Logo

Terapi Hormon Kanker Payudara: Inilah Manfaat dan Cara Kerjanya

Penulis: Tim Kaiser Cancer Center

Bagikan:

Ditinjau oleh

D

Dokter.

detail image article
Treatment

Tahukah kamu bahwa hormon tertentu dalam tubuh dapat memengaruhi pertumbuhan beberapa jenis kanker payudara? Pada sebagian besar kasus, sel kanker payudara memiliki reseptor terhadap hormon estrogen dan/atau progesteron sehingga pertumbuhannya dapat dirangsang oleh hormon tersebut.

Hormon alami yang sejatinya berfungsi menjaga sistem reproduksi ini justru dimanfaatkan oleh sel ganas sebagai "bahan bakar" utama untuk membelah diri. Di sinilah terapi hormon kanker payudara berperan untuk menghambat produksi hormon tersebut sehingga pertumbuhan sel kanker payudara dapat dihentikan.

Lantas, bagaimana terapi kanker ini bekerja, siapa saja yang membutuhkannya, dan apa saja risiko efek samping yang perlu diwaspadai? Simak penjelasannya berikut ini.

Apa Itu Terapi Hormon untuk Kanker Payudara?

Terapi hormon adalah salah satu jenis pengobatan kanker payudara yang bertujuan untuk menghentikan atau menghambat produksi hormon estrogen dan progesteron. Pengobatan ini diberikan kepada penderita kanker payudara dengan reseptor hormon positif (HR+), di mana sel kanker memiliki reseptor hormon estrogen dan/atau progesteron.

Keberadaan reseptor ini memungkinkan hormon tersebut untuk menempel dan memicu sel kanker tumbuh, membelah, dan menyebar dengan lebih cepat. Oleh karena itu, terapi hormon diperlukan untuk mengurangi produksi hormon, memblokir kerja hormon pada reseptornya, atau menurunkan aktivitas reseptor hormon sehingga sel kanker tidak lagi memiliki “bahan bakar” untuk terus berkembang.

Siapa yang Membutuhkan Terapi Hormon Kanker Payudara?

Perlu diketahui bahwa tidak semua penderita kanker payudara membutuhkan terapi hormon. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, terapi ini diberikan kepada pasien kanker payudara HR+ dengan tingkat prevalensi sekitar 70% hingga 80%.

Artinya, sekitar 20% hingga 30% penderita kanker payudara tidak mengekspresikan reseptor hormon estrogen maupun progesteron sehingga tidak akan mendapatkan manfaat dari terapi hormon. Itulah sebabnya pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan imunohistokimia (IHK), diperlukan untuk mengetahui subtipe kanker payudara yang diderita dan memutuskan pengobatan yang sesuai.

Bagaimana Cara Kerja Terapi Hormon Kanker Payudara?

Obat-obatan terapi hormon kanker payudara bekerja melalui beberapa mekanisme yang berbeda, seperti berikut ini:

  • Menghalangi hormon untuk menempel pada reseptor. Akibatnya, pertumbuhan sel kanker terhambat hingga akhirnya mati. Beberapa contoh obatnya adalah tamoxifen, toremifene, dan fulvestrant.
  • Menekan fungsi ovarium pada wanita  sebelum memasuki masa menopause (premenopause). Pendekatan ini dapat dilakukan melalui pemberian obat-obatan yang mencegah ovarium memproduksi hormon estrogen dan progesteron (seperti goserelin dan leuprolide), operasi pengangkatan ovarium, atau radioterapi yang diarahkan pada ovarium (meskipun lebih jarang dilakukan). Biasanya penekanan fungsi ovarium disertai dengan terapi hormon lain.
  • Menghambat pembentukan estrogen pada wanita setelah menopause (postmenopause). Meskipun sudah memasuki masa menopause, tubuh masih menghasilkan sedikit estrogen di jaringan tubuh lain. Untuk menghambat proses pembentukan hormon sisa ini, dokter biasanya akan memberikan obat jenis aromatase inhibitor, seperti anastrozole, exemestane, dan letrozole.

Baca juga: Kemoterapi Kanker Payudara: Prosedur & Risiko Efek Samping

Jenis-Jenis Terapi Hormon untuk Kanker Payudara

Terdapat beberapa jenis terapi hormonal kanker payudara yang dapat diberikan kepada pasien, dengan mempertimbangkan beberapa faktor, seperti risiko kekambuhan dan status menopause pasien. Berikut adalah beberapa jenis terapi hormon kanker payudara yang sering digunakan.

