Logo

Ciri Kanker Payudara pada Ibu Menyusui yang Perlu Diwaspadai!

Penulis: Tim Kaiser Cancer Center

Bagikan:

detail image article
Diagnosis & Screening

Mungkin kamu pernah mendengar bahwa ibu menyusui memiliki risiko lebih rendah terkena kanker payudara. Namun, bukan berarti ibu menyusui terbebas 100% dari risiko tersebut. Faktanya, kanker payudara tetap bisa terjadi selama masa menyusui dan membutuhkan kewaspadaan ekstra.

Ini karena ciri kanker payudara pada ibu menyusui sering kali tersamarkan oleh perubahan hormon dan bentuk payudara selama menyusui. Selain itu, gejalanya kerap sulit dikenali karena mirip dengan keluhan gangguan menyusui biasa, seperti mastitis dan sumbatan saluran ASI.

Lantas, apa saja tanda bahaya yang wajib diwaspadai oleh ibu menyusui? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Mengenal Hubungan Kanker Payudara dan Ibu Menyusui

Secara ilmiah, aktivitas menyusui (laktasi) memang dapat menurunkan risiko kanker payudara. Studi Abraham et al. (2023) dalam jurnal Cureus menunjukkan bahwa semakin lama masa menyusui (terutama 12 bulan atau lebih), semakin rendah risiko ibu terkena kanker payudara. Efek perlindungan ini paling signifikan terlihat pada wanita pramenopause1.

Terdapat beberapa alasan medis mengapa menyusui dapat menurunkan risiko kanker payudara, meliputi:

  • Menurunkan paparan hormon estrogen: Selama menyusui, siklus haid dan ovulasi biasanya tertunda sehingga mengurangi paparan hormon estrogen secara akumulatif pada tubuh, yang berpotensi memicu pertumbuhan sel kanker.
  • Membuat sel payudara lebih kuat: Proses menyusui mendorong sel-sel payudara matang secara sempurna sehingga jaringan payudara menjadi lebih tahan terhadap perubahan abnormal.
  • Membersihkan sel rusak: Setelah menyusui, jaringan payudara akan memperbarui dirinya secara alami. Proses pergantian sel ini diduga membantu menjaga kesehatan jaringan payudara dan mengurangi kemungkinan terjadinya perubahan sel yang dapat berkembang menjadi kanker.
  • Adanya senyawa pelindung HAMLET: Kombinasi alpha-lactalbumin dan asam oleat dalam ASI mampu memicu kematian sel kanker (apoptosis) secara spesifik tanpa mengganggu sel normal.

Meskipun risiko kanker payudara secara umum menurun, bukan berarti ibu menyusui sepenuhnya terbebas dari ancaman penyakit ini. Kanker payudara yang terjadi selama masa kehamilan hingga satu tahun setelah melahirkan dikenal secara medis sebagai Pregnancy-Associated Breast Cancer (PABC).

PABC tergolong jarang terjadi. Dikutip dari studi oleh Ampatzi, A., et al. (2025) dalam Journal of Clinical Medicine, kondisi ini diperkirakan terjadi pada sekitar 1 dari 3.000 kasus kehamilan. Meski jarang, kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling sering ditemukan pada masa kehamilan dan menyumbang hingga 21% dari seluruh kasus kanker yang berkaitan dengan kehamilan2.

Inilah mengapa ibu harus tetap waspada selama masa menyusui. Mengenali perbedaan antara perubahan payudara yang normal dan tanda-tanda yang mencurigakan akan membantu ibu mengambil keputusan medis yang tepat dan lebih tenang.

Baca juga: 9 Pantangan Makanan untuk Penderita Kanker Payudara

Bagaimana Ciri Kanker Payudara pada Ibu Menyusui?

Mengenali gejala kanker payudara pada ibu menyusui merupakan langkah penting dalam upaya deteksi dini kanker payudara. Umumnya, gejala yang muncul adalah benjolan pada payudara. Namun, pada kondisi menyusui, benjolan saja bisa diartikan sebagai masalah payudara biasa.

