Terapi target merupakan salah satu jenis terapi kanker yang bekerja secara lebih presisi. Alih-alih “membombardir” sel-sel tubuh seperti pada kemoterapi, terapi target bekerja dengan menargetkan sel-sel kanker yang mengandung protein tertentu sehingga terkadang efek samping yang ditimbulkan lebih ringan dibandingkan dengan kemoterapi.
Pada kasus kanker endometrium, penggunaan terapi target masih tergolong baru, meskipun terapi ini telah lama digunakan pada jenis kanker lainnya. Walaupun begitu, efektivitasnya telah telah terbukti melalui sejumlah penelitian. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai terapi target pada kanker endometrium, simak penjelasan berikut ini.
Mengenal Terapi Target untuk Kanker Endometrium
Kanker endometrium merupakan kanker yang berasal dari lapisan dalam rahim atau endometrium. Salah satu gejala yang paling umum adalah perdarahan vagina abnormal, sehingga kanker ini dapat terdeteksi pada stadium awal. Namun, pada sebagian pasien, kanker dapat ditemukan ketika sudah berada pada stadium lanjut atau mengalami kekambuhan.
Namun, seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi medis, kini telah hadir terapi sistemik modern, salah satunya adalah terapi target yang dapat digunakan untuk mengobati kanker endometrium bahkan pada stadium lanjut. Terapi target untuk kanker endometrium bekerja dengan mendeteksi dan menyerang biomarker tertentu pada sel kanker endometrium, seperti:
Protein tertentu dalam jumlah yang berlebihan (overekspresi) pada sel kanker.
- Protein atau jalur molekul tertentu yang berperan dalam pertumbuhan dan pembelahan sel kanker.
- Perubahan/mutasi gen pada sel kanker.
Gene fusion atau perubahan genetik lain yang dapat menjadi target pengobatan.
Dengan menghambat target tersebut, terapi target dapat mengganggu proses yang dibutuhkan sel kanker untuk tumbuh, berkembang, atau bertahan hidup.
Jenis Terapi Target untuk Kanker Endometrium
Pemberian terapi target kanker endometrium dapat disesuaikan dengan stadium dan kondisi kanker yang diderita pasien. Beberapa jenis terapi target untuk kanker endometrium yang telah banyak digunakan antara lain lenvatinib, antibodi monoklonal, dan antibody-drug conjugate (ACD). Berikut adalah penjelasannya.
1. Lenvatinib
Lenvatinib adalah salah satu obat terapi target yang telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat Makanan di Amerika Serikat (Food and Drug Administration/FDA). Obat ini termasuk golongan multikinase inhibitor yang bekerja dengan cara menghambat beberapa protein kinase yang berperan dalam pertumbuhan sel kanker dan pembentukan pembuluh darah baru yang dibutuhkan tumor untuk berkembang.
Pada kanker endometrium stadium lanjut tertentu, levatinib dapat dikombinasikan dengan pembrolizumab, yaitu obat imunoterapi yang sistem imun mengenali dan menghancurkan sel kanker.
Menurut beberapa studi, salah satunya oleh Korgaonkar dkk. dalam jurnal International Journal of Gynecological Cancer, kombinasi lenvatinib dan pembrolizumab memberikan manfaat klinis yang signifikan dan mendukung posisinya sebagai standar perawatan untuk pasien kanker endometrium stadium lanjut yang telah menjalani terapi sistemik sebelumnya1.
Namun, seperti terapi kanker pada umumnya, levantinib tetap dapat memicu sejumlah efek samping, seperti:
Diare.
- Kelelahan atau lemah.
- Sendi nyeri atau kaku.
- Nyeri otot.
- Perubahan berat badan atau nafsu makan.
- Tekanan darah tinggi.
- Mual atau muntah.
Sariawan.
Selain itu, levantinib juga dapat memiliki potensi efek samping yang lebih berat, meski jarang terjadi, seperti:
Gangguan ginjal.
- Gangguan hati.
- Gangguan jantung.
- Perdarahan atau pembentukan bekuan darah.
Gangguan penyembuhan luka.
2. Antibodi Monoklonal Penarget HER-2
HER2 (human epidermal growth factor receptor 2) merupakan protein yang berperan dalam pertumbuhan dan pembelahan sel. Pada sebagian kanker endometrium, terutama subtipe tertentu, protein HER2 dapat ditemukan dalam jumlah berlebihan atau mengalami overekspresi.
Salah satu antibodi monoklonal yang menargetkan HER2 adalah trastuzumab. Obat ini bekerja dengan menempel pada HER2 dan menghambat sinyal yang mendukung pertumbuhan sel kanker.
