Pernah menemukan benjolan pada payudara ketika sedang menyusui atau setelah berhenti menyusui? Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah galaktokel, yaitu kista berisi ASI yang terbentuk akibat penyumbatan saluran susu.
Galaktokel pada payudara adalah kondisi ketika ASI tertahan dan menumpuk di dalam saluran susu hingga membentuk kantung. Kondisi ini umumnya bersifat jinak dan dapat dialami selama atau setelah masa menyusui.
Meski umumnya jinak, benjolan akibat galaktokel bisa memiliki gejala tertentu yang menyerupai benjolan akibat kelainan payudara lain, termasuk kanker payudara. Oleh karena itu, untuk memahami penyebab, gejala, hingga perbedannya dengan masitis, simak penjelasan berikut.
Mengenal Galaktokel: Lesi Jinak pada Payudara
Galaktokel atau galactocele merupakan kista retensi ASI yang terbentuk ketika saluran susu mengalami penyumbatan. Akibatnya, ASI tidak dapat mengalir keluar dengan normal dan menumpuk di dalam jaringan payudara.
Kondisi ini paling sering terjadi pada perempuan yang sedang menyusui atau baru saja berhenti menyusui. Namun, galaktokel juga dapat muncul beberapa waktu setelah masa menyusui berakhir.
Galaktokel umumnya berbentuk benjolan bulat dengan batas yang cukup jelas. Ukuran dan teksturnya dapat berbeda-beda, mulai dari lunak hingga terasa cukup padat, bergantung pada kandungan cairan di dalamnya.
Sebagian besar galaktokel tidak menimbulkan rasa sakit. Namun, benjolan yang berukuran besar dapat menekan jaringan di sekitarnya sehingga terasa tidak nyaman.
Meskipun termasuk lesi jinak, galaktokel tetap perlu diperiksa untuk memastikan penyebab benjolan. Hal ini penting karena beberapa kelainan payudara lain dapat menunjukkan gejala yang serupa.
Apa Penyebab Galaktokel?
Seperti yang telah disebutkan, penyebab utama galaktokel adalah penyumbatan pada saluran susu atau lactiferous duct. Saluran ini berfungsi membawa ASI dari kelenjar payudara menuju puting. Ketika alirannya terhambat, ASI dapat tertahan dan membentuk kista. Beberapa kondisi yang dapat berkontribusi terhadap penyumbatan tersebut antara lain:
ASI mengental. Perubahan komposisi ASI dapat membuat cairannya lebih kental sehingga berpotensi menghambat aliran di dalam saluran susu.
- Peradangan pada saluran susu. Peradangan dapat menyebabkan saluran menyempit sehingga ASI lebih sulit mengalir.
- Jaringan parut. Bekas luka atau jaringan parut di sekitar saluran susu dapat mengganggu aliran ASI.
- Tekanan pada payudara. Pakaian yang terlalu ketat atau posisi menyusui tertentu dapat memberikan tekanan pada payudara dan menghambat aliran ASI.
Frekuensi menyusui yang berkurang secara tiba-tiba. Berhenti menyusui atau melewatkan waktu menyusui dapat menyebabkan ASI tertahan di dalam payudara.
Perlu dipahami bahwa faktor-faktor tersebut tidak selalu menyebabkan galaktokel. Kondisi ini dapat terbentuk melalui kombinasi beberapa faktor yang mengganggu kelancaran aliran ASI.
Baca juga: Ciri Kanker Payudara pada Ibu Menyusui yang Perlu Diwaspadai!
Ciri-Ciri Galaktokel
Ciri-ciri galaktokel yang paling umum adalah munculnya benjolan pada payudara selama atau setelah masa menyusui. Benjolan tersebut biasanya memiliki beberapa karakteristik berikut:
Tidak terasa sakit. Sebagian besar benjolan galaktokel tidak menimbulkan nyeri ketika disentuh. Namun, ukurannya yang besar dapat menyebabkan rasa tidak nyaman.
- Berbentuk bulat dan memiliki batas yang jelas. Benjolan biasanya dapat dirasakan dengan cukup mudah karena batasnya relatif tegas saat diraba.
- Dapat digerakkan. Benjolan umumnya terasa dapat bergeser ketika disentuh, bukan melekat kuat pada jaringan di sekitarnya.
- Memiliki tekstur lunak hingga padat. Teksturnya bergantung pada kekentalan dan komposisi ASI yang tertahan di dalam kista.
Ukurannya dapat berubah. Benjolan bisa membesar ketika produksi ASI meningkat atau setelah menyusui, lalu mengecil ketika sebagian ASI keluar.
Galaktokel biasanya tidak disertai kemerahan, rasa panas pada payudara, atau demam. Jika muncul keluhan tersebut, ada kemungkinan terjadi peradangan atau infeksi yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Meski karakteristiknya dapat membantu mengenali galaktokel, kamu tidak bisa memastikan diagnosis hanya dengan meraba benjolan. Benjolan payudara juga dapat disebabkan oleh kista, fibroadenoma, abses, maupun kondisi lainnya.