Oleh karena itu, ibu perlu waspada jika benjolan disertai gejala berikut:

GejalaPenjelasan
BenjolanBenjolan di payudara atau ketiak terasa keras, bentuknya tidak beraturan, dan sering kali tidak terasa sakit.
Perubahan payudaraTerdapat perubahan yang tidak biasa pada bentuk atau ukuran payudara.
Perubahan kulitKulit payudara tampak memerah, gelap, mengerut, atau berlesung menyerupai tekstur kulit jeruk (peau d'orange).
Perubahan putingPuting tertarik ke dalam (retraksi), serta muncul ruam, rasa gatal, bersisik, atau luka di sekitar area puting (areola).
Cairan dari putingKeluar cairan bening (bukan ASI) atau berdarah secara tiba-tiba dari puting tanpa ditekan (terutama jika hanya terjadi pada satu sisi).
NyeriWalaupun bukan gejala utama kanker payudara, tetapi sebagian penderita dapat mengalami nyeri yang menetap dan tidak membaik.

Baca juga: Efek Samping Operasi Tumor Jinak Payudara, Apakah Bentuknya Berubah?

Mengapa Kanker Payudara pada Ibu Menyusui Sering Terlambat Didiagnosis?

PABC umumnya bersifat agresif dan sering terdiagnosis pada stadium yang lebih lanjut. Keterlambatan diagnosis ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti:

  • Gejala tertutup oleh perubahan alami payudara: Selama hamil dan menyusui, jaringan payudara secara alami mengalami perubahan akibat pengaruh hormon. Akibatnya, payudara menjadi lebih besar, mengandung lebih banyak cairan, terasa lebih padat atau kencang, serta muncul benjolan-benjolan kecil yang sebenarnya merupakan bagian normal dari proses produksi ASI3. Kondisi alami ini membuat benjolan kanker menjadi lebih sulit teraba atau terdeteksi melalui pemeriksaan mandiri biasa.
  • Kemiripan gejala dengan masalah menyusui biasa: Benjolan atau rasa tidak nyaman pada payudara ibu menyusui hampir selalu dikaitkan dengan gangguan laktasi yang jauh lebih umum terjadi, seperti mastitis atau sumbatan saluran ASI.
  • Tantangan pemeriksaan pencitraan: Peningkatan kepadatan dan sensasi berbenjol-benjol pada payudara dapat membuat evaluasi klinis maupun radiologis menjadi lebih sulit. Kepadatan jaringan payudara yang sangat tinggi pada mamografi dapat menyamarkan adanya lesi atau kanker sehingga menurunkan sensitivitas hasil pemeriksaan.

Baca juga: SADARI: Manfaat, Langkah, dan Hal yang Perlu Diperhatikan!

Penyebab Lain Benjolan pada Payudara Ibu Menyusui

Meskipun dapat menjadi tanda kanker payudara, benjolan pada payudara juga dapat disebabkan oleh kondisi medis lain yang umum dialami ibu menyusui. Berikut adalah beberapa di antaranya.

1. Engorgement

Engorgement adalah kondisi ketika payudara terasa sangat penuh, kencang, keras, hangat, dan sering kali disertai rasa nyeri atau tidak nyaman akibat penumpukan cairan, ASI, dan peningkatan aliran darah di jaringan payudara.

Kondisi ini sangat umum terjadi pada masa-masa awal menyusui, terutama ketika produksi ASI baru pertama kali keluar atau ketika jadwal menyusui maupun memompa ASI terlewat.

2. Sumbatan Saluran ASI

ASI diproduksi oleh sel payudara dan dialirkan ke puting melalui saluran kecil. Saat ASI tersumbat, misalnya karena jarang disusukan atau aliran tidak lancar, jaringan di sekitarnya akan membengkak dan membentuk benjolan yang terasa nyeri. 

Masalah ini biasanya membaik jika ibu lebih sering menyusui, melakukan pijat payudara, dan menggunakan kompres hangat.

