaya Hidup
Perubahan keseimbangan hormon reproduksi merupakan salah satu penyebab paling umum perdarahan uterus abnormal. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh:
- Ketidakseimbangan hormon, seperti perubahan kadar estrogen dan progesteron yang dapat memengaruhi siklus menstruasi.
- Gangguan ovulasi: Saat ovarium tidak melepaskan sel telur secara teratur sehingga siklus haid menjadi tidak teratur.
- Perimenopause: Masa transisi menjelang menopause yang sering menyebabkan perubahan pola menstruasi.
- Stres fisik maupun emosional yang dapat mengganggu keseimbangan hormon dan memicu perdarahan di luar jadwal menstruasi.
- Obesitas atau penurunan berat badan yang drastis dapat mengganggu keseimbangan hormon reproduksi.
- Penggunaan obat tertentu, seperti terapi hormon, pil KB, atau obat pengencer darah.
Baca juga: Ciri Kanker Ovarium Stadium Awal. Ini Cara Cepat Mendeteksinya!
2. Kelainan pada Rahim dan Organ Reproduksi
Beberapa kondisi pada organ reproduksi wanita juga dapat menyebabkan perdarahan yang tidak normal, antara lain:
- Polip rahim: pertumbuhan jaringan pada lapisan dalam rahim.
- Miom rahim: Tumor jinak pada otot rahim yang dapat menyebabkan haid lebih banyak dan berkepanjangan.
- Endometriosis: Pertumbuhan jaringan yang menyerupai lapisan rahim di luar rahim.
- Adenomiosis: Pertumbuhan jaringan lapisan rahim ke dalam dinding otot rahim.
- Infeksi pada organ reproduksi, termasuk infeksi menular seksual yang dapat menyebabkan peradangan dan perdarahan.
- Kanker serviks, rahim, ovarium, atau vagina: Meski lebih jarang, perdarahan abnormal juga bisa menjadi tanda kanker pada organ reproduksi wanita.
3. Kondisi Medis Lain yang Perlu Diwaspadai
Dalam beberapa kasus, perdarahan uterus abnormal dapat menjadi tanda adanya kondisi medis yang lebih serius, seperti:
- Gangguan tiroid, yang dapat memengaruhi siklus menstruasi.
- Komplikasi kehamilan, seperti keguguran atau kehamilan ektopik.
- Gangguan pembekuan darah, yang menyebabkan tubuh lebih sulit menghentikan perdarahan.
- Penyakit hati atau ginjal, yang dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan proses pembekuan darah.
Baca juga: Cara Cek Kanker Serviks Sendiri, Cegah Risiko Sejak Dini!
Tanda Bahaya Perdarahan Abnormal pada Wanita
PUA tidak boleh diabaikan karena dapat menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang memerlukan penanganan dari dokter. Untuk itu, simak gejala perdarahan uterus abnormal berikut ini:
- Haid yang sangat banyak ditandai dengan harus mengganti pembalut setiap 1-2 jam.
- Menstruasi selama lebih dari 14 hari.
- Siklus haid tidak teratur.
- Flek di luar jadwal menstruasi.
- Tidak haid lebih dari 2 siklus menstruasi.
- Tubuh lemas atau mudah lelah akibat kehilangan darah berlebihan yang memicu anemia.
Selain itu, jika kamu mengalami pusing, nyeri berat, perdarahan setelah menopause atau setelah berhubungan seksual, segera konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya dan mendapatkan penanganan yang sesuai.
Apakah Perdarahan Abnormal Bisa Menjadi Tanda Kanker?
Sebagian besar perdarahan abnormal disebabkan oleh kondisi jinak, tetapi pada sebagian kecil kasus dapat menjadi gejala kanker. American Cancer Society (ACS) menyebut perdarahan vagina abnormal sebagai gejala paling umum kanker endometrium (kanker lapisan rahim), termasuk perdarahan setelah menopause. Menurut National Cancer Institute (NCI), sekitar 90% wanita yang didiagnosis kanker endometrium melaporkan perdarahan sebelum diagnosis, sedangkan sekitar 9% wanita pascamenopause yang berobat karena perdarahan akhirnya didiagnosis kanker tersebut. Karena itu, setiap perdarahan setelah menopause perlu diperiksakan.
Baca juga: Kista Ovarium: Pengertian, Ciri, Penyebab, dan Pengobatannya
Bagaimana Diagnosis Perdarahan Uterus Abnormal?
Untuk mengetahui penyebab perdarahan uterus abnormal (PUA), dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan yang disesuaikan dengan usia, gejala, serta kondisi kesehatan pasien.
1. Anamnesis (Wawancara Medis)
Pemeriksaan biasanya diawali dengan anamnesis atau wawancara medis. Pada tahap ini, dokter akan menanyakan berbagai informasi terkait perdarahan yang dialami, seperti:
- Kapan perdarahan mulai terjadi.
- Seberapa sering perdarahan muncul.
- Berapa lama perdarahan berlangsung.
- Seberapa banyak darah yang keluar.
- Riwayat menstruasi, kehamilan, penggunaan kontrasepsi, dan obat-obatan tertentu.
Informasi ini membantu dokter memperkirakan kemungkinan penyebab yang mendasari keluhan pasien.
2. Pemeriksaan Fisik
Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan panggul untuk mengevaluasi kondisi organ reproduksi.
Pada beberapa kasus, pemeriksaan serviks juga dapat dilakukan untuk menyingkirkan kelainan pada leher rahim. Bila pasien belum menjalani skrining kanker serviks sesuai jadwal yang dianjurkan, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan Pap smear atau tes HPV.
