Logo

Apa Perbedaan Kemoterapi dan Radioterapi? Inilah Penjelasannya!

Penulis: Tim Kaiser Cancer Center

Bagikan:

detail image article
Treatment

Saat mendengar pengobatan kanker, apa yang pertama kali terlintas di pikiranmu? Masyarakat awam biasanya akan langsung mengaitkannya dengan kemoterapi dan radioterapi. Keduanya merupakan terapi kanker yang sering digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel kanker.

Namun, tahukah kamu perbedaan kemoterapi dan radioterapi? Meskipun sama-sama bertujuan melawan kanker, keduanya memiliki beberapa perbedaan yang mencolok. Penasaran apa saja perbedaannya dan bagaimana dokter menentukan terapi yang sesuai di antara keduanya? Simak penjelasannya di bawah ini.

Apa Perbedaan Kemoterapi dan Radioterapi?

Tak jarang, kemoterapi dan radioterapi sering disalahpahami sebagai terapi yang sama. Padahal, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan, baik dari segi cara kerja, tujuan penggunaan, cara pemberian, maupun efek samping yang ditimbulkan. Berikut adalah beberapa perbedaan utamanya.

1. Cara Kerja

Perbedaan pertama terletak pada cara kerja masing-masing terapi. Singkatnya, kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel kanker, sedangkan radioterapi menggunakan sinar radiasi yang diarahkan ke bagian tubuh yang terkena kanker. Berikut penjelasan lengkapnya.

a. Cara Kerja Kemoterapi

Kemoterapi menggunakan obat-obatan antikanker untuk membunuh sel kanker atau menghambat pertumbuhan dan pembelahannya. Banyak obat kemoterapi bekerja dengan merusak DNA atau mengganggu proses pembelahan sel sehingga sel kanker tidak dapat terus berkembang dan akhirnya mati.

Karena diberikan melalui aliran darah (misalnya melalui infus atau obat minum), kemoterapi bekerja secara sistemik, yaitu dapat menjangkau sel kanker di berbagai bagian tubuh. Oleh karena itu, kemoterapi sering digunakan pada kanker yang telah menyebar atau berisiko menyebar ke organ lain.

b. Cara Kerja Radioterapi

Berbeda dengan kemoterapi, radioterapi menggunakan sinar radiasi yang diarahkan atau difokuskan ke area spesifik di tubuh yang terdampak kanker. Radiasi tersebut merusak DNA sel kanker sehingga sel kehilangan kemampuan untuk membelah dan akhirnya mati. 

Karena bekerja secara lokal, radioterapi terutama memengaruhi jaringan yang berada di area penyinaran sehingga dampaknya terhadap bagian tubuh lain relatif lebih kecil dibandingkan dengan kemoterapi.

2. Cara Pemberian Terapi

Mengingat radioterapi dan kemoterapi adalah pengobatan dengan metode yang berbeda, cara pemberiannya pun tidak sama. Simak bagaimana kedua terapi ini diberikan kepada pasien melalui penjelasan di bawah ini.

a. Cara Pemberian Kemoterapi

Seperti yang disebutkan sebelumnya, kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel kanker. Obat-obatan ini dapat diberikan melalui berbagai cara, seperti:

  • Melalui infus ke dalam pembuluh darah (intravena atau IV).

  • Diminum dalam bentuk pil atau kapsul.
  • Disuntikkan, misalnya ke bawah kulit (subkutan), ke dalam otot (intramuskular), atau ke cairan serebrospinal pada kondisi tertentu.
  • Pada beberapa jenis kanker, obat kemoterapi juga dapat diberikan langsung ke rongga tubuh atau organ tertentu, seperti rongga perut (intraperitoneal) atau kandung kemih (intravesikal)

b. Cara Pemberian Radioterapi

Sinar radiasi yang digunakan dalam radioterapi dapat diberikan melalui beberapa cara, tergantung pada jenis kanker, ukuran tumor, lokasi tumor, serta faktor lain, seperti umur dan kondisi medis tertentu.