3. Mastitis

Mastitis terjadi ketika jaringan payudara mengalami peradangan atau infeksi. Mastitis biasanya diawali oleh stasis ASI, yaitu kondisi ketika aliran ASI tidak lancar sehingga memicu peradangan pada jaringan payudara. 

Pada sebagian kasus, peradangan kemudian disertai infeksi bakteri. Kondisi ini terjadi ketika bakteri (misalnya dari mulut bayi atau kulit ibu) masuk melalui retakan pada puting. Bakteri yang terperangkap dalam saluran ASI kemudian memicu infeksi dan rasa nyeri pada payudara.

Baca juga: Terapi Target Kanker Payudara: Pengobatan yang Tepat Sasaran

4. Abses Payudara

Jika mastitis dibiarkan tanpa penanganan, kondisi ini bisa memicu komplikasi yang cukup berbahaya, yaitu abses payudara.

Pada dasarnya, abses adalah mekanisme darurat tubuh untuk mengurung infeksi agar tidak menyebar. Tubuh akan membentuk kantung khusus yang mengunci nanah dan bakteri di dalamnya. Namun, cairan infeksi ini tidak bisa keluar sendiri dan terperangkap di dalam jaringan payudara sehingga terbentuklah abses.

Abses payudara tidak bisa hilang hanya dengan dipijat atau dikompres. Oleh karena itu, ibu harus segera mencari pertolongan medis untuk mengeluarkan nanah dan mendapatkan pengobatan antibiotik.

5. Kista ASI (Galactocele)

Galactocele adalah kista jinak yang dapat muncul pada payudara selama masa menyusui akibat saluran ASI yang tersumbat. Kista ini berisi ASI sehingga ukurannya dapat membesar saat payudara penuh dan mengecil setelah menyusui atau memompa ASI. 

Umumnya, galactocele tidak menimbulkan rasa nyeri dan akan menghilang dengan sendirinya setelah masa laktasi berakhir serta produksi ASI berhenti.

Baca juga: Hasil USG Payudara Normal, Apakah Bebas dari Kanker?

Cara Membedakan Kanker Payudara dengan Mastitis

Perlu diketahui bahwa gejala mastitis sekilas sangat mirip dengan salah satu jenis kanker payudara, yakni inflammatory breast cancer (kanker payudara inflamasi). Keduanya dapat memicu kemerahan pada kulit payudara, nyeri, bengkak, serta gatal.

Meski begitu, mastitis dan kanker payudara inflamasi memiliki sejumlah perbedaan mendasar yang bisa ibu jadikan acuan. Berikut adalah cara mendeteksi kanker payudara pada ibu menyusui yang dapat dilihat melalui perbandingan karakteristik gejalanya:

Kriteria

Mastitis

Kanker Payudara Inflamasi

Gejala flu

Sering terjadi (demam, menggigil, badan pegal atau tidak fit).

Jarang atau bahkan tidak menimbulkan gejala flu.

Area kemerahan dan bengkak

Biasanya hanya mengenai satu bagian atau area tertentu pada payudara.

Kemerahan dan pembengkakan dapat meluas hingga memengaruhi sebagian besar atau seluruh payudara.

Perubahan ukuran payudara

Dapat sedikit membengkak akibat peradangan.

Payudara dapat membesar dengan cepat dalam hitungan hari atau minggu.

Perubahan kulit

Kulit tampak merah dan hangat, tetapi umumnya tidak mengalami perubahan tekstur yang khas.

Kulit memerah, menebal, dan tampak berlekuk seperti kulit jeruk (peau d'orange).

Respons terhadap antibiotik

Biasanya membaik setelah mendapatkan antibiotik yang sesuai.

Tidak membaik dengan pemberian antibiotik sehingga memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan diagnosis.

Baca juga: Penyebab Kanker Payudara Berdasarkan Jenis Faktornya!

Jangan Abaikan Perubahan pada Payudara Selama Menyusui

Sebagian besar perubahan pada payudara selama menyusui, seperti pembengkakan, saluran ASI tersumbat, atau mastitis, merupakan kondisi yang sering terjadi dan umumnya tidak berbahaya. 