Adapun beberapa efek samping yang dapat ditimbulkan oleh penggunaan trastuzumab adalah sebagai berikut:
Demam.
- Kelelahan atau lemas.
- Mual atau muntah.
- Diare.
- Sakit kepala.
- Batuk.
Masalah jantung, meskipun jarang.
Baca juga: Imunoterapi Kanker: Ketahui Tujuan, Cara Kerja, dan Efek Sampingnya
3. Fam-Trastuzumab Deruxtecan
Fam-trastuzumab deruxtecan adalah golongan obat antibody-drug conjugate (ADC), yaitu terapi yang menggabungkan antibodi penarget HER2 dengan obat sitotoksik.
Antibodi pada obat ini akan mengenali dan menempel pada HER2 yang terdapat pada permukaan sel kanker. Setelah masuk ke dalam sel, obat sitotoksik kemudian dilepaskan untuk membantu menghancurkan sel kanker. Terapi ini dapat menjadi pilihan pada kanker endometrium stadium lanjut atau metastatik tertentu yang memiliki ekspresi HER2 dan telah mendapatkan terapi sebelumnya.
Adapun potensi efek samping yang mungkin terjadi dari penggunaan obat ini adalah sebagai berikut:
Penurunan jumlah sel darah.
- Mual atau muntah.
- Diare.
- Konstipasi.
- Demam.
- Perubahan nafsu makan.
- Rambut menipis.
- Kelelahan atau lemas.
Masalah paru-paru dan jantung (jarang terjadi).
4. Bevacizumab
Bevacizumab merupakan antibodi monoklonal yang bekerja dengan menargetkan VEGF (vascular endothelial growth factor), yaitu protein yang berperan dalam pembentukan pembuluh darah baru. Tanpa suplai pembuluh darah tersebut, sel kanker kehilangan pasokan nutrisi sehingga pertumbuhannya dan penyebarannya terhambat.
Lalu, apakah angiogenesis inhibitors bisa dikombinasikan dengan kemoterapi untuk meningkatkan efektivitas pengobatan? Ya, terapi ini dapat dikombinasikan dengan kemoterapi sebagai pengobatan lini pertama atau digunakan sendiri, tergantung pada kondisi dan respons pasien terhadap pengobatan sebelumnya.
Beberapa efek samping yang umumnya terjadi adalah sebagai berikut:
Tekanan darah tinggi.
- Kelelahan.
- Perdarahan.
- Sakit kepala.
- Sariawan.
- Nafsu makan menurun.
Diare.
Sementara itu, pasien juga dapat merasakan efek samping lain yang jarang terjadi, seperti:
Pembentukan gumpalan darah.
- Perdarahan hebat.
- Gangguan penyembuhan luka.
- Terbentuknya lubang pada usus (perforasi).
Pembentukan saluran abnormal antara dua organ atau jaringan (fistula), yang dapat menyebabkan infeksi berat dan memerlukan tindakan pembedahan.
Meskipun jarang terjadi, kondisi ini merupakan komplikasi serius yang memerlukan penanganan segera. Oleh karena itu, penting untuk segera menghubungi dokter jika mengalami efek samping di atas setelah menerima pengobatan ini.
5. mTOR Inhibitors
mTOR merupakan protein yang berperan dalam mengatur pertumbuhan, metabolisme, dan pembelahan sel. Jalur mTOR dapat menjadi terlalu aktif pada beberapa jenis sel kanker.
Maka dari itu, mTOR inhibitors hadir untuk memblokir protein ini sehingga perkembangan sel kanker terganggu. mTOR inhibitors juga dapat membatasi pertumbuhan sel kanker dengan menghentikan tumor membentuk pembuluh darah baru.
Berikut adalah beberapa efek samping yang mungkin dialami oleh pasien yang menerima mTOR inhibitors:
Sariawan.
- Perubahan kulit atau kuku.
- Diare.
- Mual atau muntah.
- Kelelahan atau lemah.
- Batuk.
- Sesak napas.
- Penurunan jumlah sel darah.
Pembengkakan.
6. Cabozantinib
Cabozantinib adalah jenis obat terapi target yang tergolong sebagai multikinase inhibitor. Obat ini bekerja dengan cara menghambat beberapa jenis protein kinase yang berperan dalam pertumbuhan sel kanker. Obat ini memiliki dua mekanisme kerja utama, yaitu:
Menghambat angiogenesis: Menghambat kemampuan tumor untuk membentuk pembuluh darah baru yang dibutuhkan untuk tumbuh dan berkembang.