Karena itu, segera konsultasikan perubahan pada payudara kepada dokter, terutama jika benjolan terus membesar, terasa nyeri, atau disertai perubahan pada kulit.
Apa Perbedaan Galaktokel dan Mastitis?
Galaktokel dan mastitis sama-sama dapat terjadi selama masa menyusui serta berkaitan dengan gangguan aliran ASI. Namun, keduanya merupakan kondisi yang berbeda.
Galaktokel merupakan kista akibat penumpukan ASI di dalam saluran susu yang tersumbat. Sementara itu, mastitis adalah peradangan pada jaringan payudara yang dapat disertai infeksi bakteri. Perbedaan keduanya dapat dilihat dari beberapa karakteristik berikut:
Aspek | Galaktokel | Mastitis |
Kondisi utama | Penumpukan ASI yang membentuk kista. | Peradangan pada jaringan payudara. |
Rasa nyeri | Umumnya tidak nyeri, kecuali jika benjolan berukuran besar atau mengalami infeksi. | Biasanya terasa nyeri atau sakit ketika disentuh. |
Bentuk benjolan | Teraba sebagai benjolan bulat dengan batas jelas. | Dapat berupa pembengkakan atau area payudara yang mengeras. |
Kondisi kulit | Umumnya tidak kemerahan atau terasa panas. | Dapat terlihat kemerahan dan terasa hangat atau panas. |
Gejala penyerta | Biasanya tidak disertai gejala sistemik. | Dapat disertai demam, menggigil, dan tubuh terasa seperti sedang flu. |
Perbedaan lainnya terletak pada proses terjadinya. Galaktokel terbentuk ketika ASI tertahan di dalam saluran susu hingga membentuk kantong berisi cairan. Sementara itu, mastitis terjadi ketika peradangan menyebabkan jaringan payudara membengkak dan saluran susu semakin menyempit.
Meski berbeda, galaktokel tetap dapat mengalami komplikasi berupa infeksi. ASI yang tertahan di dalam kista dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri, terutama jika terjadi kontaminasi saat prosedur pengeluaran cairan.
Jika galaktokel mengalami infeksi, kondisi tersebut dapat memicu mastitis akut. Pada tahap ini, payudara dapat terasa nyeri, membengkak, kemerahan, dan disertai demam. Infeksi juga dapat berkembang menjadi abses payudara, yaitu kumpulan nanah di dalam jaringan payudara.
Karena itu, pemeriksaan dan tindakan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya sekaligus mencegah komplikasi.
Baca juga: Ciri Kanker Payudara pada Ibu Menyusui yang Perlu Diwaspadai!
Apakah Galaktokel Meningkatkan Risiko Kanker Payudara?
Galaktokel merupakan lesi jinak yang berisiko rendah untuk berkembang menjadi kanker payudara di kemudian hari. Dengan kata lain, galaktokel bukanlah kanker dan tidak secara langsung berkembang menjadi kanker payudara.
Namun, bukan berarti setiap benjolan yang muncul saat menyusui dapat langsung dianggap sebagai galaktokel. Beberapa kondisi lain, termasuk keganasan, juga dapat menimbulkan benjolan dengan karakteristik yang serupa.
Galaktokel bahkan dapat muncul di area ketiak jika seseorang memiliki jaringan payudara tambahan (accessory breast tissue). Jaringan ini juga dapat mengalami penyumbatan saluran susu dan membentuk galaktokel.
Menurut Abouh dkk. dalam jurnal International Journal of Surgery Case Reports, galaktokel pada jaringan payudara tambahan di ketiak dapat menyerupai pembesaran kelenjar getah bening, lipoma, atau keganasan. Karena itu, dokter bisa merekomendasikan pemeriksaan pencitraan seperti USG untuk memastikan penyebab benjolan.
Diagnosis Galaktokel
Untuk memastikan apakah benjolan disebabkan oleh galaktokel, dokter akan melakukan wawancara medis dilanjutkan dengan pemeriksaan berdasarkan riwayat kesehatan, kondisi payudara, dan hasil pemeriksaan penunjang. Beberapa metode yang dapat digunakan meliputi:
Pemeriksaan fisik. Dokter akan menanyakan riwayat kehamilan dan menyusui, kapan benjolan mulai muncul, serta apakah terdapat keluhan lain. Setelah itu, dokter memeriksa bentuk, ukuran, tekstur, dan lokasi benjolan.
- USG payudara. Pemeriksaan ultrasonografi atau USG menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambaran bagian dalam payudara. Metode ini membantu dokter melihat apakah benjolan berbentuk kista berisi cairan atau memiliki komponen padat.
- Aspirasi jarum halus (FNAB). Jika diperlukan, dokter dapat menggunakan jarum untuk mengambil cairan dari dalam benjolan. Galaktokel umumnya menghasilkan cairan berwarna putih seperti susu. Prosedur ini juga dapat membantu mengurangi ukuran benjolan yang mengganggu.
