HPV (Human Papillomavirus) adalah virus yang sangat umum dan terutama ditularkan melalui kontak seksual, termasuk kontak kulit-ke-kulit di area genital. Sebagian besar infeksi HPV sebenarnya tidak menimbulkan masalah kesehatan dan dapat dibersihkan dengan sendirinya oleh sistem kekebalan tubuh.
Namun, beberapa tipe HPV tergolong berisiko tinggi. Jika infeksi HPV risiko tinggi menetap dalam jangka waktu lama, infeksi tersebut dapat menyebabkan perubahan pada sel serviks yang dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi kanker serviks. Oleh karena itu, tes HPV DNA dapat digunakan sebagai salah satu metode skrining untuk mendeteksi keberadaan HPV risiko tinggi sebelum perubahan sel berkembang menjadi kanker.
Deteksi dini ini memungkinkan dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan segera mengambil tindakan yang diperlukan sebelum perubahan prakanker berkembang menjadi kanker. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai tes HPV DNA, simak penjelasannya berikut ini.
Apa Itu Tes HPV DNA?
Tes HPV DNA adalah pemeriksaan laboratorium yang digunakan dalam skrining kanker serviks untuk mendeteksi materi genetik (DNA) dari tipe HPV risiko tinggi pada sampel sel leher rahim (serviks). Pada pengambilan sampel oleh tenaga kesehatan, sampel diambil menggunakan alat khusus dari area serviks, kemudian dikirim ke laboratorium untuk dianalisis.
Perlu dipahami, HPV bukan hanya satu jenis virus, melainkan kelompok besar virus yang terdiri dari lebih dari 200 tipe berbeda1. Tipe-tipe tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Sebagian tergolong HPV risiko rendah yang dapat menyebabkan kutil kelamin, sementara sebagian lainnya adalah HPV risiko tinggi yang dapat menyebabkan perubahan sel dan meningkatkan risiko terjadinya kanker, termasuk kanker serviks.
Mengapa Tes HPV DNA Sangat Penting?
Hampir 99% kasus kanker serviks berkaitan dengan infeksi HPV berisiko tinggi yang menetap di tubuh dalam jangka panjang. Tantangan terbesarnya adalah infeksi HPV sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga seseorang dapat terinfeksi tanpa menyadarinya.
Untuk itu, tes HPV DNA membantu mendeteksi infeksi HPV risiko tinggi sebelum perubahan sel pada serviks terdeteksi.
Dengan mengetahui adanya infeksi sejak dini, dokter dapat menentukan apakah pasien memerlukan pemantauan berkala atau pemeriksaan lanjutan untuk mendeteksi perubahan prakanker sebelum berkembang menjadi kanker.
Catatan: Hasil tes HPV DNA positif tidak berarti seseorang telah terkena kanker serviks. Hasil tersebut menunjukkan bahwa HPV risiko tinggi terdeteksi pada sampel yang diperiksa dan perlu dinilai lebih lanjut berdasarkan tipe HPV yang terdeteksi, hasil pemeriksaan lain, riwayat skrining sebelumnya, usia, serta pedoman yang berlaku.
Perlu diketahui juga bahwa hasil HPV positif tidak dapat menunjukkan kapan infeksi terjadi atau dari siapa HPV diperoleh. HPV dapat berada dalam keadaan tidak terdeteksi selama suatu periode dan kemudian kembali terdeteksi. Oleh karena itu, hasil HPV positif tidak dapat digunakan untuk menentukan kapan atau dari siapa seseorang tertular.
Siapa yang Perlu Menjalani Tes HPV DNA?
Pemeriksaan HPV DNA umumnya dilakukan sebagai bagian dari skrining rutin kanker serviks, bukan sebagai pemeriksaan wajib yang harus dijalani semua orang tanpa terkecuali. Kelompok yang biasanya disarankan menjalani tes ini antara lain:
- Wanita berusia 30–65 tahun setiap 5 tahun sekali jika hasil tes HPV DNA atau tes kombinasi (co-testing HPV + Pap smear) sebelumnya normal.
- Wanita dengan hasil skrining sebelumnya yang abnormal, sesuai rekomendasi dokter untuk menentukan pemeriksaan atau tindak lanjut yang diperlukan.
- Pasien dengan kondisi atau riwayat tertentu yang memerlukan pemantauan khusus berdasarkan rekomendasi dokter.