1. Selective Estrogen Receptor Modulators (SERM)

Jenis terapi SERM bekerja dengan menempel pada reseptor estrogen sehingga estrogen tidak dapat mengaktifkan sinyal yang mendorong pertumbuhan sel kanker payudara. SERM yang sering digunakan di antaranya adalah tamoxifen dan raloxifene. Tamoxifen adalah salah satu obat yang paling sering diberikan untuk menangani kondisi berikut:

  • Kanker payudara pada wanita premenopause dan postmenopause, meskipun lebih sering diberikan kepada wanita yang belum mengalami menopause.

  • Wanita dengan risiko kanker payudara yang tinggi.
  • Kanker payudara invasif dengan reseptor hormon positif yang telah menjalani lumpektomi maupun mastektomiLangkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko kekambuhan.
  • Kanker payudara HR+ yang telah menyebar (metastasis).

2. Selective Estrogen Receptor Degraders (SERD)

SERD juga bekerja dengan mengikat reseptor estrogen, tetapi lebih kuat daripada SERM dan menyebabkan reseptor tersebut tidak aktif dan hancur. Umumnya, jenis terapi hormon ini digunakan untuk wanita postmenopause dengan kanker payudara stadium lanjut atau metastatik. Contoh SERD yang sering digunakan adalah fulvestrant dan elacestrant.

3. Inhibitor Aromatase

Inhibitor aromatase (aromatase inhibitors/AI) adalah obat terapi hormon yang bekerja dengan menghambat enzim aromatase, yaitu enzim yang membantu membentuk estrogen dari hormon androgen di jaringan tubuh, terutama jaringan lemak. Pada wanita yang sudah menopause, produksi estrogen dari ovarium menurun sangat besar sehingga sumber estrogen utama berasal dari proses ini. 

Obat AI bertugas melumpuhkan enzim tersebut agar tidak bisa memproduksi estrogen sehingga kadar hormon dalam tubuh turun drastis dan pertumbuhan sel kanker yang membutuhkan estrogen pun terhenti. 

Contohnya, anastrozole dan letrozole adalah obat berbentuk tablet yang umumnya ditujukan bagi wanita menopause. Namun, jika ingin diberikan kepada wanita premenopause, dokter harus terlebih dahulu melakukan tindakan medis khusus untuk menghentikan fungsi ovariumnya secara total.

4. Ovarian Suppression Therapy

Pada wanita premenopause, ovarium merupakan sumber utama hormon estrogen. Oleh karena itu, pengobatan bisa difokuskan untuk menghentikan ovarium memproduksi estrogen. Terapi ini bisa diberikan melalui obat-obatan (seperti tamoxifen atau AI), operasi pengangkatan ovarium (oophorectomy), maupun terapi radiasi.

Seberapa Efektif Terapi Hormon Kanker Payudara?

Secara keseluruhan, terapi hormon terbukti efektif untuk menangani kanker payudara. Hal ini sejalan dengan hasil studi oleh Burciu OM, Merce AG, dkk. (2025) dalam jurnal Medicina yang menegaskan bahwa terapi endokrin (hormon) dapat membantu menurunkan risiko kekambuhan. Namun, tingkat efektivitasnya tergantung pada status menopause dan tingkat risiko kekambuhan pasien.

Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk memberikan terapi hormon, dokter akan menilai kondisi pasien secara mendalam dengan mempertimbangkan faktor-faktor krusial yang dapat memengaruhi efektivitas pengobatan.

Baca juga: Terapi Target Kanker Payudara: Keunggulan dan Efek Sampingnya

Risiko Efek Samping Terapi Hormon

Risiko efek samping terapi hormon dapat bervariasi, tergantung pada jenis obat yang digunakan dan status menopause pasien. Secara umum, efek samping ini terjadi karena adanya perubahan tingkat hormon estrogen dan progesteron yang signifikan sehingga dapat memengaruhi berbagai sistem tubuh, salah satunya adalah sistem reproduksi.

