Tahukah kamu bahwa kanker serviks termasuk jenis kanker yang bisa disembuhkan, terutama bila terdeteksi pada stadium awal? Pilihan terapinya pun kini jauh lebih beragam, mulai dari operasi, kemoterapi, radioterapi, hingga imunoterapi.
Pertanyaannya, dari sekian banyak pilihan tersebut, mana yang tepat untukmu? Jawabannya tidak sama untuk setiap pasien. Stadium kanker, kondisi kesehatan secara umum, keinginan memiliki anak, hingga hasil pemeriksaan, semuanya ikut menentukan.
Artikel ini akan membahas berbagai cara mengobati kanker serviks serta efek samping yang perlu diantisipasi. Simak penjelasannya berikut.
Bagaimana Cara Menentukan Pengobatan Kanker Serviks?
Pengobatan kanker serviks ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan dan evaluasi oleh tim medis. Berikut adalah kriteria utama yang dipertimbangkan untuk menentukan metode pengobatannya:
Stadium kanker: Pada kanker serviks stadium awal, operasi dapat menjadi salah satu pilihan pengobatan, tergantung pada ukuran tumor, luas penyebaran, dan kondisi pasien. Di sisi lain, jika kanker sudah masuk stadium lanjut dan bermetastasis, maka pengobatan yang lebih dipertimbangkan adalah terapi sistemik, seperti kemoterapi, radioterapi, dan terapi lain untuk menekan pertumbuhan sel kanker.
- Jenis dan karakteristik sel kanker serviks: Melalui pemeriksaan biopsi, dokter dapat mengidentifikasi jenis sel kanker serviks, seperti squamous cell carcinoma atau adenocarcinoma. Sebab, beberapa jenis sel memberikan respons yang berbeda terhadap terapi tertentu.
- Kondisi kesehatan dan usia: Kondisi fisik umum pasien, fungsi organ (seperti ginjal dan hati), usia, serta riwayat penyakit medis lainnya akan dinilai untuk memilih terapi yang sesuai sekaligus mempertimbangkan risiko efek samping dan komplikasi.
Rencana kehamilan: Apakah penderita kanker serviks bisa hamil? Bagi pasien usia reproduktif yang masih berencana memiliki anak, dokter dapat mempertimbangkan prosedur khusus untuk mempertahankan kesuburan (seperti trachelectomy pada stadium awal) jika memungkinkan secara medis.
Di Kaiser Cancer Center, penentuan pengobatan kanker serviks dilakukan oleh tim multidisiplin (MDT) yang terdiri dari berbagai dokter spesialis dan tim medis lainnya. Langkah ini bertujuan untuk menentukan pengobatan terbaik bagi setiap pasien sesuai dengan kondisi medisnya masing-masing.
Pilihan Pengobatan Kanker Serviks
Rencana pengobatan kanker serviks untuk setiap pasien dapat berbeda-beda, mulai dari operasi, kemoterapi, radioterapi, terapi target, imunoterapi, hingga kombinasi dari beberapa terapi tersebut. Kaiser Cancer Center menyediakan berbagai pilihan terapi kanker serviks yang akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien, seperti berikut.
1. Operasi
Operasi merupakan salah satu pilihan pengobatan kanker serviks terutama pada stadium awal, di mana tumor masih tergolong kecil dan belum menyebar ke organ tubuh lain. Berikut adalah beberapa jenis operasi kanker serviks yang dapat dilakukan berdasarkan ukuran, tingkat penyebaran kanker, serta rencana kehamilan di masa depan:
Ablasi: Menghancurkan jaringan serviks yang abnormal menggunakan suhu dingin (cryosurgery) atau laser.
- Eksisi (konisasi/biopsi kerucut): Prosedur pengangkatan jaringan serviks berbentuk kerucut untuk pemeriksaan lebih lanjut sekaligus mengangkat lesi prakanker.
- Histerektomi: Pengangkatan rahim dan serviks. Bisa berupa histerektomi sederhana (pengangkatan rahim dan serviks saja) atau histerektomi radikal (pengangkatan rahim, serviks, bagian atas vagina, serta jaringan di sekitarnya).
- Trakelektomi: Operasi pengangkatan serviks dengan mempertahankan badan rahim. Prosedur ini biasanya dipertimbangkan bagi pasien usia muda yang masih ingin memiliki keturunan.
- Eksenterasi panggul: Operasi besar yang dapat dipertimbangkan pada pasien dengan kanker serviks yang kambuh atau menetap di area panggul. Prosedur ini mengangkat rahim, serviks, organ sekitarnya seperti kandung kemih, bagian usus, atau vagina sesuai dengan tingkat penyebaran kanker.