Berikut adalah beberapa metode radioterapi yang dapat direkomendasikan oleh dokter:

  • Radioterapi eksternal (external beam radiotherapy): Metode ini memanfaatkan mesin khusus (linear accelerator) untuk memancarkan sinar radiasi dari luar tubuh yang difokuskan tepat ke area target. Cara ini merupakan yang paling umum digunakan dalam pengobatan radioterapi.
  • Radioterapi internal (brachytherapy): Dokter menempatkan sumber radiasi di dalam tubuh, tepat di dalam atau di dekat lokasi tumor.
  • Radioterapi sistemik: Memasukkan zat radioaktif ke dalam tubuh, yang diberikan melalui infus atau diminum dalam bentuk kapsul maupun cairan. Metode ini bekerja secara sistemik (menyebar ke seluruh jaringan tubuh) dan penggunaannya lebih jarang dibandingkan dengan radiasi eksternal atau internal. Contohnya adalah terapi radioiodin untuk kanker tiroid dan beberapa radiofarmaka untuk kanker prostat atau tumor neuroendokrin.

3. Efek Samping

Efek samping kemoterapi cenderung memengaruhi seluruh bagian tubuh karena sifatnya yang sistemik. Sebaliknya, efek samping radioterapi lebih terlokalisasi pada area yang diterapi. Berikut masing-masing penjelasannya.

a. Efek Samping Kemoterapi

Kemoterapi bekerja dengan menghambat pertumbuhan atau menghancurkan sel kanker. Sayangnya, proses ini tidak hanya menyasar sel kanker, tetapi juga sel sehat yang aktif membelah, seperti sel darah, folikel rambut, serta sel-sel pada mulut dan saluran pencernaan. Akibatnya, efek samping yang ditimbulkan lebih luas dan beragam, seperti:

  • Rambut rontok.
  • Masalah pencernaan, seperti mual, muntah, diare, atau sembelit.
  • Sariawan atau luka di mulut dan tenggorokan.
  • Anemia (penurunan sel darah merah).
  • Neutropenia (penurunan sel darah putih).
  • Kerusakan saraf tepi (neuropati perifer).

Efek samping yang dirasakan setiap pasien dapat bervariasi, tergantung pada jenis jenis obat, dosis, lama pengobatan, serta kondisi kesehatan masing-masing. Oleh karena itu, penting bagi pasien untuk berdiskusi dengan dokter mengenai potensi efek samping kemoterapi yang akan dijalani dan bagaimana penanganannya.

b. Efek Samping Radioterapi

Efek samping radioterapi sebagian besar terbatas pada lokasi atau bagian tubuh yang terpapar energi radiasi. Jenis dan tingkat keparahannya bergantung pada lokasi tubuh yang diterapi, dosis radiasi, serta luas area penyinaran. Beberapa efek samping yang umumnya dialami oleh pasien radioterapi antara lain:

  • Perubahan kulit pada area penyinaran, seperti memerah, kering, gatal, atau mengelupas.
  • Kelelahan berlebih.
  • Kerontokan rambut pada area tubuh yang terpapar radiasi.
  • Gangguan menelan atau mulut kering bila penyinaran dilakukan pada kepala dan leher.
  • Mual, muntah, diare, atau kram perut bila penyinaran dilakukan pada area perut atau panggul.
  • Gangguan berkemih atau disfungsi seksual bila penyinaran dilakukan pada area panggul.

Sebagian besar efek samping terapi di atas bersifat sementara dan akan hilang seiring waktu setelah pengobatan selesai. Di Kaiser Cancer Center, dokter akan memberikan penanganan yang tepat untuk meredakan efek samping tersebut, salah satunya melalui manajemen nyeri. Dengan begitu, pasien dapat menjalani masa pemulihan dengan lebih nyaman.

Baca juga: Mengenal Terapi Kanker: Perbedaan Kemoterapi, Terapi Target, dan Imunoterapi

Lebih Baik Kemoterapi atau Radioterapi?

Pada dasarnya, kemoterapi dan radioterapi sama-sama bertujuan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel kanker. Keduanya telah menjadi standar pengobatan untuk berbagai jenis kanker. Namun, tidak ada terapi yang dapat dikatakan selalu lebih baik dibandingkan yang lain karena masing-masing memiliki indikasi, manfaat, dan keterbatasan.