Baca juga: Mengenal Trakelektomi: Prosedur Operasi Kanker Serviks
3. Pemeriksaan Penunjang
Bila diperlukan, dokter dapat melakukan pemeriksaan tambahan untuk membantu menegakkan diagnosis, antara lain:
- Tes kehamilan, untuk menyingkirkan kemungkinan perdarahan yang berhubungan dengan kehamilan.
- Pemeriksaan darah lengkap (complete blood count/CBC), untuk menilai adanya anemia atau gangguan trombosit.
- Pemeriksaan hormon atau fungsi tiroid, bila dicurigai terdapat gangguan hormonal tertentu.
- Ultrasonografi (USG) transvaginal/transabdominal, untuk membantu mendeteksi penyebab perdarahan, seperti polip, adenomiosis, atau kelainan pada rahim dan ovarium.
- Biopsi endometrium, yaitu pengambilan sampel jaringan lapisan rahim untuk menyingkirkan kemungkinan hiperplasia atau kanker endometrium. Pemeriksaan ini umumnya dianjurkan pada wanita berusia 45 tahun ke atas atau pada pasien yang memiliki faktor risiko tertentu.
Melalui kombinasi wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, dokter dapat menentukan penyebab perdarahan secara lebih akurat sehingga terapi yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Baca juga: Hasil Pap Smear: Lama Hasil Keluar dan Akurasinya
Cara Menangani Perdarahan Abnormal pada Wanita
Penanganan perdarahan uterus abnormal akan disesuaikan dengan penyebab, tingkat keparahan gejala, usia pasien, kondisi kesehatan secara keseluruhan, serta rencana kehamilan di masa mendatang. Oleh karena itu, tidak semua pasien memerlukan jenis terapi yang sama.
Secara umum, beberapa pilihan penanganan yang dapat diberikan meliputi:
Baca juga: Terapi Target untuk Kanker Endometrium, Apa Efek Sampingnya?
Deteksi Dini untuk Penanganan yang Lebih Optimal
Tubuh sering kali memberikan sinyal ketika ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, dan perdarahan uterus abnormal merupakan salah satu tanda yang perlu diperhatikan. Meski tidak selalu menandakan kondisi serius, perdarahan abnormal pada wanita tetap tidak boleh diabaikan.
Mengenali gejala sejak dini dan melakukan pemeriksaan yang tepat dapat membantu menemukan penyebab perdarahan lebih cepat sehingga penanganan dapat diberikan sesuai kebutuhan.
Segera konsultasikan dengan dokter apabila kamu mengalami perdarahan di luar jadwal menstruasi yang terjadi berulang, perdarahan yang sangat banyak, perdarahan setelah menopause, atau perdarahan yang disertai nyeri hebat dan keluhan lain yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Di Kaiser Cancer Center, layanan Skrining & Deteksi Dini dapat membantu mengevaluasi penyebab perdarahan abnormal secara menyeluruh. Melalui pemeriksaan yang tepat, berbagai kondisi dapat dideteksi lebih awal sehingga peluang keberhasilan penanganan menjadi lebih optimal.
Memeriksakan diri lebih awal adalah langkah terbaik yang bisa kamu ambil untuk menjaga kesehatan reproduksimu. Bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.
Baca juga: Kapan Deteksi Dini Kanker Serviks? Ini Jenis & Manfaat Skrining
Frequently Asked Questions (FAQ)
Haid tidak berhenti periksa ke dokter apa?
Periksakan ke dokter spesialis kandungan dan kebidanan (Sp.OG). ACOG menyarankan menyampaikan keluhan perdarahan yang berlebihan kepada dokter kandungan, yang akan menentukan pemeriksaan lanjutan seperti USG atau tes darah. Kamu juga dapat berkonsultasi secara gratis dengan tim Kaiser Cancer Center.
Apa kode ICD-10 untuk perdarahan uterus abnormal?
Berdasarkan ICD-10, perdarahan uterus dan vagina abnormal yang penyebabnya belum dirinci dikode N93.9. Kode terkait antara lain N92.4 (perdarahan berlebihan pada masa premenopause), N93.0 (perdarahan pascasanggama), dan N95.0 (perdarahan pascamenopause). Pengodean akhir ditentukan oleh dokter dan petugas rekam medis sesuai diagnosis.
Referensi:
- National Library of Medicine. Abnormal Uterine Bleeding. Diakses pada 2026.
- Medline Plus. Abnormal Uterine Bleeding. Diakses pada 2026.
- Cleveland Clinic. Menometrorrhagia. Diakses pada 2026.
- International Journal of Gynecology & Obstetrics. FIGO Classification System (PALM-COEIN) for Causes of Abnormal Uterine Bleeding in Nongravid Women of Reproductive Age. Diakses pada 2026.
- American College of Obstetricians and Gynecologists. Abnormal Uterine Bleeding. Diakses pada 19 Oktober 2026.
- American College of Obstetricians and Gynecologists. Heavy Menstrual Bleeding. Diakses pada 19 Oktober 2026.
- Mayo Clinic. Heavy Menstrual Bleeding: Symptoms and Causes. Diakses pada 19 Oktober 2026.
- American Cancer Society. Signs and Symptoms of Endometrial Cancer. Diakses pada 19 Oktober 2026.
- American Cancer Society. Can Endometrial Cancer Be Found Early?. Diakses pada 19 Oktober 2026.
- National Cancer Institute. Study Provides Closer Look at Postmenopausal Bleeding and Endometrial Cancer. Diakses pada 19 Oktober 2026.
- World Health Organization. International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems, 10th Revision (ICD-10), Bab XIV (N80-N98). Diakses pada 19 Oktober 2026.