Pengambilan sampel atau pengangkatan kelenjar getah bening: Untuk mengetahui apakah sel kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening, dokter dapat melakukan pengambilan sampel atau pengangkatan kelenjar getah bening di area panggul dan sekitar aorta.
2. Radioterapi
Radioterapi merupakan terapi kanker yang memanfaatkan sinar-X berenergi tinggi untuk membunuh atau merusak sel kanker. Radioterapi dapat digunakan sebagai pengobatan utama atau dikombinasikan dengan pengobatan lainnya, seperti operasi dan kemoterapi (kemoradioterapi).
Terdapat dua jenis radioterapi yang umum digunakan berdasarkan kebutuhan setiap pasien, yaitu radioterapi eksternal dan internal (brachytherapy). Berikut masing-masing penjelasannya:
Radioterapi eksternal: Terapi ini menggunakan sinar-X yang diarahkan dari mesin linear accelerator (LINAC) ke area serviks. Pada kanker serviks, area penyinaran dapat mencakup serviks, jaringan di sekitarnya, serta kelenjar getah bening di area panggul sesuai dengan luas penyebaran kanker.
Radioterapi internal (brachytherapy): Sumber radiasi akan ditempatkan langsung di sekitar atau di dalam tumor melalui kateter maupun tabung logam kecil. Teknik ini memungkinkan pemberian dosis radiasi yang tinggi pada area target sekaligus membatasi paparan radiasi pada jaringan sehat di sekitarnya.
3. Kemoterapi
Kemoterapi juga dapat digunakan sebagai pengobatan kanker serviks. Berbeda dengan radioterapi yang hanya menargetkan area serviks, kemoterapi bekerja secara sistemik di seluruh tubuh sehingga dapat membunuh sel kanker yang tersebar di bagian tubuh lain.
Kemoterapi dapat digunakan sebagai pengobatan utama atau dikombinasikan dengan beberapa terapi lainnya, seperti operasi, radioterapi, dan terapi target, tergantung pada kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Lantas, apa saja obat-obatan yang digunakan dalam kemoterapi kanker serviks? Berikut adalah beberapa contohnya:
Cisplatin.
- Ifosfamide.
- Gemcitabine.
- Irinotecan.
- Carboplatin.
- Topotecan.
- Paclitaxel.
Vinorelbine.
Baca juga: Apa Perbedaan Kemoterapi dan Radioterapi? Ini Penjelasannya!
4. Terapi Target
Untuk menargetkan sel-sel kanker serviks secara spesifik, terapi target dapat menjadi salah satu solusi yang efektif. Berbeda dengan kemoterapi konvensional, terapi ini dirancang untuk bekerja pada target biologis tertentu. Meski demikian, terapi target tetap dapat memengaruhi jaringan sehat dan menimbulkan efek samping.
Salah satu jenis obat terapi target yang umum digunakan untuk menangani kanker serviks adalah bevacizumab. Obat ini biasanya diberikan untuk penderita kanker serviks stadium lanjut dan kanker serviks yang kambuh setelah terapi sebelumnya.
Cara kerjanya adalah dengan menghambat pertumbuhan pembuluh darah baru. Dengan begitu, suplai nutrisi dan oksigen ke sel-sel kanker terhambat sehingga pertumbuhan dan perkembangannya melambat.
5. Imunoterapi
Seperti yang diketahui bersama, tubuh memiliki benteng pertahanan alami yang disebut sistem imun untuk melawan penyakit di dalam tubuh, termasuk kanker. Namun, sel kanker dapat “bersembunyi” dari radar sistem imun sehingga tidak terdeteksi sebagai ancaman yang perlu dihancurkan.
Untuk itu, imunoterapi hadir untuk membantu sistem imun mengenali dan melawan sel-sel kanker serviks. Salah satu obat imunoterapi yang digunakan untuk mengobati pasien kanker serviks adalah pembrolizumab, terutama bagi pasien yang menunjukkan adanya biomarker PD-L1 (protein yang membantu sel kanker menghindari serangan sistem imun) pada pemeriksaan biomarker sel kanker.
Imunoterapi termasuk salah satu cara mengobati kanker serviks tanpa operasi karena obat dapat diberikan melalui infus intravena (IV) obat minum (oral), atau suntikan.
6. Uji Klinis (Clinical Trials)
Pasien juga dapat mempertimbangkan untuk berpartisipasi dalam uji klinis (clinical trials), yaitu penelitian medis yang bertujuan mengevaluasi keamanan dan efektivitas metode pengobatan baru atau kombinasi terapi yang sedang dikembangkan. Melalui uji klinis, pasien yang memenuhi kriteria tertentu dapat memperoleh kesempatan untuk menjalani pengobatan yang masih dalam tahap penelitian.