Berikut adalah beberapa efek samping yang dapat ditimbulkan oleh obat tamoxifen dan aromatase inhibitors:

Jenis Obat Terapi Hormon

Risiko Efek Samping Umum

Risiko Efek Samping Serius (Jarang Terjadi)

Tamoxifen

  • Hot flashes (sensasi panas yang muncul tiba-tiba pada wajah/tubuh).
  • Keringat malam.
  • Keputihan.
  • Siklus menstruasi yang tidak teratur pada wanita premenopause.
  • Kelelahan.
  • Gumpalan darah di dalam pembuluh darah vena (trombosis vena).

  • Katarak.

  • Kanker rahim/endometrium.

  • Stroke.

Aromatase Inhibitors

  • Nyeri otot dan sendi.

  • Hot flashes.

  • Keringat malam.

  • Vagina kering atau iritasi.

  • Kelelahan.

  • Risiko impotensi pada pria dengan kanker payudara.

  • Penyakit jantung.

  • Pengeroposan tulang.

Kenali Pilihan Terapi Hormon yang Tepat Untukmu

Terapi hormon merupakan salah satu pilihan pengobatan yang penting bagi pasien kanker payudara dengan reseptor hormon positif. Namun, jenis dan durasi terapi hormon tidak dapat disamakan untuk setiap pasien. 

Dokter akan mempertimbangkan status menopause, karakteristik tumor, tingkat risiko kekambuhan, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan sebelum menentukan terapi yang paling sesuai.

Oleh karena itu, konsultasi dengan dokter penting dilakukan agar pilihan pengobatan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Kaiser Cancer Center menghadirkan layanan Terapi Hormon yang didukung oleh tim multidisiplin dari berbagai ahli spesialis untuk memberikan perawatan yang komprehensif, terukur, dan personal.

Kamu bisa melakukan konsultasi gratis terlebih dahulu untuk mendiskusikan kondisi kesehatan atau pilihan terapi yang tepat untukmu. Jadi, mari ketahui pilihan terapi yang paling sesuai untuk mendukung pemulihan yang optimal bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.

Baca juga: Apakah Kanker Payudara Bisa Sembuh Tanpa Operasi? Ini Penjelasannya

Referensi:

  1. Burciu OM, Merce AG, Cerbu S, Iancu A, Popoiu TA, Cobec IM, Sas I, Dimofte GM. Current Endocrine Therapy in Hormone-Receptor-Positive Breast Cancer: From Tumor Biology to the Rationale for Therapeutic Tunning. Medicina (Kaunas). 2025;61(7):1280. https://doi.org/10.3390/medicina61071280
  2. Kass E. What Is Hormone Therapy for Breast Cancer? [Internet]. [Diakses pada 19 Agustus 2026]. Diakses dari: https://www.bcrf.org/about-breast-cancer/hormone-therapy-breast-cancer/ 
  3. Mayo Clinic. Hormone Therapy for Breast Cancer [Internet]. [Diakses pada 19 Agustus 2026]. Diakses dari:  https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/hormone-therapy-for-breast-cancer/about/pac-20384943
  4. National Cancer Institute. Hormone Therapy for Breast Cancer [Internet]. [Diakses pada 19 Agustus 2026]. Diakses dari: https://www.cancer.gov/types/breast/treatment/hormone-therapy
  5. Wendler R. How Does Hormone Therapy for Breast Cancer Work? [Internet]. [Diakses pada 19 Agustus 2026]. Diakses dari: https://www.mdanderson.org/cancerwise/what-is-hormone-therapy-for-breast-cancer.h00-159542112.html
  6. Carli D. Hormone Receptor-Positive Breast Cancer: Why Your HR Status Matters for Treatment Decisions [Internet]. [Diakses pada 19 Agustus 2026]. Diakses dari: https://www.komen.org/blog/know-more-hr-positive-breast-cancer/ 

Artikel Terkait

A doctor smiling at a patient at Kaiser Cancer Center

Tim Kaiser Siap Menemani Setiap Langkahmu

Kami percaya, setiap langkah menuju pemulihan layak mendapat dukungan terbaik. Tim Kaiser hadir untuk mendampingimu—membawa ketenangan, harapan, dan dukungan di setiap tahap perjalananmu melalui pendekatan medis berteknologi mutakhir dan berstandar global.

Dapatkan Informasi Terbaru dari Kaiser

Subscribe untuk tetap terhubung dan menerima update terbaru dari Kaiser.