Biopsi. Pengambilan sampel jaringan tidak selalu diperlukan untuk mendiagnosis galaktokel. Namun, dokter dapat merekomendasikannya jika hasil pencitraan menunjukkan karakteristik yang tidak biasa atau masih terdapat kecurigaan terhadap kelainan lain.
Pada perempuan yang sedang menyusui dan memiliki benjolan pada payudara, USG sering menjadi pemeriksaan awal untuk melihat karakteristik benjolan. Jika hasilnya belum cukup jelas atau ditemukan tanda yang perlu diperiksa lebih lanjut, dokter dapat merekomendasikan mamografi atau MRI sesuai usia, kondisi kesehatan, dan hasil evaluasi.
Baca juga: Cara Melakukan SADARI untuk Deteksi Dini Kanker Payudara
Apakah Galaktokel Bisa Hilang Sendiri?
Ya, sebagian besar galaktokel dapat mengecil dan menghilang dengan sendirinya, terutama ketika produksi ASI mulai berkurang atau setelah masa menyusui berakhir.
Jika benjolan berukuran kecil, tidak terasa sakit, dan tidak menunjukkan tanda infeksi, dokter biasanya dapat menyarankan pemantauan terlebih dahulu. Artinya, kamu tidak selalu membutuhkan tindakan untuk mengeluarkan cairan dari dalam kista. Dokter akan mengevaluasi perubahan ukuran dan kondisi benjolan secara berkala.
Namun, galaktokel berukuran besar atau yang menimbulkan rasa tidak nyaman mungkin membutuhkan penanganan. Beberapa tindakan yang dapat direkomendasikan dokter meliputi:
Aspirasi jarum. Dokter menggunakan jarum untuk mengeluarkan ASI yang terkumpul di dalam kista. Tindakan ini dapat membantu mengecilkan benjolan sekaligus mengurangi rasa tidak nyaman.
- Pemasangan kateter drainase. Dokter memasang selang kecil untuk mengeluarkan cairan dari kista secara bertahap. Metode ini dapat dipertimbangkan jika benjolan berukuran besar atau terus terisi kembali.
Pemberian antibiotik dan drainase. Jika galaktokel mengalami infeksi, dokter dapat mengeluarkan cairan yang terinfeksi dan memberikan antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri.
Perlu diketahui bahwa aspirasi tidak selalu menghilangkan galaktokel secara permanen. Kista dapat terisi kembali jika penyumbatan saluran susu masih terjadi. Selain itu, aspirasi berulang dapat meningkatkan risiko infeksi sehingga dokter perlu mempertimbangkan pilihan penanganan lainnya.
Pada kondisi tertentu, seperti galaktokel yang sering kambuh atau tidak berhasil ditangani dengan metode sebelumnya, dokter dapat mempertimbangkan operasi. Namun, tindakan ini bukan pilihan pertama dan hanya dilakukan berdasarkan hasil evaluasi medis.
Pastikan Kondisi Payudara dengan Pemeriksaan yang Tepat
Galaktokel umumnya jinak dan bisa pulih dengan penanganan yang sesuai. Namun, benjolan di payudara tetap perlu dipastikan penyebabnya agar kamu tidak perlu menebak-nebak.
Kamu bisa memanfaatkan layanan Pemeriksaan Diagnostik di Kaiser Cancer Center. Layanan ini mencakup pencitraan diagnostik dan biopsi sesuai kebutuhan, sehingga jenis benjolan dapat dipastikan dan langkah selanjutnya bisa ditentukan dengan tepat.
Tim medis Kaiser Cancer Center akan menjelaskan setiap langkah pemeriksaan dengan jelas agar kamu merasa lebih tenang. Yuk, mulai langkah pertama untuk mendapatkan kepastian kondisi payudaramu bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.
Baca juga: Pemeriksaan Kanker Payudara: Kenali Jenis Skrining dan Kapan Dilakukannya!
Referensi
- Armata NN. Galactocele: What Is It, Signs and Symptoms, Treatment, and More [Internet]. Osmosis; 31 Mar 2026 [diakses pada 2 November 2026]. Tersedia dari: https://www.osmosis.org/answers/galactocele
- Clark J. Blocked ducts, Mastitis, Abscess, Blebs and Galactoceles [Internet]. Lowestoft and Waveney Breastfeeding Support; Feb 2026 [diakses pada 2 November 2026]. Tersedia dari: https://www.lowestoftandwaveneybreastfeeding.co.uk/blocked-ducts-mastitis-and-blebs
- Gada PB, Vadakekut ES, Bakhshi G. Galactocele [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024 Nov 25 [diakses pada 2 November 2026]. Tersedia dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK578180/
- Abouh AMA, Abouh AM, Dawood FHY, Ahmed HG. Large axillary galactocele mimicking a soft-tissue tumor in accessory breast tissue: a rare clinical entity. Int J Surg Case Rep. 2026 Jun;138(7):2549-2552. https://doi.org/10.1097/RC9.0000000000000584