Perlu diketahui bahwa pemilihan metode pengobatan harus disesuaikan dengan jenis kanker, stadium kanker, dan kondisi pasien secara keseluruhan. Dokter akan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dan menentukan apakah pasien memerlukan kemoterapi, radioterapi, atau bahkan kombinasi keduanya.

Berdasarkan studi oleh McCormack, M., et al. (2024) dalam jurnal The Lancet, pada pasien dengan kanker serviks lokal lanjut, pemberian kemoterapi induksi sebelum kemoradioterapi standar dapat meningkatkan angka kelangsungan hidup dibandingkan kemoradioterapi saja. 

Temuan ini menunjukkan bahwa strategi terapi kombinasi dapat memberikan manfaat pada jenis kanker dan kelompok pasien tertentu, meskipun penerapannya tetap harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Baca juga: Kemoterapi Kanker Serviks, Ini Prosedur dan Efek Sampingnya

Kemoterapi vs. Radioterapi: Bagaimana Menentukan Pilihan yang Tepat?

Memahami perbedaan kemoterapi dan radioterapi dapat membantu pasien dan keluarga memiliki gambaran yang jelas mengenai pilihan pengobatan kanker. Meskipun sama-sama bertujuan mengendalikan atau menghancurkan sel kanker, keduanya memiliki cara kerja serta efek samping yang berbeda sehingga penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi pasien.

Oleh karena itu, penting untuk melakukan diskusi mendalam dengan dokter guna menentukan pilihan pengobatan yang paling tepat. Untuk itu, kamu bisa berkonsultasi secara gratis dengan dokter di Kaiser Cancer Center untuk mendapatkan pemeriksaan awal dan rekomendasi terapi yang sesuai.

Kaiser Cancer Center menghadirkan layanan Terapi Kanker yang meliputi kemoterapi, radioterapi, hingga tindakan bedah jika diperlukan. Setiap rencana pengobatan akan ditentukan oleh tim multidisiplin berdasarkan hasil diagnosis pasien menggunakan fasilitas dengan teknologi terbaik.

Jadi, mari konsultasikan kebutuhan terapimu sekarang untuk meraih hasil pengobatan yang optimal bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.

Baca juga: Imunoterapi Kanker: Ketahui Tujuan, Cara Kerja, dan Efek Sampingnya

Referensi:

  1. McCormack, M., et al. Induction Chemotherapy Followed by Standard Chemoradiotherapy versus Standard Chemoradiotherapy Alone in Patients with Locally Advanced Cervical Cancer (GCIG INTERLACE): An International, Multicentre, Randomised Phase 3 Trial. The Lancet. 2024;404(10462):1525-1535. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(24)01438-7
  2. Sweeney, M. What’s the Difference Between Chemotherapy and Radiation? [Internet]. [Diakses pada 21 Juli 2026]. Diakses dari: https://www.healthline.com/health/radiation-vs-chemo
  3. Frysh, P. What's the Difference Between Chemotherapy and Radiation? [Internet]. [Diakses pada 21 Juli 2026]. Diakses dari: https://www.webmd.com/cancer/cancer-chemotherapy-radiation-differences
  4. National Cancer Institute. Radiation Therapy to Treat Cancer [Internet]. [Diakses pada 21 Juli 2026]. Diakses dari: https://www.cancer.gov/about-cancer/treatment/types/radiation-therapy 

Artikel Terkait

A doctor smiling at a patient at Kaiser Cancer Center

Tim Kaiser Siap Menemani Setiap Langkahmu

Kami percaya, setiap langkah menuju pemulihan layak mendapat dukungan terbaik. Tim Kaiser hadir untuk mendampingimu—membawa ketenangan, harapan, dan dukungan di setiap tahap perjalananmu melalui pendekatan medis berteknologi mutakhir dan berstandar global.

Dapatkan Informasi Terbaru dari Kaiser

Subscribe untuk tetap terhubung dan menerima update terbaru dari Kaiser.