World Health Organization (WHO) memperkirakan ada sekitar 694.000 kematian di seluruh dunia akibat kanker payudara pada tahun 2024. Tingginya angka ini menegaskan pentingnya deteksi dini sekaligus terapi kanker yang efektif, salah satunya melalui kemoterapi.
Kemoterapi kanker payudara adalah salah satu metode penanganan yang sering direkomendasikan dokter untuk menghentikan pertumbuhan sel abnormal. Terapi ini membantu mengecilkan tumor serta meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan.
Untuk mengetahui informasi lebih lengkap mengenai kapan kemoterapi perlu dilakukan, obat yang digunakan, durasi tindakan, hingga efek sampingnya, simak penjelasan berikut ini.
Apa Itu Kemoterapi Kanker Payudara?
Kemoterapi kanker payudara adalah metode pengobatan menggunakan obat-obatan untuk menghancurkan sel kanker atau menghambat pertumbuhannya. Karena obat kemoterapi bekerja melalui aliran darah, terapi ini dapat menjangkau sel kanker di berbagai bagian tubuh.
Terapi ini bisa diberikan sebelum atau setelah operasi, tergantung kondisi dan rencana perawatan yang disusun oleh dokter. Dokter juga dapat memilih satu jenis obat, menggabungkan beberapa obat, atau mengombinasikannya dengan metode pengobatan lain.
Kapan Kemoterapi Kanker Payudara Dilakukan?
Kemoterapi kanker payudara tidak selalu diberikan kepada setiap pasien. Dokter akan mempertimbangkan jenis kanker, stadium, ukuran tumor, status reseptor hormon dan status protein HER2, serta kondisi kesehatan pasien sebelum menentukan apakah kemoterapi diperlukan.
Secara umum, kemoterapi kanker payudara dapat dilakukan pada kondisi berikut:
1. Setelah Operasi (Kemoterapi Adjuvan)
Kemoterapi dapat diberikan setelah operasi untuk menghilangkan sel kanker yang mungkin masih tertinggal di dalam tubuh. Tujuannya adalah untuk menurunkan risiko kanker muncul kembali.
Kemoterapi adjuvan lebih sering dipertimbangkan pada kanker dengan risiko kekambuhan lebih tinggi, misalnya tumor berukuran besar, melibatkan kelenjar getah bening, memiliki karakteristik agresif, atau termasuk subtipe tertentu.
Tidak semua pasien yang telah menjalani operasi membutuhkan kemoterapi. Pada beberapa kanker payudara dengan reseptor hormon positif dan HER2 negatif, dokter dapat menggunakan pemeriksaan klinis, patologi, serta tes genomik tertentu untuk membantu menilai apakah manfaat kemoterapi cukup besar.
2. Sebelum Operasi (Kemoterapi Neoadjuvan)
Kemoterapi sebelum operasi bertujuan untuk membantu mengecilkan ukuran tumor agar tindakan pembedahan menjadi lebih mudah. Terapi ini sering dipilih untuk tumor yang besar, kanker yang sudah melibatkan banyak kelenjar getah bening, atau jenis kanker payudara yang bersifat agresif, seperti kanker payudara inflamasi dan kanker payudara triple-negative.
Pemberian kemoterapi sebelum operasi juga membantu dokter melihat seberapa baik respons tumor terhadap obat. Bahkan, studi oleh Ghasemi, F. dan Brackstone, M. (2024) dalam jurnal Current Oncology mencatat bahwa respons tumor terhadap kemoterapi neoadjuvan kini menjadi indikator krusial bagi dokter untuk menentukan strategi pengobatan lanjutan yang lebih presisi setelah operasi1.
3. Kanker Payudara Metastatik
Jika kanker sudah menyebar ke organ lain (metastasis), seperti paru-paru atau hati, kemoterapi sering kali menjadi pilihan pengobatan utama. Terapi ini dapat diberikan saat kanker payudara baru terdiagnosis atau setelah perawatan awal. Sementara durasi terapinya bergantung pada respons tubuh dan seberapa baik obat dapat mengendalikan tumor.
Baca juga: Jenis Pengobatan Kanker Payudara dan Efek Sampingnya!
Obat-Obatan Kemoterapi Kanker Payudara
Terdapat banyak pilihan obat kemoterapi kanker payudara. Pemilihannya disesuaikan dengan kondisi pasien dan tujuan pengobatan. Pada kemoterapi adjuvan dan neoadjuvan, dokter biasanya menggunakan beberapa jenis obat ini:
- Anthracycline seperti doxorubicin dan epirubicin.