Namun, manfaat terapi tersebut belum dapat dipastikan dan terdapat risiko efek samping yang perlu dipertimbangkan. Dokter dapat membantu pasien memahami tujuan penelitian, persyaratan keikutsertaan, potensi manfaat, serta risikonya sebelum pasien memutuskan untuk berpartisipasi.
Keikutsertaan dalam uji klinis bersifat sukarela dan tidak menjamin hasil pengobatan yang lebih baik dibandingkan terapi standar.
Baca juga: Mengenal Terapi Kanker: Perbedaan Kemoterapi, Terapi Target, dan Imunoterapi
Efek Samping Pengobatan Kanker Serviks
Setiap jenis pengobatan kanker serviks memiliki efek samping yang berbeda-beda dan dapat memengaruhi fungsi organ serta sistem tubuh tertentu.
Berdasarkan studi oleh Palagudi, dkk. dalam jurnal Cureus, efek samping obat/terapi kanker, yaitu kemoterapi dan radioterapi, memengaruhi beberapa sistem organ tubuh, seperti sistem pencernaan, sistem saraf, hingga sistem reproduksi1. Berikut adalah beberapa efek samping pengobatan kanker serviks yang ditemukan:
Sistem Organ | Efek Samping Terapi Kanker Serviks |
Sistem Pencernaan |
|
Sistem Saraf |
|
Kulit |
|
Sistem Perkemihan & Reproduksi |
|
Meski pengobatan kanker dapat menimbulkan banyak efek samping, dokter akan berupaya untuk mengantisipasi dan mengurangi efek samping tersebut. Guna mendukung proses pemulihan pasien, Kaiser Cancer Center menghadirkan layanan Manajemen Nyeri dan Perawatan Paliatif. Layanan ini mencakup dukungan perawatan fisik dan psikologis bagi pasien kanker selama atau setelah menjalani terapi agar kualitas hidup pasien meningkat.
Menentukan Pengobatan Kanker Serviks yang Tepat
Mengobati kanker serviks tentu merupakan perjalanan yang tak mudah. Pasien tidak hanya dihadapkan pada berbagai macam pilihan pengobatan, tetapi juga pada berbagai efek samping yang menyertai pengobatan tersebut.
Oleh karena itu, setiap terapi kanker yang dipilih, mulai dari tindakan bedah, kemoterapi, radioterapi, hingga imunoterapi, harus melalui pertimbangan dan penilaian yang menyeluruh dari dokter. Dengan begitu, pasien akan mendapatkan pengobatan yang lebih presisi sesuai dengan karakteristik kanker, kondisi kesehatan secara keseluruhan, dan harapan pasien.
Melalui layanan Terapi Kanker di Kaiser Cancer Center, penanganan kanker serviks dirancang secara personal dan berfokus pada kebutuhan masing-masing pasien. Langkah ini memastikan pasien mendapatkan pengobatan kanker yang efektif dan aman sehingga kualitas hidup tetap terjaga.
Jadi, mari jalani pengobatan kanker serviks dengan terapi yang tepat untuk mencapai hasil pemulihan yang optimal bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.
Baca juga: Apakah Kemoterapi Itu Sakit? Ini yang Perlu Kamu Pahami
Referensi:
- Palagudi M, Para S, Golla N, Meduri KC, Duvvuri SP, Vityala Y, Sajja DC, Damineni U. Adverse effects of cancer treatment in patients with cervical cancer. Cureus. 13 Feb 2024;16(2):e54106. https://doi.org/10.7759/cureus.54106
- American Cancer Society. Surgery for cervical cancer [Internet]. 1 Juli 2025 [diakses pada 21 September 2026]. Tersedia dari: https://www.cancer.org/cancer/types/cervical-cancer/treating/surgery.html
- NHS. Treatment for cervical cancer [Internet]. 4 Sep 2024 [diakses pada 21 Sepember 2026]. Tersedia dari: https://www.nhs.uk/conditions/cervical-cancer/treatment/
- National Cancer Institute. Cervical cancer treatment (PDQ®)–patient version [Internet]. 3 Apr 2025 [Diakses pada 21 September 2026]. Tersedia dari: https://www.cancer.gov/types/cervical/treatment
- NCI Editorial Board. Cervical cancer treatment (PDQ®)–patient version [Internet]. 3 Apr 2025 [diakses pada 21 September 2026]. Tersedia dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK65985/
- Macmillan Cancer Support. Targeted therapy for cervical cancer [Internet]. 1 Apr 2021 [diakses pada 21 September 2026]. Tersedia dari: https://www.macmillan.org.uk/cancer-information-and-support/treatments-and-drugs/cervical-cancer-targeted-therapy
- Centers for Disease Control and Prevention. Clinical trials [Internet]. 26 Agust 2024 [diakses pada 21 September 2026]. Tersedia dari: https://www.cdc.gov/cancer-survivors/patients/clinical-trials.html