Perlu dicatat, usia mulai, metode, dan frekuensi skrining dapat berbeda tergantung pada pedoman yang dipakai serta kondisi kesehatan masing-masing individu. Oleh karena itu, cara paling tepat untuk mengetahui kapan dan seberapa sering kamu perlu dites adalah dengan berkonsultasi langsung dengan dokter.
Baca juga: Kapan Deteksi Dini Kanker Serviks? Ini Jenis Metode dan Manfaatnya!
Bagaimana Prosedur Tes HPV DNA Dilakukan?
Prosedur pengambilan sampel tes HPV DNA tergolong singkat dan sederhana. Saat ini terdapat dua metode pengambilan sampel, yakni dilakukan oleh tenaga kesehatan dan dilakukan secara mandiri.
1. Pengambilan Sampel oleh Tenaga Kesehatan
Ini adalah cara yang paling umum dilakukan di fasilitas kesehatan. Berikut prosedur pengambilan sampel yang umum dilakukan oleh tenaga kesehatan:
- Pasien akan diminta berbaring di meja periksa dengan posisi kaki ditekuk dan disangga yang memungkinkan dokter memeriksa area serviks.
- Dokter kemudian memasukkan alat bernama spekulum ke dalam vagina agar serviks dapat terlihat jelas.
- Tenaga kesehatan menggunakan sikat atau swab kecil yang lembut untuk mengusap dan mengambil sampel sel dari area serviks.
- Sampel tersebut lalu dikirim ke laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut.
2. Pengambilan Sampel secara Mandiri (HPV Self-Sampling)
Pada sejumlah layanan kesehatan, tersedia pula opsi tes HPV mandiri yang memungkinkan pasien mengambil sendiri sampel dari vagina menggunakan alat yang disediakan. Perlu dipahami bahwa self-sampling mengambil sampel dari vagina, bukan mengambil sampel sel secara langsung dari permukaan serviks seperti pada pemeriksaan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Prosedurnya dapat berbeda tergantung perangkat yang digunakan. Secara umum:
- Pasien menerima perangkat pengambilan sampel beserta petunjuk penggunaannya dari fasilitas kesehatan tertentu.
- Pengambilan sampel bisa dilakukan di rumah atau di fasilitas kesehatan, tergantung perangkat, layanan, dan ketentuan yang berlaku.
- Ambil sampel dengan cara memasukkan swab secara perlahan ke dalam vagina, lalu putar swab dengan lembut sesuai instruksi untuk mengumpulkan sampel cairan dan sel dari dinding vagina.
- Simpan sampel sesuai petunjuk, lalu serahkan ke tenaga kesehatan atau laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut.
Cara Membaca Hasil Tes HPV DNA
Hasil tes HPV DNA umumnya dikategorikan menjadi dua jenis utama, yaitu negatif atau positif terhadap HPV berisiko tinggi. Berikut masing-masing penjelasannya:
- Negatif: Tidak terdeteksi DNA dari tipe HPV berisiko tinggi pada sampel yang diperiksa. Artinya, risiko kanker serviks saat ini tergolong rendah. Pasien biasanya dapat melanjutkan skrining sesuai interval yang direkomendasikan.
- Positif: Terdeteksi materi genetik dari satu atau lebih tipe HPV berisiko tinggi pada sampel yang diperiksa. Namun, bukan berarti pasien pasti menderita kanker serviks. Sebagian besar infeksi HPV dapat dikendalikan oleh sistem kekebalan tubuh dan kemudian menghilang dengan sendirinya, tetapi infeksi yang menetap dapat meningkatkan risiko terjadinya perubahan prakanker.
Apa Perbedaan Pap Smear dan Tes HPV DNA?
Tes HPV DNA dan Pap smear merupakan dua metode skrining dengan target pemeriksaan yang berbeda. Keduanya dapat digunakan secara terpisah atau bersama-sama (co-testing), tergantung pedoman, metode skrining yang tersedia, dan kondisi pasien.