- Taxane seperti paclitaxel dan docetaxel.
- 5-fluorouracil atau capecitabine.
- Cyclophosphamide.
- Carboplatin.
Sementara itu, pada kasus kanker payudara metastatik, obat yang digunakan bisa berbeda. Beberapa pilihan yang umum diberikan yaitu:
- Taxane termasuk paclitaxel, docetaxel, dan albumin-bound paclitaxel.
- Anthracycline seperti doxorubicin, liposomal doxorubicin, dan epirubicin.
- Platinum agent seperti cisplatin atau carboplatin.
- Capecitabine.
Selain kemoterapi konvensional, terdapat obat yang disebut antibody-drug conjugate (ADC), seperti ado-trastuzumab emtansine, fam-trastuzumab deruxtecan, dan sacituzumab govitecan. Obat ini menggunakan antibodi untuk mengantarkan zat antikanker langsung ke sel kanker yang memiliki target tertentu.
Baca juga: Hasil Biopsi Berapa Lama? Ini Estimasi Waktu dan Penjelasannya
Berapa Lama Proses Kemoterapi Kanker Payudara?
Durasi kemoterapi kanker payudara bergantung pada rencana perawatan yang ditetapkan oleh dokter. Umumnya, durasi kemoterapi kanker payudara stadium awal berlangsung antara tiga hingga enam bulan. Namun, jika kanker sudah memasuki stadium lebih lanjut atau telah menyebar, terapi dapat berlangsung lebih lama.
Adapun prosedur kemoterapi umumnya diberikan dalam bentuk siklus, di mana satu siklus terdiri dari satu atau beberapa sesi pemberian obat. Jadwalnya pun bervariasi, mulai dari seminggu sekali, dua minggu sekali, hingga setiap tiga sampai empat minggu. Setelah satu siklus selesai, tubuh diberi waktu untuk pulih sebelum masuk ke siklus berikutnya.
Lantas, berapa jam kemoterapi kanker payudara? Prosesnya bisa berlangsung hingga beberapa jam untuk setiap sesi. Karena prosesnya yang cukup lama, kondisi mental dan fisik yang rileks akan sangat mendukung kenyamanan pasien selama prosedur berlangsung.
Baca juga: Mengenal Terapi Kanker: Perbedaan Kemoterapi, Terapi Target, dan Imunoterapi
Bagaimana Prosedur Kemoterapi Kanker Payudara?
Prosedur kemoterapi umumnya mengikuti beberapa tahapan utama, mulai dari persiapan awal hingga pemulihan setelah tindakan. Berikut adalah gambaran umum prosedurnya:
Pemeriksaan dan persiapan kemoterapi kanker payudara.
Dokter melakukan tes darah lengkap, uji fungsi organ (seperti hati, ginjal, dan jantung), serta memasang akses vena (seperti infus atau chemoport) untuk memastikan kondisi tubuh siap menerima obat.
Pemberian obat kemoterapi.
Obat diberikan secara berkala melalui infus pembuluh darah (intravena) di rumah sakit atau dalam bentuk pil minum yang dikonsumsi di rumah sesuai petunjuk medis.
Pemantauan dan pengelolaan efek samping.
Tim medis akan terus memantau respons tubuh serta memberikan obat tambahan (seperti antimual atau obat alergi) guna meredakan efek samping yang timbul selama masa perawatan.
Masa pemulihan dan pemantauan
Setelah satu sesi selesai, pasien memasuki masa pemulihan sebelum siklus berikutnya. Dokter dapat menyesuaikan dosis, menunda jadwal, atau mengganti obat jika hasil pemeriksaan darah belum memenuhi syarat atau efek samping terlalu berat.
Baca juga: Apa Itu Perawatan Paliatif? Inilah Perannya dalam Pengobatan Kanker
Risiko Efek Samping Kemoterapi Kanker Payudara
Sebagian besar efek samping kemoterapi bersifat sementara dan mereda setelah pengobatan selesai, tetapi bisa juga berlangsung dalam jangka panjang.
1. Efek Samping Jangka Pendek
Obat kemoterapi menargetkan seluruh sel yang membelah dengan cepat. Akibatnya, sel sehat yang membelah dengan cepat juga bisa ikut terdampak, seperti sel rambut, sumsum tulang, dan saluran pencernaan.
Sebagian besar efek sampingnya akan mereda setelah terapi selesai. Beberapa contoh efek samping jangka pendek yang sering muncul antara lain:
- Rambut rontok.