Menghambat sinyal pertumbuhan: Menargetkan protein spesifik pada sel kanker yang biasanya membantu sel tersebut untuk terus berkembang pesat.
Pada kanker endometrium stadium lanjut, cabozantinib dapat menjadi salah satu pilihan pada kondisi tertentu setelah kanker mengalami progresi setelah terapi sebelumnya.
Lalu, apa saja efek samping yang dapat ditimbulkan oleh cabozantinib? Berikut adalah beberapa di antaranya:
Kelelahan atau lemah.
- Perubahan berat badan atau nafsu makan.
- Diare.
- Mual atau muntah.
Perubahan tekanan darah.
Baca juga: Manajemen Nyeri Kanker: Jenis dan Cara Penanganannya!
7. NTRK Inhibitors
NTRK inhibitors adalah kelompok obat terapi target yang dirancang khusus untuk menghambat fungsi protein TRK (tropomyosin receptor kinase) abnormal. Protein ini dihasilkan dari perubahan gen yang disebut NTRK (neurotrophic tyrosine receptor kinase) gene fusions.
Berikut adalah efek samping terapi target NTRK inhibitors yang dapat ditimbulkan:
Jumlah sel darah putih dan sel darah merah menurun.
- Kelelahan atau lemah.
- Mual atau muntah.
- Diare.
- Sembelit.
- Nyeri otot dan sendi.
- Nyeri pada area perut.
- Perubahan emosi atau kognitif.
- Gangguan hati.
- Masalah mata.
Perubahan fungsi dan/atau irama jantung.
Menangani Kanker Endometrium secara Lebih Presisi
Setiap pasien kanker memiliki kondisi yang unik sehingga penerapan terapi target menjadi kunci untuk mengoptimalkan pengobatan kanker endometrium secara lebih presisi. Dokter akan melakukan pemeriksaan yang komprehensif untuk memahami karakteristik kanker dan memberikan oabt terapi target yang sesuai.
Dengan begitu, pengobatan kanker endometrium akan berjalan lebih efektif dengan hasil yang optimal. Untuk memenuhi kebutuhan perawatan kanker yang presisi, Kaiser Cancer Center menyediakan layanan Terapi Target yang didukung oleh teknologi diagnostik modern dan tim spesialis multidisiplin untuk memberikan penanganan yang aman serta tepat sasaran.
Tim medis Kaiser Cancer Center juga akan memantau respons tumor terhadap terapi target dan kondisi pasien secara berkala. Langkah ini tidak hanya untuk memastikan efektivitas terapi, tetapi juga untuk mengelola efek samping yang mungkin timbul pascaterapi. Dengan begitu, kualitas hidup pasien akan tetap terjaga sepanjang proses pengobatan.
Jadi, mari optimalkan pengobatan kanker endometrium dengan terapi target yang aman dan terencana bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.
Baca juga: Tujuan dari Terapi Relaksasi untuk Pasien Kanker, Apa Saja?
Referensi:
- Korgaonkar S, Prabhu VS, Parikh RC, Kruger S, Green AK, Makker V. Real-world clinical outcomes of lenvatinib+pembrolizumab for the treatment of patients with non-microsatellite instability-high/mismatch repair proficient recurrent or advanced endometrial cancer following prior systemic therapy in the United States. Int J Gynecol Cancer. 2026 Jul;36(7):104714. https://doi.org/10.1016/j.ijgc.2026.104714
- American Cancer Society. Targeted therapy for endometrial cancer [Internet]. 28 Feb 2025 [diakses pada 22 September 2026]. Tersedia dari: https://www.cancer.org/cancer/types/endometrial-cancer/treating/targeted-therapy.htm
- Jacot A. 3 new treatments for endometrial cancer and what to ask your doctor [Internet]. 6 Jan 2025 [diakses pada 22 September 2026]. Tersedia dari: https://www.myendometrialcancerteam.com/resources/new-treatments-for-endometrial-cancer-questions-to-ask-your-doctor
- Cancer Support Community. Targeted therapy for endometrial cancer [Internet]. [diakses pada 22 September 2026]. Tersedia dari: https://www.cancersupportcommunity.org/article/targeted-therapy-endometrial-cancer
- American Cancer Society. Monoclonal antibodies and their side effects [Internet]. 7 Jul 2025 [diakses pada 22 September 2026]. Tersedia dari: https://www.cancer.org/cancer/treatment-types/immunotherapy/monoclonal-antibodies.html