Aspek | Tes HPV DNA | Pap Smear |
Objek pemeriksaan | Materi generik HPV berisiko tinggi. | Perubahan/kelainan sel serviks. |
Tujuan utama | Mendeteksi infeksi HPV berisiko tinggi. | Mendeteksi perubahan sel abnormal. |
Yang diketahui dari hasil | Apakah HPV risiko tinggi terdeteksi pada sampel yang diperiksa. | Apakah terdapat perubahan pada sel serviks. |
Peran dalam skrining | Mengidentifikasi infeksi HPV yang berkaitan dengan risiko kanker serviks. | Mengidentifikasi perubahan sel yang dapat menunjukkan lesi prakanker atau kanker. |
Hasil positif | Menunjukkan HPV berisiko tinggi terdeteksi. | Menunjukkan adanya perubahan pada sel serviks yang perlu dinilai lebih lanjut sesuai hasilnya. |
Secara umum, tes HPV berbasis DNA memiliki sensitivitas yang lebih tinggi untuk mendeteksi lesi prakanker dibandingkan dengan sitologi saja. Karena itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemeriksaan berbasis HPV sebagai metode skrining utama bila tersedia, sementara sitologi tetap dapat digunakan sesuai program dan pedoman yang berlaku.
Meski demikian, tes HPV DNA dan Pap smear memiliki fungsi yang berbeda dan dapat saling melengkapi. Tes HPV DNA mendeteksi infeksi HPV risiko tinggi yang berkaitan dengan terjadinya kanker serviks, sedangkan Pap smear melihat apakah perubahan bentuk dan karakteristik sel serviks yang dapat menunjukkan adanya lesi prakanker atau kanker.
Pada kondisi tertentu, keduanya dapat digunakan bersama sebagai co-testing atau digunakan secara berurutan sebagai bagian dari strategi skrining dan tindak lanjut sehingga dokter memperoleh informasi yang lebih lengkap mengenai risiko serta kondisi serviks pasien.
Pemilihan metode bergantung pada pedoman yang digunakan, hasil pemeriksaan sebelumnya, serta kondisi masing-masing pasien.
Baca juga: Hasil Pap Smear: Lama Hasil Keluar dan Akurasinya
Deteksi Dini Kanker Serviks Melalui Tes HPV DNA
Kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker yang bisa dicegah melalui skrining dan penanganan lesi prakanker sejak dini. Karena infeksi HPV umumnya tidak bergejala, menunggu timbulnya keluhan bukanlah cara yang tepat untuk mendeteksi kanker serviks.
Jika kamu belum mengetahui metode skrining yang sesuai, konsultasikan dengan dokter untuk menentukan pemeriksaan berdasarkan usia, riwayat skrining, dan faktor risiko. Kaiser Cancer Center menyediakan layanan Skrining & Deteksi Dini Kanker, termasuk pemeriksaan HPV DNA dan Pap smear.
Untuk memilih metode pemeriksaan yang paling cocok dengan usia serta kondisimu saat ini, kamu bisa berkonsultasi dengan dokter di Kaiser Cancer Center terlebih dahulu. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan rekomendasi pemeriksaan yang tepat.
Dengan skrining yang sesuai dan tindak lanjut yang tepat, perubahan prakanker dapat ditemukan dan ditangani sebelum berkembang menjadi kanker. Bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.
Baca juga: Vaksin Kanker Serviks: Manfaat, Jenis, dan Cara Kerjanya
Referensi:
- Okunade KS, Adejimi AA, John-Olabode SO, Oshodi YA, Oluwole AA. An Overview of HPV Screening Tests to Improve Access to Cervical Cancer Screening Amongst Underserved Populations: From Development to Implementation. Risk Manag Healthc Policy. 202;15:1823-1830. https://doi.org/10.2147/RMHP.S296914
- Aurora WID, Dwiza M. HPV DNA Testing in Cervical Cancer Screening: Challenges, Opportunities, and Future Directions. Electronic Journal Scientific of Environmental Health and Diseases (E-SEHAD). 2025;5(1):42-53. https://doi.org/10.22437/e-sehad.v5i2.41351
- MedlinePlus. Human Papillomavirus (HPV) Test [Internet]. [Diakses pada 26 Agustus 2026]. Diakses dari: https://medlineplus.gov/lab-tests/human-papillomavirus-hpv-test/
- Canadian Cancer Society. Human Papillomavirus (HPV) Test [Internet]. [Diakses pada 26 Agustus 2026]. Diakses dari: https://cancer.ca/en/treatments/tests-and-procedures/human-papillomavirus-hpv-test
- American Cancer Society. The HPV Test [Internet]. [Diakses pada 26 Agustus 2026]. Diakses dari: https://www.cancer.org/cancer/types/cervical-cancer/detection-diagnosis-staging/screening-tests/hpv-test.html