Namun, bukan berarti semua benjolan atau perubahan pada payudara dapat dianggap normal. Jika kamu menemukan ciri kanker payudara pada ibu menyusui, seperti benjolan yang tidak kunjung hilang, perubahan pada kulit atau puting, maupun gejala lain yang tidak membaik meskipun telah mendapatkan pengobatan, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.

Kamu bisa melakukan konsultasi secara gratis di Kaiser Cancer Center untuk mendapatkan pemeriksaan awal dan rekomendasi Pemeriksaan Diagnostik yang sesuai. Dengan begitu, dokter dapat membantu memastikan apakah gejala yang kamu alami merupakan indikasi kanker payudara atau sekadar gangguan laktasi biasa.

Mari segera konsultasikan kondisimu untuk mendapatkan kepastian medis dan ketenangan pikiran selama masa menyusui bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.

Baca juga: Jenis Pengobatan Kanker Payudara dan Efek Sampingnya!

Referensi:

  1. Abraham, M., et al. A Narrative Review of Breastfeeding and Its Correlation With Breast Cancer: Current Understanding and Outcomes. Cureus. 2023;15(8):e44081. https://doi.org/10.7759/cureus.44081
  2. Ampatzi, A., et al. Breastfeeding During and After Breast Cancer Diagnosis—A Systematic Review of the Literature. J Clin Med. 2025;14(20):7450. https://doi.org/10.3390/jcm14207450
  3. Vashi, R., Hooley, R., Butler, R., Geisel, J., Philpotts, L. Breast Imaging of the Pregnant and Lactating Patient: Physiologic Changes and Common Benign Entities. AJR Am J Roentgenol. 2013;200(2):429-36. https://doi.org/10.2214/AJR.12.9845
  4. Marks, J. What You Should Know About Breast Cancer While Breastfeeding [Internet]. [Diakses pada 23 Juli 2026]. Diakses dari: https://www.healthline.com/health/parenting/breast-cancer-while-breastfeeding
  5. Galan, N. Is There a Link between Breastfeeding and Breast Cancer? [Internet]. [Diakses pada 23 Juli 2026]. Diakses dari: https://www.medicalnewstoday.com/articles/322004
  6. American Oncology Institute. Inflammatory Breast Cancer vs. Mastitis: How to Differentiate Between the Two [Internet]. [Diakses pada 23 Juli 2026]. Diakses dari: https://www.americanoncology.com/blogs/inflammatory-breast-cancer-vs-mastitis-how-to-differentiate-between-the-two
  7. Bevers, T. Can Breastfeeding Really Lower Your Breast Cancer Risk? [Internet]. [Diakses pada 23 Juli 2026]. Diakses dari: https://www.mdanderson.org/cancerwise/can-breastfeeding-really-lower-your-breast-cancer-risk.h00-159778023.html 
  8. Chen, Y., Jiang, P., Geng, Y. The Role of Breastfeeding in Breast Cancer Prevention: A Literature Review. Front Oncol. 2023;13:1257804. https://doi.org/10.3389/fonc.2023.1257804
  9. Mitchell, K. B., Johnson, H. M., Rodríguez, J. M., Eglash, A., Scherzinger, C., Widmer, K., et al. Academy of Breastfeeding Medicine Clinical Protocol #36: The Mastitis Spectrum, Revised 2022. Breastfeed Med. 2022;17(5):360-376. https://doi.org/10.1089/bfm.2022.29207.kbm
A doctor smiling at a patient at Kaiser Cancer Center

Tim Kaiser Siap Menemani Setiap Langkahmu

Kami percaya, setiap langkah menuju pemulihan layak mendapat dukungan terbaik. Tim Kaiser hadir untuk mendampingimu—membawa ketenangan, harapan, dan dukungan di setiap tahap perjalananmu melalui pendekatan medis berteknologi mutakhir dan berstandar global.

Dapatkan Informasi Terbaru dari Kaiser

Subscribe untuk tetap terhubung dan menerima update terbaru dari Kaiser.