- Mudah lelah.
- Nafsu makan menurun.
- Mual dan muntah.
- Konstipasi atau diare.
- Sariawan.
- Perubahan pada kulit dan kuku.
- Risiko infeksi meningkat akibat turunnya sel darah putih.
- Saraf terasa nyeri atau kebas.
Gangguan konsentrasi dan ingatan (chemo brain).
2. Efek Samping Jangka Panjang
Beberapa jenis obat kemoterapi kanker payudara dapat memicu efek samping yang bertahan lama, atau bahkan bersifat permanen. Beberapa contoh keluhan jangka panjang yang mungkin terjadi antara lain:
- Gangguan kesuburan: Menstruasi tidak teratur atau berhenti, hingga meningkatnya risiko menopause dini.
- Penurunan kepadatan tulang: Risiko osteopenia atau osteoporosis dapat meningkat, terutama jika kemoterapi menyebabkan menopause dini atau pasien juga menjalani terapi hormon tertentu.
- Masalah jantung: Beberapa obat kemoterapi memiliki risiko melemahkan fungsi otot jantung atau memicu gangguan lain.
- Gangguan saraf tepi: Kesemutan, kebas, atau nyeri pada tangan dan kaki dapat bertahan setelah terapi selesai.
Risiko kanker darah sekunder: Kemoterapi dapat meningkatkan risiko munculnya kanker darah beberapa tahun setelah pengobatan selesai.
Walaupun efek samping jangka panjang ini terdengar mengkhawatirkan, perlu diingat bahwa tidak semua pasien akan mengalaminya. Dokter akan senantiasa memantau kondisi kesehatan pasien secara berkala dan menyesuaikan dosis atau jenis obat untuk menekan risiko-risiko tersebut seminimal mungkin.
Baca juga: Ciri Kanker Payudara pada Ibu Menyusui yang Perlu Diwaspadai!
Menjalani Kemoterapi Kanker Payudara dengan Pendampingan yang Tepat
Kemoterapi kanker payudara merupakan bagian penting dalam penanganan kanker yang perlu disesuaikan dengan jenis, stadium, serta kondisi setiap pasien. Oleh karena itu, proses kemoterapi dan pemantauan selama pengobatan sebaiknya dilakukan oleh tim medis yang berpengalaman agar terapi dapat memberikan hasil yang optimal.
Di Kaiser Cancer Center, pasien dapat menjalani Kemoterapi yang didukung oleh tim multidisiplin serta jaringan kolaborasi onkologi internasional. Melalui ekosistem ini, pasien di Indonesia memiliki akses terhadap pertimbangan medis dari pusat-pusat kanker terkemuka di Asia dan Eropa.
Jika kamu atau orang terdekat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai kemoterapi kanker payudara, jangan ragu untuk berkonsultasi secara gratis dengan dokter di Kaiser Cancer Center guna memperoleh rencana pengobatan yang sesuai dengan kebutuhanmu.
Mari wujudkan perawatan kanker yang optimal untuk kualitas hidup yang lebih baik bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.
Baca juga: Manajemen Nyeri Kanker: Dukungan Penting bagi Pejuang Kanker
Referensi:
- Ghasemi, F., Brackstone, M. The Impact of Neoadjuvant versus Adjuvant Chemotherapy on Survival Outcomes in Locally Advanced Breast Cancer. Curr Oncol. 2024;31(10):6007–16. https://doi.org/10.3390/curroncol31100448
- World Health Organization. Breast Cancer [Internet]. [Diakses pada 22 Juli 2026]. Diakses dari: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/breast-cancer
- Mayo Clinic. Chemotherapy for Breast Cancer [Internet]. [Diakses pada 22 Juli 2026]. Diakses dari: https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/chemotherapy-for-breast-cancer/about/pac-20384931
- American Cancer Society. Chemotherapy for Breast Cancer [Internet]. [Diakses pada 22 Juli 2026]. Diakses dari: https://www.cancer.org/cancer/types/breast-cancer/treatment/chemotherapy-for-breast-cancer.html
- Cleveland Clinic. Chemotherapy for Breast Cancer [Internet]. [Diakses pada 22 Juli 2026]. Diakses dari: https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/8340-chemotherapy-for-breast-cancer
- Cancer Research UK. Chemotherapy for Breast Cancer [Internet]. [Diakses pada 22 Juli 2026]. Diakses dari: https://www.cancerresearchuk.org/about-cancer/breast-cancer/treatment/chemotherapy#OnThisPage-container








